
"Mobil siapa itu? Bagus bener?" gumam Bu Sukma tapi masih terdengar oleh tiga wanita yang duduk tak jauh dari ibu itu. Tak lama setelah itu, dua orang terlihat turun dari mobil dan salah salah dari dua orang itu dikenal oleh si pemilik rumah.
"Julian!" seru empat wanita hampir bersamaan saat melihat siapa yang turun dari mobil.
"Kenapa? Kok pada kaget gitu?" tanya Julian tanpa rasa bersalah.
"Ya wajarlah kita kaget," dumel Bu Sukma. "Kamu sewa mobil buat apa?"
"Mau ngajak mereka pilih pilih perabotan rumah, Bu. Ke kota," balas Julian.
"Hah! Sekarang?" seru Kamila.
"Iya mumpung belum dagang."
"Astaga! Kenapa nggak bilang dari pagi? Kalau bilang kan kita udah siap siap," dumel Safira.
"Ya udah sana siap siap," cetus Julian. "Ibu sekalian ikut, ajak Paman dan Bibi juga."
"Kamu punya banyak uang?" tanya Ibu penasaran.
"Ada lah, Bu. Udah sana, ibu juga siap siap."
Semua wanita itu segera saja masuk ke dalam guna menyiapkan diri. Julian sendiri memilih duduk bersama sang supir sembari menunggu orang rumah.
__ADS_1
"Kamu punya uang banyak, Jul? Tumben ngajak kita jalan jalan?" tanya Paman Seno beberapa menit kemudian sembari mengendong dana. Paman Seno hanya memakai celana panjang dan kaos berkerah. Laki laki memang lebih simpel kalau bepergian.
"Ya ada, Paman," jawab Julian terlihat tenang.
"Ini nggak nungguin Sifa?" seru si Bibi begitu dia keluar rumah. "Nanti dia ngamuk ngamuk kalau nggak diajak."
Disaat bersamaan, anak yang sedang mereka bicarakan muncul dengan tatapan menyelidik. "Ibu sama Bapak mau kemana? Kok rapi?" sebelum pertanyaan Sifa ada yang menjawab, mata gadis remaja itu menbelalak saat melihat Bu Sukma dan tiga istri Julian juga keluar. "Kok pada rapi semua? Pada mau kemana sih?"
"Mas mu itu lagi banyak duit. Dia ngajak kita jalan jalan," jawab Bibi Atikah.
"Kamu nggak usah ikut, jaga rumah aja. Nanti pulangnya aku beliin es boba," ucap Julian dengan tawa penuh ledekan.
"Nggak bisa! Nggak bisa!" tolak Sifa. "Enak aja aku ditinggal, tungguin, aku ikut," Sifa langsung melesat masuk. Dia tak peduli ledekan Julian yang menggema.
Beruntung, mobil yang di sewa cukup luas dan besar. Jadi cukup di isi keluarga Julian yang jumlahnya bertambah tiga. Setelah semuanya siap, Mereka pun segera berangkat menuju ke pusat penjualan semua yang berhubungan dengan rumah.
"Hehehe ... nggak ada bayangan buat beli mobil Mas, jadi nggak ada niat buat latihan setir mobil," jawab Julian yang memang duduk di sebelah sang supir.
"Bisa nyetir nggak harus punya mobil kali, Jul. Rental mobil kan sekarang banyak."
"Benar tuh, Jul," Paman Seno yang duduk di belakang supir menimpali. "Coba deh kamu latihan mobil. Siapa tahhu kamu pengin jalan jalan sama istri kamu, nanti nggak bingung. Masa punya istri tiga, perginya naik motor? Kan lucu."
"Hahaha ... bener itu, Jul," si supir pun mendukung.
__ADS_1
"Gampanglah, Mas. Nanti aku pikirkan" jawab Julian.
Tanpa terasa, kini mobil telah sampai di tempat tujuan. Begitu masuk ke bangunan yang sangat luas itu, Julian besert keluarga langsung mencari barang apa saja yang dibutuhkan untuk rumah baru.
Semua nampak terkejut dengan semua barang yang Julian pilih. Ditambah terkejut lagi saat mereka juga di suruh memilihkan barang yang pas. Telelvisi, lemari, kulkas, mesin cuci dan masih banyak lagi yang Julian beli sampai keluarganya merasa heran.
"Kamu serius Jul, membeli ini semua?" tanya Paman Seno yang sudah tidak dapat membendung lagi rasa penasarannya.
"Ya, serius, Paman," jawab Julian sambil mengedarkan pandangannya mencari barang yang lain.
"Uang darimana kamu? Ini puluhan juta loh, jangan main main?" Paman Seno malah terlihat semakin khawatir.
"Astaga, Paman! Siapa yang main main? Aku tuh serius beli ini semua."
"Tapi ini tuh totalnya udah puluhan juta, Jul? Kamu dapat darimana uang sebanyak itu?" Bu Sukma ikutan bersuara.
Julian hanya menjawab pertanyaan sang ibu dengan senyuman. "Ya udah kita ke kasir sekarang. Kalau ada yang kurang, kita belanja lagi."
Dengan segenap rasa penasaran dan juga rasa khawatir, mereka semua mengikuti langkah Julian ke arah kasir. Begitu sampai depan kasir, Julian langsung mengambil dompet dan mengeluarkan sebuah kartu.
"Loh itu kan kartu ATM hadiah yang dibungkus bareng kunci rumah kan?" tanya Kamila. "Emang bisa langsung buat bayar
"Iya," jawab Julian. "Ini tuh bukan ATM. Ini namanya Blackcard, kartu pembayaran yang tidak ada batas habisnya."
__ADS_1
"Hah!"
...@@@@@@...