
Julian benar benar memperhatikan setiap detail rumah yang sedang di renovasi. Membuat kamar mandi ternyata cukup rumit pekerjaannya. Beruntung yang di tambah kamar mandi cuma satu rumah saja sedangkan rumah yang lain tidak ada perombakan di dalamnya, paling nanti di bagian halaman, tembok akan di bongkar dan di pasang kanopi.
Sambil memperhatikan para tukang, Julian merapikan barang barang yang di beli kemarin bersama keluarganya. Untuk barang yang berat memang sudah masuk ke dalam tempatnya sepeti ranjang, lemari dan juga sofa, untuk selebihnya tinggal barang barang ringan dan menata kembali barang sesuai keinginanya.
Untuk urusan makan para tukang, rokok dan yang lainnya, Julian menyerahkannya ke warung makan yang ada di depan perumahan itu. Julian melakukan itu biar para tukang bisa makan sesuai selera mereka. Urusan bayar semua Julian yang menanggunggnya.
Julian memang tidak bisa membayar pakai kartu miliknya, tapi dia mentransfer beberapa uang dari kartu hitam ke kerening pribadinya agar bisa dicairkan dan bisa digunakan untuk pembayaran hal yang kecil dan tidak butuh kartu hitamnnya. Karena itu pula, ayah Julian menjadi tahu nomer rekening anaknya. Tentu saja Alonso langsung mentrasnfer sejumlah uang kepada rekening tersebut sampai Julian dibuat kaget karena nominal uangnya yang tertera di buku tabungannya bertambah sangat banyak.
Julian belum sempat menanyakan hal itu kepada paman dan Ibunya, tapi Julian kaget saja kalau tambahan uang dari rekeningnya berasal dari luar negeri. Mungkin itu memang benar dari ayahnya.
Ketika menjelang pukul dua belas siang, Julian memilih pulang karena sebentar lagi waktunya ibadah siang. Dia juga harus bersiap diri karena malam ini dia akan menginap di rumah Safira. Saat di keluar rumah, dirinya melihat seorang wanita yang dia kenal, melempar senyum kepadanya. Kening Julian sempat berkerut. Dia merasa heran, wanita cantik yang terkenal sombong tiba tiba tersenyum kepadanya. Julian tak ambil pusing, dia memilih cuek dan berjalan kaki keluar komplek perumahan.
"Jul, mau pulang?" Langkah Julian terhenti saat ada suara mendekatinya. Julian pun menoleh, ternyata dia wanita yang tadi tersenyum padanya.
"Iya," jawab Julian singkat dan datar sembari memandang lurus ke arah jalan yang menuju ke rumahnya.
__ADS_1
"Kok jalan kaki? Mau aku antar?" wanita itu mengikuti Julian dengan mematikan mesin motornya.
"Nggak usah," Julian masih menunjukkan sikap dinginnya. Bahkan kali ini dia tidak menoleh sama sekali.
"Kalau mau dianter ya, Ayo!" wanita itu masih tetap berusaha. Julian berhenti melangkah lalu badannya mengadap wanita itu, Julian tengok kanan dan kiri. Wanita itu kegirangan. "Ayo aku antar," ucap Wanita itu sembari tersemyum manis.
Namun tak butuh waktu lama, senyum manis wanita itu memudar. Ternyata Julian berhenti dan menghadap ke arahnya karena Julian mau menyeberang dan menghampiri pedagang pop corn serta membelinya untuk sang istri dan si kembar. Wanita itu merasa kesal, tapi entah kenapa dia seperti menahan kesalnya dan kembali mendekati Julian.
"Wahh! Aku juga suka ama popcorn loh," seru wanita itu dengan mata berbinar. Entah apa yang sedang dia harapkan saat ini, yang pasti, Julian diam tanpa reaksi. "Beli banyak banget, Jul? Untuk siapa? Untuk aku ya?"
"Sial! Sombong banget sih tuh orang!" umpat wanita itu. "Beneran kaya nggak sih Julian, kok jalan kaki? Jangan jangan info dari Mas Samsul dan Mbak Widia bohong lagi."
Karena sangat kesal, wanita itu berhenti mengikuti Julian dan memutuskan kembali ke rumah kakaknya yang satu komplek dengan rumah baru Julian. Sedangkan Julian begitu sampai rumah, dia melihat ke tiga istrinya lagi pada duduk di lapak jualan miliknya.
"Kalian lagi pada ngapain? " tanya Julian. Meski agak gugup dia tetap harus mencoba mendekati istrinya.
__ADS_1
"Suntuk aja, Mas. Bingung mau ngapain," Safira yang menjawab. Julian mengulurkan tangan menyerahkan popcorn yang tadi dia beli. "Buat kita?"
Julian mengangguk. "Aku juga sudah beli kios depan perumahan. Gunakan kios itu buat jualan kalian."
"Wah! Serius?" Julian mengangguk lagi. "Makasih, Mas!" seru ketiga istri Julian dengan girangnya.
Julian mengangguk kembali. Hatinya menghangat melihat istrinya sesenang itu dibelikan tempat untuk usaha. "Ya udah aku masuk dulu. Sekalian siap siap ke rumah Safira."
"Oh iya! Yuk, aku juga mau siap siap!" seru Safira. Wanita itu segera pergi meninggalkan Kamila dan Namira sembari joget joget ala india.
"Astaga, Fira! Centil amat!"
"Hahaha ..."
...@@@@@@...
__ADS_1