PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Damai Itu Indah


__ADS_3

"Oh iya, Mbak. Mbak dengar berita nggak tentang anaknya Pak Rastam?"


"Anak Pak Rastam? Si Mirna?"


"Iya, si Mirna, katanya dia akan tunangan sama orang paling kaya di kabupaten ini, Mbak. Dengar dengar anaknya adalah orang yang dulu menjebak Julian, Mbak."


"Hah! Kok bisa? Ini kebetulan apa gimana?"


"Ya kurang tahu sih, Mbak. Aku cuma khawatir sama Julian, pasti dia akan semakin dihina. Julian jadi laporin dua orang itu nggak sih, Mbak?"


"Nggak tahu, Tik. Aku sama Julian hampir tak pernah ngobrol loh. Sejak dia nikah dan pindah rumah, jarang banget ada waktu buat ngobrol berdua dengan anak."


"Coba deh, Mbak, diomongin. Masalahnya, lawan Julian bukan orang sembarangan. Orang kaya, tahu sendirilah, Mbak, kalau uang udah berbicara."


"Benar juga, ya udah deh, nanti aku coba ngomong."


Untuk sesaat tiga wanita yang ada disana pada terdiam. Sebagai keluarga, mereka pasti tidak mau terjadi hal buruk pada keluarga mereka. Apa lagi Bu Sukma, dia tidak mau anaknya akan mendapat serangan balik jika jalur hukum tetap ditempuhnya.


Sementara itu, di waktu yang sama, anak yang sedang dipikirkan oleh ibunya, sedang merintih kenikmatan akibat pelayanan yang dilakukan istrinya. Sekarang posisi Julian sedang duduk bersandar sambil memangku Namira. Tentu saja itu bukan memangku biasa. Ada batang yang terus disodokkan ke dalam lubang dengan gerakan badan sang istri yang naik turun.


"Akh ... akh ... akh ..."


Tubuh Julian menegang dan bergetar bersamaan denngan benih cinta yang menyembur ke dalam lubang hangat istrinya. Sang istri sontak terdiam, membiarkan milik suaminya menyemburkan benih hingga tetes terakhir di dalam lubangnya. Julian memeluk erat tubuh berkeringat istrinya dengan rasa yang sangat bahagia. Keduanya terdiam, hanya ada deru nafas kencang yang berangsur menuju normal.


"Terima kasih, Sayang. Kamu masih mau melayani suamimu," ucap Julian dengan lembut begitu deru nafasnya normal kembali.

__ADS_1


"Ngapain terima kasih segala, Mas? Ini kan kewajiban aku juga melayani suami."


"Ya nggak apa apa, Sayang, sekali kali ngucapin makasih. Apa lagi kamu mau maafin aku karena kejadian kemarin. Makasih, karena masih mau sabar menghadapi aku, Dek."


Namira sontak menyunggingkan senyumnya. "Yang penting itu dijadikan pelajaran agar Mas Jul bisa bersikap lebih baik lagi. Setidaknya hargai peraasaan pasangan Mas Jul jika akan ketemuan sama lawan jenis."


"Iya, Sayang. Makasih ya?"


"Ya udahlah, mumpung yang lain belum pada pulang, aku mau mandi. Nggak enak nanti."


"Kita mandi bareng, Sayang, Yuk."


Namira menyetujuinya. Mereka segera saja beranjak ke kamar mandi. Tentu saja itu bukan mandi biasa, suami istri itu mengulang kembali permainan mereka di sana.


Waktu terus bergulir maju hingga petang kini telah datang. Dua istri Julian juga sudah berada di rumah sejak beberapa waktu yang lalu. Setelah melakukan ibadah petang bersama, ke empat penghuni rumah itu kini berada di meja makan untuk menyantap makanan yang sudah tersedia.


"Ya udah, kami maafin. Tapi lain kali ya jangan kayak gitu lagi," ucap Kamila.


"Iya, Mas tahu. Semoga Mas ke depannya bisa lebih peka dan bisa menjaga perasaan kalian lagi."


"Mas Jul ngomong kayak gitu, apa karena Mas Jul habis ngasih jatah sama Namira?" terka Safira. Julian sontak gelagapan dan salah tingkah. "Nggak perlu ditutupin, kita udah menduganya kok."


"Kalian nggak marah?"


"Ngapain mesti marah? Lagian kan ada untungnya juga, Mas Jul bisa menyadari salahnya dimana. Kalau nggak kayak gitu ya, Mas Jul nggak bakalan tahu salahnya dimana."

__ADS_1


Julian langsung cengengesan. "Berhubung sedang menbicarakan masalah jatah. Kita jadwal sekalian ya jatah kalian digilir oleh Mas?"


"Ya silakan, Mas."


Sembari menikmati hidangan, Julian mulai mengatur jadwal bercintanya. "Anggap aja hari ini Namira sudah dapat jatah, untuk besok dan lusa, tinggal kalian berdua, mau siapa dulu, Kamila atau Safira?"


"Daripada memilih ya mending suit aja biar adil," ucap Namira.


"Ya udah kita suit, Fir," ajak Kamila, dan mereks suit layaknya mau main petak umpet. Ternyata yang menang Safira.


"Berarti besok malam sama Safira ya? Kalian ikhlas kan?"


"Mau tidak mau ya kita harus ikhlas lah, Mas. Yang penting Mas Jul berusaha saja untuk selalu adil."


"Iya, Sayang. Kalian juga jangan lelah buat ngingetin Mas."


"Terus pas dapat jatah, nanti bercintanya dimana? Apa di kamar utama?"


"Ya janganlah, Fir. Masa bercinta di depan mata kita. Kan ada kamar lain."


"Ya kali aja kalian pengin nonton suami kalian bercinta, kayaknya seru kalau sedang bercinta terus ada yang nonton."


"Dih! Amit amit, ogah amat."


Julian hanya bisa tersenyum menyaksikan perdebatan kecil ketiga istrinya. "Senangnya punya kalian," gumamnya.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2