PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Sebuah Kejutan


__ADS_3

"Aku tuh kesini mau ngasih kejutan untuk Om."


"Kejutan? Kejutan apa?"


"Om tahu nggak dia siapa?" tanya Ciripa sambil menunjuk ke arah anak muda itu. Alonso hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. "Dia itu, Julian, putra Om Alonso."


Kening Alonso langsung berkerut. Ditatapnya pemuda yang katanya bernama Julian. Pemuda itu pun membalas tatapan Alonso dengan mata yang sendu. Sedangkan Ciripa terus tersenyum dengan perasaan senang. Dia merasa usahanya kali ini telah berhasil. Sekarang Ciripa kembali melancarkan rencana yang lainnnya.


"Julian," panggil Ciripa dengan wajah sendu. "Dialah Daddy kamu. Daddy yang selama ini mencari kamu kemana mana. Sambutlah dia, Julian. Kenapa kamu diam?"


Pemuda yang dipanggil Julian memandang dua wajah dihadapanya satu persatu seperti orang bingung. Kemudian mulutnya bergetar dan bersuara, "Daddy," Pemuda itu memanggil sembari bangkit dan beranjak ke arah Alonso.


"Berhenti!" titah Alonso saat Julian palsu hendak mendekatinya. Tentu saja tindakan Alonso sangat mengejutkan Ciripa dan pemuda itu.


"Kenapa, Om? Apa Om nggak ingin memeluk anak Om? Atau Om nggak percaya kalau itu Julian?" cecar Ciripa. Sepertinya dia tahu, hal ini akan terjadi, lalu dia mengalihkan pandangannya ke arah Julian palsu. "Julian, tunjukan foto ibumu."


Julian lantas mengangguk, lalu dia merogoh saku bajunya dan mengambil selembar foto kemudian dia serahkan kepada Ciripa.


"Lihat! Bukankah ini foto istri Om?"


Alonso memandang foto yang disodorkan Ciripa. Benar saja,itu adalah foto istrinya saat masih bersamanya. Ternnyata benar, Ciripa mengambil foto itu di kamarnya. Alonso meraih foto itu dan menatap lekat lekat wajah yang sangat dia rindukan.

__ADS_1


"Benar kan, Om? Aku tuh nggak bohong. Dia Julian, putra Om yang selama ini Om cari," ucap Ciripa dengan sangat antusias.


Alonso tersenyum dengan mata yang terus menatap foto istrinya, sedangkan Ciripa ikut tersenyum karena merasa Alonso percaya dengan semuanya.


"Ini memang foto istriku, Ciripa," ucap Alonso yang membuat senyum Ciripa semakin melebar. "Tapi dia bukan anakku."


Deg!


Senyum Ciripa langsung sirna begitu saja. Wajahnya terlihat begitu terkejut. "Apa maksud, Om?"


Alonso menatap tajam wanita disebelahnya. "Apa kamu kurang mendengar dengan jelas apa yang aku katakan. Oke! Biar aku ulangi. Dia bukan anak saya!"


Melihat Ciripa masih bersikukuh, senyum miring Alonso sontak tercetak dengan jelas. "Permainan kamu kurang cerdas, Ciripa. Julian tidak pernah memanggilku Daddy dan Julian tidak bisa memakai bahasa Italia, paham?"


Keduanya langsung terparangah. "Bagaimana Om tahu hal itu? Julian memanggil Daddy itu karena aku yang nyuruh. Dia bisa bahasa Italia juga aku yang ngajarin," dusta Ciripa. Otaknya benar benar langsung berpikir cepat mencari alasan untuk menyempurnakan kebohongannya.


Alonso kembali tersenyum meremehkan. "Bagaimana kalau tes DNA?"


Kali ini Ciripa langsung mati gaya. Dia tidak berpikir jauh ke arah sana. Karena menurutnya, hanya dengan selembar foto sudah cukup menjadi bukti kuat. Nyatanya, Ciripa langsung kalah telak tak berkutik karena rencana yang kurang sempurna. Alonso langsung melenggang masuk tanpa peduli dengan dua orang yang terbungkam dengan tatapan kalah.


Sedangkan di hari berikutnya, Julian nampak sedang mengatur halaman rumah barunya dengan berbagai tanaman hias. Sebenarnya bukan Julian yang mengaturnya. Pria itu hanya duduk manis sambil menikmati segelas kopi. Sedangkan yang mengatur halaman adalah ketiga istirnya. Karena ada dua rumah, jadi halaman yang Julian miliki cukup luas.

__ADS_1


Di saat mereka sedang asyik dengan kegiatan masing masing, Julian melihat pria yang beberapa hari lalu memakinya. Pria itu baru saja masuk ke area perumahan dengan tatapan bengis ka arah Julian. Kening Julian berkerut, saat pria itu menghentikan laju motor di depan rumah Julian.


"Pedagang batagor, mampu beli rumah disini? Nggak salah?" Ejek pria paru baya itu. "Pantes aja ngebet nikah sama Mirna, biar dikira sederajat gitu? Jangan mimpi deh, Jul. Kamu bukan level saya!"


"Lagian yang mau sama anak Bapak siapa? Bukankah anak Bapak yang ngejar suami kita?" ucap Kamila lantang, begitu mendengar suaminya dihina. Tentu saja ketiga istri Julian tidak terima. Kamila dan Namira langsung maju sedangkan Safira mendekat ke arah Julian untuk menahan suaminya agar bisa menahan emosi.


"Cih! Kalian itu benar benar wanita yang bodoh. Mau maunya dibohongi dan dipoligami. Apa kalian memang senang hidup susah? Dasar mental miskin."


Julian dan istrinya benar benar semakin dibuat geram. Kedua istri Julian hendak menyerang orang itu dengan mulutnya. Namun saat mereka akan bersuara, sebuah mobil berhenti tepat di hadapan rumah Julian. Sontak semua mata langsung menatap orang yang baru turun dari mobil.


"Permisi," sapa orang itu.


"Iya, ada apa, Mas?" tanya Namira.


"Apa benar ini rumahnya Julian Alonso Darwin?"


"Benar, saya Julian, ada perlu apa ya, Mas?"


"Saya cuma mau menyampaikan kalau Bapak Julian disuruh ke showroom mobil saya, untuk memilih mobil yang paling mahal sesuai selera Bapak."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2