PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Kerinduan Julian


__ADS_3

Puas membicarakan apa yang baru saja terjadi di rumah baru sembari menikmati Bakso, Julian beserta ketiga istrinya pun memilih pulang ke rumah lama. Dari pembicaraan itu juga, mereka berhasil mengambil keputusan untuk mengatasi kendala kendala yang dialami para istri tentang usaha mereka. Julian memutuskan akan menemani para istrinya untuk pulang ke rumah secara bergantian lagi.


Seperti biasa, Julian pulang menggunakan motor dan para istrinya berjalan kaki. Begitu sampai rumah, ternyata semua penghuni rumah sedang berkumpul menikmati sore guna melepas lelah setelah beraktifitas seharian. Julian pun ikut gabung bersama mereka. Sejak beberapa hari yang lalu, Julian memang jarang ngobrol bersama keluarganya.


"Istri istri kamu mana, Jul? Kok kamu pulang sendiri?" tanya sang ibu begitu Julian duduk di sebelahnya.


"Di belakang, Bu. Mereka jalan kaki. Paling mampir jajan seperti biasanya," jawab Julian sembari memperhatikan si kembar yang sedang bermain ular tangga.


"Apa mereka pernah berantem, Jul?"


"Untuk saat ini sih belum, Bu. Ya semoga aja jangan sampai lah. Seneng lihat mereka akur."


"Kamu sendiri gimana? Apa kamu masih takut sama mereka dan membencinya?" kini gantian Paman Seno yang bertanya.


"Sepertinya sih Julian udah sembuh, Pak. Ya Jul ya?" mendengar ucapan Bibi Atikah, wajah Julian langsung tegang. Dia langsung salah tingkah sendiri. Julian yakin, pasti Bi Atikah tahu kejadian tadi siang dari salah anaknya.


"Udah sembuh? Kamu tahu darimana, Bu?" tanya Paman Seno dengan rasa penasaran yang memdadak muncul.


"Tanya aja sama si Dana, tadi dia lihat apaan di kamar Mas Jul."


Glek!

__ADS_1


Julian tercekat. Wajahnya memerah. Takut menjadi bahan ledeka, Julian memilih bangkit dan segera beranjak ke kamar. "Kalau mesum pintunya di kunci, Jul!" celetukan sang Bibi semakin menambah rasa malu pemuda itu.


"Mesum?" Paman Seno semakin penasaran. Bi Atikah pun langsung menceritakan apa yang dilihat anaknya. Seketika Paman Seno langsung terbahak dengan kencang. "Alhamdulillah keponakanku sudah sembuh!" seru sang Paman sampai kedengaran dari dalam kamar Julian. "Jul, kita harus syukuran loh untuk kesembuhan kamu!"


Julian memilih diam. Dia hanya mampu senyum senyum di dalam kamarnya. Sedangkan para istri yang baru saja datang sambil menenteng cilok agak kaget mendengar ucapan sang paman.


"Paman mau syukuran?" tanya Kamila.


"Eh kebetulan ada kalian. Sini duduk, paman mau ngomong sama kalian." Tiga istri Julian langsung menuruti. Tentu saja mereka penasaran dengan apa yang akan dibicarakan Paman Seno dengan mereka.


"Ada apa, Paman?" tanya Safira.


"Paman cuma mau ngucapin terima kasih. Paman dengar, Julian sudah nggak panik lagi bersama kalian?"


"Baguslah. Seenggaknya pengorbanan kalian nggak sia sia. Kalau memang sudah sembuh ya, Paman akan ngadain syukuran gitu."


"Ide bagus, Paman. Kita sih setuju aja."


"Baiklah. Nanti kita tentukan acaranya."


Obrolan hangat pun mengalir dengan sendirinya. Hingga waktu terus bergulir, kini malam datang menyapa penduduk bumi. Setelah makan malam, Julian memilih duduk di lapak daganganya sembari memainkan ponsel.

__ADS_1


"Kamu kenapa duduk disini?" suara sang ibu yang tiba tiba terdengar, cukup mengagetkan pemuda trsebut. Sang Ibu mendekat dan duduk bersama sang anak. "Kenapa nggak di kamar bareng istrimu?"


"Gampanglah, Bu. Nanti juga aku masuk," balas Julian sembari mematikan layar ponselnya.


"Apa kamu bahagia, Jul?"


Julian mengernyitkan keningnya dan menatap sang ibu sejenak. "Maksud Ibu?"


"Apa kamu bahagia memiliki tiga istri?"


"Gimana ya, Bu. Dibilang bahagia ya aku bahagia, Bu. Tapi aku lebih cenderung ke bersyukur sih, Bu. Mereka wanita yang baik."


"Dan juga cantik tentunya," sambung Ibu dan mereka terkekeh bersama. "Syukurlah, kalau kamu bersyukur dan bahagia. Ibu jadi tidak takut lagi."


Julian nampak manggut manggut, ibu dan anak itu saling diam dalam pemikiran masing masing. Selang beberapa menit kemudian, Julian menceritakan segala peristiwa yang dia alami setelah menikah. Julian bercerita karena awalnya sang ibu yang bertanya dan ingin tahu apa saja yang sudah dialami Julian setelah menikah dan juga kehidupan mertua.


"Ya syukurlah, kalau semua mertua kamu menerima kamu dengan baik, Jul."


"Iya, Bu. Aku merasa memilki tiga ayah sekaligus."


Senyum Bu Sukma seketika memudar saat mendengar kata ayah dari bibir anaknya. Dia menoleh dan menatap anaknya dengan perasaan yang sangat bergejok. Julian sendiri malah menunduk setelah mengucap kata Ayah secara tak sengaja.

__ADS_1


"Bu, apa ayah tidak ingin bertemu kita lagi?"


...@@@@@@...


__ADS_2