
"Kalau wanita itu pernah datang ke sini, berarti kalian tahu dong nama dan ciri ciri wanita itu?"
"Ya tahu lah, Mas. Orang aku juga lihat. Kalau nggak salah namanya Lita."
"Apa!" Budi dan Ferdi memekik bersamaan. Reaksi dua pria yang nampak terkejut tentu saja membuat tiga istri Julian merasa heran.
"Kenapa, Mas? Kok kayak kaget gitu?"
Bukannya menjawab, salah satu dari pria itu malah mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya dan fokus mencari sesuatu. "Apa wanitanya seperti ini?" tanya Ferdi sembari menunjukan foto dari layar ponselnya.
Mata ketiga istri Julian sontak membelalak setelah milihat dan memperhatikan foto yang ditunjukan kepada mereka. "Ah iya, kok kalian bisa punya fotonya? Mas Ferdi kenal?"
Bukannya menjawab, dua pria justru semakin dibuat terkejut dengan reaksi istri Julian. "Gawat, Bud, kita kecolongan. Bisa tamat riwayat kita."
Melihat sikap Budi dan Ferdi yang mendadak panik tentu saja mengundang banyak tanya pada ketiga istri Julian. Dari sikap dan ucapan dua pria itu, para istrinya menyadari kalau ada sesuatu yang tidak beres.
"Kecolongan gimana maksudnya, Mas? Jelasin dong? Apa Mas Jul dalam bahaya?" cecar Safira.
"Wanita itu temannya si Reynan."
"Apa! Yang benar, Mas?"
__ADS_1
Budi dan Ferdi tentu saja mengiyakan dengan sangat yakin. Di tambah lagi, mereka berdua menunjukan foto dan rekaman video yang berisi tentang keakraban Reynan, Lehan, Lita dan Febi berada di teras rumah Reynan. Ketiga istri Julian jelas sangat terkejut mendapat fakta yang baru saja mereka saksikan.
"Berarti Mas Jul sedang dalam bahaya?" ucap Safira dengan nada bergetar.
"Sialan si Lehan. Nggak akan aku ampuni dia!" geram Kamila.
"Gini aja deh, kalian telfon saja Julian. Kali aja dia belum sampai di tempat tujuan, jadi kita bisa segera memberitahukannya."
"Ah iya," Namira yang memang sedang memegang ponsel, langsung saja menghubungi nomer Julian. Tapi sayang tidak ada respon setelah beberapa kali mengulang panggilan.
"Mas, kirimi foto dan rekaman kalian dong, biar aku kirim ke nomer Julian," usul Kamila.
"Oke!" Ferdi langsung mencatat nomer Kamila dan mengirim apa yang diminta wanita itu. "Kalau gitu kita pergi dulu. Kita akan mencari keberadaan Julian. Kalau Julian ada kabar, kasih tahu kita."
Budi dan Ferdi segera saja menaiki motornya dan berlalu pergi. Sedangkan istri Julian terus menerus melakukan panggilan pada nomer suaminya. Julian sendiri masih fokus dalam perjalannya yang sebentar lagi sampai di tempat tujuan. Karena ramainya kendaaran dan telinga yang tertutup helm, Julian tidak mendengar kalau ponselnya berdering sedari beberapa menit yang lalu.
"Sepertinya ini rumahnya," gumam Julian begitu sampai di tempat tujuan. Dia berhenti tepat dihadapan bangunan yang cukup mewah. Begitu Julian melepas helmnya dan dia hendak mengambil ponsel dari tas slempang yang dia bawa, tiba tiba Julian melihat sosok wanita yang akan dia temui sedang berjalan kaki ke arah dirinya berada.
"Wah! Akhirnya sampai juga, Mas," seru wanita bernama Lita.
Julian sontak tersenyum dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam tas. "Hehhe ... iya nih, Mbak. Aku pikir aku salah alamat, mau aku telfon malah Mbaknya datang."
__ADS_1
Lita pun ikut menyunggingkan senyum manisnya. "Iya nih, kebetulan habis dari warung," balas wanita itu sambil menunjukkan kantung plastik sebagai bukti kalau dia memang dari warung. "Mari masuk Mas, kita ngobrol di dalam ya?"
Julian mengiyakan. Lita menbuka pintu gerbang rumahnya dan mempersilakan Julian untuk memasuki halaman. Dengan senang hati, Julian melakukannya. Setelah motor terparkir sempurna. Julian turun dari motor dan melangkah masuk mengikuti si nyonya rumah.
"Tunggu sebentar ya, Mas. Aku ke dapur dulu," ucap Kamila begitu mereka memasuki ruang tamu dan mempersilakan Julian duduk di sofa yang ada didana.
Sambil menunggu si Tuan rumah, mata Julian mengedar ke segala penjuru ruangan. Rumah yang terdiri dari dua lantai itu cukup mewah dengan segala isinya. Disaat Julian sedang asyik mengamati setiap detail ruangan rumah tersebut, Lita kembali datang dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan satu toples cemilan.
"Maaf ya, Mas. Aku pagi pagi udah telfon kamu tadi," ucap Lita sembari menaruh nampan di atas meja dan meletakkan secangkir kopi di hadapan tamunya.
"Nggak apa apa, Mbak. Aku juga merasa nggak enak, ternyata Mbaknya nungguin aku jualan," ucap Julian merasa canggung.
"Ya kan itu semua karena aku serius, Mas. Aku penasaran dengan batagor buatan cowok setampan kamu itu gimana rasanya," Lita mulai melancarkan godaannya.
"Hehehe ... biasa aja, Mbak. Sama kayak pedagang batagor yang lain," jawab Julian merendah. Ada rasa grogi dalam diri pria itu saat matanya bertemu dengan tatapan wanita di hadapannya.
"Tapi kan biasanya beda tangan beda rejeki. Banyak loh penjual batagor, tapi rejekinya tetap berbeda."
"Hehehe ... iya, Mbak," balas Julian dengan senyum yang menawan.ketika Julian hendak meneruskan ucapannya, ponsel Julian kembali berdering.
Kluntang kluntang kluntang
__ADS_1
...@@@@@@...