PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Masih Berusaha


__ADS_3

"Hahahaa ... apes benar kamu, Jul. Lalu sampai sekarang istri kamu gimana?"


"Ya mereka marah balik. Aku di diemin dan dipojokin sejak kemarin. Bingung aku, Mas. Mau minta maaf aja susah banget."


"Hahhaa ... gampang kali ngeluluhin hati cewek, Jul."


"Gampang? Carannya?"


Ferdi dan Budi sontak saling pandang. Dari wajahnya, jelas sekali kalau mereka heran dengan sikap pria beristri tiga tersebut. Dimata mereka, Julian seperti kurang berpengalaman soal wanita.


"Cara paling mudah ya ajak mereka bikin anak, Jul," jawaban yang keluar dari mulut Ferdi, sontak membuat Julian tercengang mendengarnya. "Biasanya aku sih gitu sama istri aku, Jul. Kalau marahan sama istri ya aku ajak bicara baik baik di atas ranjang sembari melakukannya. Pasti begitu selesai berhubungan, semua masalah juga ikutan selesai juga."


Budi menepuk pundak rekannya. "Maklum lah, Fer, Julian kan masih baru menjalani hidup berumah tangga. Dia masih harus banyak belajar. Aku aja yang sudah lima tahun menikah, masih banyak yang harus aku pelajari, apa lagi kamu ya Jul," budi ikut memberi masukan.


Julian hanya tersenyum lebar. Meski dia tidak menanggapi ucapan dua pria di hadapannya, tapi pikirannya mencerna usulan dari Mas Ferdi. Apa lagi Julian mempunyai bukti kalau hubungan ranjang bisa meredakan kemarahan wanita, seperti yang terjadi pada Safira kemarin.


"Udah, Jul. Jangan terlalu dipikirkan. Nggak lama lagi juga istrimu bakalan reda marahnya. Sekarang kita bicarakan saja tentang masalah laporan. Kamu kapan akan pergi membuat laporan?"


"Enaknya kapan ya, Mas? Serius, aku bingung bagi waktunya. Ini aja rencana mau mulai dagang, jadwalnya ketunda terus."

__ADS_1


"Ya udah, gini aja, urusan hukum biar kita yang urus. Kamu terima beres aja ya? Paling nanti kamu dibutuhkan saat mau membuat laporan dan persidangan."


"Nggak ngerepotin, Mas? Kalian kan juga punya pekerjaan?"


Budi dan Ferdi sontak saja menyeringai. "Nggak perlu khawatir. Karena inilah pekerjaan kami."


Julian kembali dibuat tercengang, tapi itu hanya sesaat. Julian memilih percaya saja daripada harus bertanya lebih demi mengobati rasa penasarannya kepada dua pria itu. Dia lantas kembali melanjutkan pembicaraanya dengan dua pria tersebut.


Sementara itu di tempat lain, wanita yang kemarin ditinggal pergi begitu saja oleh Julian, terlihat sedang uring uringan. Lita kesal karena dari kemarin Julian mengabaikannya setelah pergi tanpa pamit. Tentu saja kejadian yang Lita alami, dia ceritakan pada dua pria yang menyuruhnya untuk menjerat Julian.


"Apa mungkin istri Julian tahu tentang rencana kamu, Lit?" tanya Lehan sembari menikmati cemilan yang tersaji di hadapannya.


"Coba, Feb, kamu yang turun tangan. Kali aja Julian bakalan jatuh di tanganmu," ucap Reynan.


"Caranya gimana? Julian kan sudah pernah lihat wajahku?" balas Febi.


"Ya kan cuma telfon. Pokoknya cari cara agar Julian bisa jatuh ke dalam perangkap kita. Berapapun uang yang kamu minta pasti aku kasih deh. Yang penting aku punya senjata untuk melawan Julian jika dia serius akan menyeret namaku sampai ke jalur hukum."


"Baiklah, nanti akan aku pikirkan," ucap Febi pada akhirnya. Reynan dan Lehan cukup senang mendengarnya. Dua lelaki itu memang harus memiliki sesuatu yang bisa digunakan untuk menjatuhkan Julian.

__ADS_1


Hingga waktu terus bergulir, kini Julian sedang mengikuti interupsi seorang pendidik yang sedang mengajarinya menyetir mobil. Pada pertemuan ketiga ini, Julian sudah terlihat lebih mahir mengemudikan mobil dari pertemuan sebelumya. Dengan sistem belajar empat kali dalam seminggu dan sekali pertemuan, waktu berlatihnnya sekitar dua jam saja. Begitu selesai latihan, Julian langsung bergegas pulang.


"Kalian mau pergi?" tanya Julian begitu sampai rumah dan melihat dua istrinya nampak rapi.


"Si Rizka telfon, minta aku datang kesana. Aku minta Safira buat nemenin."


"Nggak nginep kan?"


"Nggak. Kalau nginep, mana mungkin aku ngajak Safira."


Julian nampak manggut manggut. Ada perasaan lega saat Kamila mau menjawab pertanyaannya. Meski tidak terlalu hangat, setidaknya Julian tahu, kemarahan istrinya sedikit mereda.


Tak lama berseelang, Safira dan Kamila lantas pamit. Senyum Julian terkembang menatap kepergian istrinya yang selalu akur satu sama lain. Meski suaminya berbagi, tapi para istrinya malah bisa jadi teman satu sama lain.


Saat Julian sedang terdiam di dekat pintu, dia teringat dengan istri satunya yang sedari tadi tidak kelihatan. Julian bergegas masuk mencarinya. Langkahnya terhenti saat dia melihat istrinya sedang tengkurap di atas ranjang sembari menatap layar ponsel.


Senyum Julian merekah. Namun saat dia hendak pergi, Julian tiba tiba teringat saran dari Budi dan Ferdi. Senyum Julian pun melebar. Sepertinya dia tahu apa yang harus dia lakukan saat ini.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2