PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Sikap Dingin Julian


__ADS_3

Di saat pikiran Julian berkelana kemana mana, ponselny berdering tanda ada chat masuk. Julian langsung meraih ponselnya yang ada di sisi kanannya. Kening Julian berkerut saat membaca pesan masuk.


"Julian, Sayang, aku mencintaimu."


"Jul, ada salam dari cowok belok desa sebelah. Salam sayang katanya."


Julian langsung memblokir nomer tersebut dan menghapus isi chatnya. Entah itu nomer ponsel keberapa yang sudah Julian blokir. Kesal, sudah pasti. Dia sering mendapat pesan chat dari nomer asing baik yang menyatakan cinta maupun yang menghina. Bukan hanya dari wanita tapi juga dari orang orang tidak jelas yang mengira kalau Julian adalah cowok belok.


Sebagai laki laki, memang hidup Julian terlalu lurus. Tidak merokok, tidak suka pacaran, tidsak suka mabuk, tidak suka nonton film dewasa. Bahkan tidak pernah melakukan perbuatan yang diluar batas. Hal itu dia lakukan karena dia sadar, Julian hanya hidup dengan seorang ibu. Julian takut Ibunya akan dicap buruk kalau dia melakukan perbuatan yang bisa membuat malu keluarganya, terutama sang ibu.


Julian tidak pernah merasa keberatan jika dirinya yang dipandang buruk. Bagi Julian, ibunya adalah yang paling utama. Meski kadang dia juga menjadi anak bandel dan membuat kesal sang ibu. Tapi semua kenakalan Julian masih ada batas wajarnya. Rasa kantuk pun akhirnya datang dan Julian terlelap dengan tenang.


Hingga saat subuh menjelang.


"Jul! Bangun udah subuh!" teriak Bu sukma sambil mengetuk pintu kamar anaknya beberapa kali. "Jul!"


"Iya, Bu." sahut Julian dengan suara khas bangun tidurnya. Dengan malas Julian langsung bangkit dan duduk sembari melihat jam di layar ponselnya. Pukul empat lebih lima belas menit, tapi adzan subuh sudah terdengar berkumandang. Julian lantas bergegas keluar kamar.

__ADS_1


Hingga waktu berlalu, setelah kegiatan subuh selesai, seperti biasa, Julian bersiap diri untuk ke pasar guna belanja keperluan dagangnya. Setiap subuh, hampir semua orang yang ada di rumah Julian memang sudah bangun kecuali si kembar Dana dan Dini. Maklum masih lima tahun jadi orang tua membiarkan mereka terlelap sampai saatnya mereka bangun nanti.


"Julian pergi ke pasar dulu, Bu," pamit Julian.


"Ya, hati hati," jawab sang ibu. "Jangan lupa titipan bibi."


"Ya!" seru Julian. Setelah mengucap salam, Julian pun melajukan motornya menuju ke pasar.


Pasar sudah sangat terlihat ramai meski langit masih agak gelap. Pasar itu memang sudah ramai sejak tengah malam. Banyak pedagang eceran atau pedagang lainnya memilih waktu sebelum subuh untuk berbelanja.


Setelah motor terparkir di tempat biasa. Julian langsung menenteng kantung yang biasa dia gunakan untuk membawa barang belanjaannya. Tempat pertama yang Julian tuju adalah tempat penjualan ikan tenggiri giling untuk campuran batagor dan siomay. Setelah itu dia beralih ke tempat lainnya membeli semua bahan yang dia butuhkan.


"Tolong, aku beli sayap sama paha ayamnya satu kilo," ucap Julian dengan wajah datar tanpa mau menyapa balik wanita yang dia kenal itu.


Wanita itu hanya mengangguk. Dari wajahnya jelas sekali kalau dia terlihat kecewa dengan sikap Julian. Wanita itu melayani permintaan Julian dengan cekatan. Setelah sesuai dengan takaran, dia langsung menyerahkan pesanan Julian yang sudah dimasukkan ke dalam kantung plastik.


"Berapa?" tanya Julian dingin.

__ADS_1


"Tiga puluh empat ribu," jawab wanita itu tak kalah dinginnya.


Julian menyerahkan sejumlah uang yang disebutkan penjual ayam. Setelah mengucapkan terimaksih tanpa memandang wajah si penjual, Julian langsung saja pergi. Wanita itu menatap nanar kepergian pria yang dia sukai itu.


"Sombong, ya, Nam. Mentang mentang ganteng."


Wanita pedagang ayam bernama Namira lantas menoleh ke arah temannya yang sesama pedagang juga mengenal Julian.


Namira tersenyum kecut. "Mungkin dia malu karena aku hanya anak penjual ayam potong. Jadi dia bersikap kayak gitu."


"Emangnya dia siapa? Anak presiden? Dia sendiri aja asal usulnya nggak jelas. Belagu amat."


Namira malah tersenyum melihat rekan sesama pedagangnya. "Biarin aja lah. Mungkin memang sudah sifat dia kayak gitu."


Teman Namira mencebikkan bibirnya lalu dia kembali duduk di lapaknya. "Jangan sampai kamu sama cowok modelan kayak gitu, Nam. Yang ada kamu makan hati terus nanti. "


Senyum Namira malah melebar. Dari kepala, dia hanya menggangguk, tapi dari dalam hati, Namira justru semakin penasaran karena sikap Julian yang terlalu dingin dan cuek.

__ADS_1


"Apa benar, kalau Julian belok? Apa mungkin sikapnya seperti itu karena dia tidak menyukai lawan jenis?"


...@@@@@@...


__ADS_2