
Pagi harinya Julian lewati dengan penuh suka cita. Memiliki tiga istri yang akur, nyatanya menjadi kenikmatan tersendiri bagi pria itu. Meskti tidak mudah, namun Julian sangat menikmati perannya sebagai suami dan sebagai kepala rumah tangga.
Seperti biasa, di setiap menikmati hidangan di meja makan bersama, selalu akan ada obrolan yang seru tercipta dikalangan semua orang yang berkeluarga. Acara makan bersama, kadang juga menjadi ajang untuk berbincang berbagai topik pembahasan. Sama seperti yang sedang Julian lakukan saat ini bersama tiga istrinya.
"Kemungkinan hari ini gerobagnya bakalan datang, Dek. Kalian sudah mempersiapkan apa saja?" tanya Julian di sela sela menikmati sarapannya.
"Ya belum banyak sih, Mas. Ini saja kita belum pesan meja," ucap Namira, lalu dia menatap kedua istri Julian yang lain. "Kita jadi pake lesehan kan?"
"Ya jadi dong, biar kelihatan santai," jawab Kamila."
"Terus kenapa kalian belum pesen meja? Kenapa nggak ngomong sama Mas?"
"Hehehe ... lupa, Mas. Lagian Mas Jul juga sibuk mulu."
"Ya ampun sibuk apa sih, Dek. Orang tiap hari seringnya di rumah. Ya udah nanti Mas panggil tukang buat pesen meja."
Ketiga istri Julian langsung bisa bernafas lega. Untuk urusan lainya, para istri memang sudah mempersiapkannya. Jadi tinggal mencari tambahan saja untuk kekurangannya. Di saat sedang asyik ngobrol, telfon Julian berdering. Awalnya Julian mengabaikannya, namun karena berdering terus menerus, mau tidak mau Julian beranjak dari tempat suduknya san meraih ponsel yang ada di meja ruang tamu.
Karena acara sarapannya sudah selesai, ketiga istri Julian langsung membereskan meja makan hingga bener bener rapi dan bersih, baru kemudian mereka bergabung bersama suami mereka. Dari balasan yang terlontar lewat mulut Julian, para istri yakin pasti telfon itu membahas tentang jualan.
"Siapa, Mas?" tanya Safira begitu Julian mengakhiri telfonnya.
"Nggak tahu, cewek. Mau booking siomay katanya buat hajatan."
"Cewek? Nanti jangan jangan temannya Reynan lagi kayak kemarin."
__ADS_1
"Makanya, Dek, Mas nggak terlalu serius nanggapinnya. Mas nyuruh dia datang dulu."
"Jawabannya gimana?"
"Ya katanya sih mau datang. Tunggu kabar aja lah. Mas agak trauma gara gara menerima pesanan malah apes mulu."
Ketiga istri Julian langsung tersenyum. Pada kenyataannya memang begitu, dua kali Julian mendapat pesanan, malah dia mendapat kejadian yang tidak terduga. Salah satunya adalah pesanan yang berakhir tragedi dan menjadikan Julian memiliki tiga istri.
Masih dipagi yang sama tapi di tempat yang berbeda, tepatnya di kediaman orang tua Reynan. Mereka juga sedang terlibat pembicaraan yang cukup serius sambil menikmati sarapannya.
"Gimana, Rey? Mirna cantik, kan?" tanya Mamahnya Reynan.
"Lumayan, Mah," jawab Reynan singkat. "Ternyata Om Rastam tetanggaan sama Julian ya, Pah?"
"Julian yang mau laporin Rey ke polisi, Mah."
"Loh, kok bisa?" Sang Mamah nampak terkejut. "Kenapa Papah nggak bilang sih, Pah? Kalau tahu deket semalam, kita pasti sudah melabraknya."
Suryo tersenyum tipis. "Nggak perlu, Mah. Jangan kotori mulut dan tangan kita untuk orang miskin kayak mereka. Biarkan saja orang lain yang bergerak. Kita duduk santai aja."
"Maksud Papah?"
"Kita tunggu saja kabar selanjutnya. Kalau Julian sudah bergerak sampai bikin laporan, baru papah akan bertindak. Lagian mana ada sih aparat yang mau berurusan dengan kita? Yang ada aparat akan mengabaikan laporan orang miskin seperti Julian."
"Hahaha ... papah hebat. Baguslah kalau papah sudah bergerak. Aku juga ingin bergerak ah."
__ADS_1
"Kamu mau ngapain, Rey?"
"Belum ada ide sih, Mah, tapi aku akan cari cara yang bisa bikin Julian jera."
"Baguslah, kita memang harus melawan orang orang yang iri pada kesukseskan kita, Rey. Enak aja mau ngancurin nama baik kita," ucap Mamah sangat antusias. "Oh iya, Pah, supermall yang akan ayah bangun itu gimana? Jadi?"
"Jadi dong, Mah. Kan Papah yang pegang proyeknya."
"Ya syukurlah. Kata temen Mamah supermall itu dibangun untuk anak orang Italia itu yah?"
"Katanya sih begitu. Anak miliarder yang telah lama hilang. Seneng banget tuh yang jadi anaknya kalau tahu ayahnya sangat kaya. Sayangnya anakya laki laki. Coba kalau anaknya wanita, pasti aku jodohin sama Reynan."
"Yah, sayang sekali."
Mendengar pembicaraan orang tuanya, pikiran Reynan jadi melanglang buana. Jika anak itu adalah anak laki laki, pasti wajahnya sangat tampan dan isi celananya besar. Pikiran Reynan langsung berkelana liar dan nakal.
Sedangkan di hari yang sama, tepatnya di sebuah kantor polisi, beberapa polisi yang ada di kantor tersebut dibuat terkejut dengan kedatangan tamu yang tidak biasa. Sebagai aparat, tentu saja mereka tahu siapa orang itu.
"Selamat pagi, bapak bapak," sapa orang itu.
"Iya, selamat pagi," jawab salah seorang aparat agak tergagap. "Maaf, anda, Pak Hotmin kan? pengacara paling terkenal di negara ini?"
Pengacara yang dimaksud itu sontak menyeringai.
...@@@@@...
__ADS_1