PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Pilihan Untuk Tukang Hina


__ADS_3

"Ayah!" pekik Rastam dan Suryo secara bersamaan.


"Ya, dia adalah anak saya. Anak kandung saya. Perkenalkan, Julian Alonson Darwin. Namanya sama kan, seperti nama saya? Alonso Darwin."


Wajah kedua pria itu langsung memucat. Rastam dan Suryo nampak syok mendapatkan satu fakta yang tentu saja sangat mengejutkan. Mata dua pria itu saling memandang dengan tatapan yang sangat sukar diartikan. Mereka tidak menyangka kalau anak yang mereka hina adalah anak dari orang yang mereka agungkan.


"Duduk di sini, my Son. Agar kamu tahu orang yang akan bekerja di bawah kepimpinan kamu."


"Ma-maksud, Tuan?" tanya Suryo agak tergagap. Tentu saja dia ingin memastikan satu kenyataan lagi yang baru saja dia dengar.


"Seperti yang saya katakan barusan, anak saya yang akan memimpin jalannya superMall yang anda bangun. Panggil dia dengan sebutan Tuan muda."


Suryo dan Rastam semakin ternganga. Kejutan ini sungguh membuat mereka sesak nafas. Ingin rasanya mereka menarik kembali hinaan yang belum lama ini mereka lontarkan. Mereka bahkan tidak memiliki keberanian untuk menatap wajah ayah dan anak tersebut.


"Oh iya, coba lanjutkan cerita kalian tadi tentang seseorang yang memiliki istri tiga? Sepertinya ceritanya sangat menarik. Apa kalian membutuhkan bantuan saya untuk menghancurkan orang itu?"


Deg!


Lagi lagi Rastam dan Suryo membulatkan matanya. Sindiran dari Alonso jelas membuat keduanya ketakutan. Sedangkan Julian sendiri sangat menikmati kepanikan yang tercipta di hadapannya. Bagi Julian, ayahnya sangat keren. Dia bisa membuat orang tertekan tanpa mengeluarkan emosinya. Jika hinaan tadi dilayangkan di depan Julian langsung, mungkin Julian langsung menerjang dua pria paru baya itu.


"Maafkan saya, tuan," ucap Suryo dengan suara gemetar.

__ADS_1


"Loh, kenapa minta maaf? Saya kan cuma minta kalian menceritakan kembali hinaan kalian? Kayaknya sangat menarik?"


"Hinaan? Hinaan apa, Yah?" Julian malah langsung ikutan bersandiwara, sampai membuat Alonso merekahkan senyumnya.


"Tadi mereka menghina seorang penjual batagor. Katanya miskin aja belagulah, inilah, itulah. Gaya gayaan memiliki istri tiga. Katanya semalam penjual batagor juga ngancam Pak Suryo, minta ditransfer sejumlah uang," sindir Alonso membuka semua kebusukan Suryo dan Rastam dengan santainya.


"Wah! Sepertinya itu hanya fitnah, Yah? Kalau penjual batagornya tahu, pasti akan menyeret mereka ke jalur hukum."


"Tidak, Tuan! Tidak! Ampun, maafkan saya! Maafkan saya, Tuan muda!" seru Suryo langsung berlutut. Begitu juga dengan Rastam. Dia juga memohon ampun dengan wajah yang begitu pucat.


"Loh, loh, loh, kalian kenapa? Kok berlutut seperti itu? Kenapa kalian minta maaf?"


"Ampuni saya! Saya sangat keterlaluan. Tolong jangan bawa masalah ini ke jalur hukum."


"Kenapa? Bukankah kalian orang yang sangat kaya? Pertanggung jawabkan perbuatan kalian, mengerti!" hardik Alonso lalu dia langsung bangkit dari duduknya dan menatap tajam ke arah dua pria yang sedang berlutut. "Besok adalah hari peresmian pembangunan supermall, kalian berdua harus minta maaf kepada anak saya pada saat acara berlangsung. Kalau tidak, kalian tahu, apa yang akan saya lakukan, mengerti!" Alonso langsung beranjak bersama anaknya meninggalkan dua pria yang masih terjebak dalam rasa terkejut yang terus bertambah.


Semua mata yang ada di restoran tentu saja menyaksikan apa yang terjadi disana. Meski mereka tidak mengetahui permasalahannyya, tapi mereka cukup mengenal salah satu pria yang sedang bangkit dari bersimpuhnya.


"Pak Suryo, kenapa? Kok sampai bersimpuh kayak orang takut gitu?" celetuk salah satu pengunjung. Sudah pasti rasa malu pria itu semakin bertambah. Bahkan Suryo juga melihat ada yang merekamnya.


"Bukan urusan kalian!" bentak Suryo marah. Dia bergegas meninggalkan restoran tersebut dengan perasaan yang tidak karuan.

__ADS_1


Begitu juga dengan Rastam. Dia tidak pernah menyangka akan mengalami peristiwa memalukan seperti ini. Apa lagi dia dituntut untuk meminta maaf di depan orang banyak esok hari, makin runtuhlah keangkuhan dan rasa bangganya sebagai orang paling kaya di kampung tersebut. Dua orang itu segera pulang tanpa ada niat untuk saling mampir.


"Apa, Pak! Julian anak orang Italia itu?" tanya Mirna dengan tatapan tak percaya. Mendengar cerita dari ayahnya tentu saja ini seperti sebuah kebohongan.


"Bapak Yakin? Bapak tidak salah dengar kan?" Samsul yang kebetulan berada di sana juga nampak terkejut dengan berita yang disampaikan oleh ayahnya.


"Bapak melihat dengan mata kepala Bapak sendiri. Bahkan Bapak disuruh manggil Julian dengan panggilan Tuan muda. Apa ini nggak gila?"


"Bagaimana mungkin? Astaga! Ternyata Julian anak sultan!" pekik Mirna.


"Reputasi Bapak sebentar lagi benar benar akan hancur. Bapak harus bagaimana? Bapak nggak mau di penjara."


"Ya susah ya, Pak. Apa lagi Bapak menghina Julian di depan ayahnya langsung. Berarti mereka memang sengaja ingin mempermalukan Bapak."


"Terus Bapak harus gimana, Sul? Tolongin Bapak!"


"Pak, sepertinya Mirna punya ide bagus."


"Ide apa? Katakan?"


Mirna sejenak menyeringai.

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2