PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Setelah Pulang Jalan Jalan


__ADS_3

Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, keluarga Julian sudah sampai di rumah mereka. Sedangkan Julian sendiri ikut ke rumah si pemilik mobil yang dia sewa karena motor yang tadi pagi dia bawa, ditinggal di rumah si pemilik mobil yang letak rumahnya berada di desa sebelah.


"Mas, tiap hari ada orang yang sewa mobil disini apa?" tanya Julian. Saat ini dia duduk di teras depan rumah pemilik mobil.


"Ya begitulah, Jul. Satu atau dua, selalu ada saja yang menyewa mobil," jawab si pemilik mobil yang akrab di panggil Mas Toni. Tangannya bergerak meraih cangkir yang berisi kopi hitam favoritnya.


"Nggak takut di tipu, Mas?" tanya Julian yang juga meraih cangkir kopinya.


"Rasa takut ya pasti ada, Jul. Tapi ya namanya usaha, kita harus bisa cari cara agar tidak kena tipu. Kalau aku nggak sembarangan nerima orang asing," jawab Toni sambil memandang ke arah depan halaman rumahnya.


"Orang asing? Gimana maksudnya, Mas?" tanya Julian dengan tatapan serius ke arah lawan bicaranya.


"Ya kalau bukan orang yang aku kenal, aku tolak, Jul. Tapi kalau orang itu membawa orang yang aku kenal dan mau bertanggung jawab, ya aku lepas."


"Oh ..." Julian nampak manggut manggut. "Ya bagus kalau gitu. Apa lagi mobil kan harganya lumayan ya, Mas. Oh iya, Mas, mobil yang bagus sih mobil yang kayak apa, Mas?"


Toni menoleh ke arah Julian. "Kamu mau membeli mobil?"


"Hehehe ..." Julian cengengesan. "Ya kali aja suatu saat ada rejeki."


"Ya baguslah, berarti kamu memang ada niat buat maju," balas Toni. "Semua tergantung selera sih, Jul. Ada yang suka matic, ada juga yang lebih suka mobil manual. Tergantung selera kamu maunya gimana. Kalau kamu memang ada niat untuk beli mobil, kamu liat aja di tubetube, kan banyak tuh review soal mobil yang bagus."

__ADS_1


"Waah! Benar juga," seru Julian.


Obrolan itu pun terus berlanjut. Memang benar, Julian ingin membeli kendaraan yang cukup mewah itu. Sedari tadi saat pergi bersama keluarganya, dia memikirkan saran dari si pemilik mobil untuk belajar mengemudikan kendaraan roda empat itu. Mungkin Juliian akan mengambil kelas menyetir suatu hari nanti.


Hingga beberapa saat kemudian, setelah ngobrol cukup lama, Julian pun pamit undur diri dari rumah Mas toni. Julian pulang ke rumah dengan melajukan motornya secara pelan.


Sedangkan di rumah Julian, tepatnya di lapak dagangan Julian, nampak Bu Sukma dan Paman Seno sedang terlibat dalam pembicaraan yang serius.


"Mungkin Mas Alonso sudah menemukan keberadaan kita ya, Sen," ucap Sukma dengan tatapan menerawang lurus ke arah jalan di depan rumahnya.


"Ya mungkin saja, Mbak. Kartu yang dipegang Julian juga pasti kiriman dari ayahnya," jawab Seno. Sesekali dia menyesap rokok yang tinggal setengah. Paman Seno berani merokok kalau jauh dari anak anaknya.


"Emang serius dia mau menikah lagi. Bukankah Mbak Sukma sama Mas Alonso belum cerai ya?"


"Bisa saja kan dia sudah menceraikan aku? Dia dan keluarganya punya kuasa, pasti sangat mudah buat Alonso mengajukan cerai."


"Iya juga yah?" Paman Seno manggut manggut. "Tapi kenapa dia nggak datang langsung aja kalau memang sudah menemukan alamat kita?"


Bu Sukma mengangkat kedua bahunya. "Mungkin dia takut ketahuan sama istrinya."


"Baru kemungkinan, Mbak. Nggak tahu fakta yang sebenarnya gimana."

__ADS_1


Di saat bersamaan, nampak motor Julian memasuki halaman rumahnya. Kening Julian berkerut saat melihat Ibu dan Pamannya sedang duduk bersama di lapak dagangnya.


"Ibu sama Paman lagi ngapain?" tanya Julian begitu turun dari motornya dan mendekat ke arah mereka.


"Lagi ngobrol aja, Jul," tanya Bu Sukma. "Kok kamu baru pulang? Darimana aja?"


"Nggak darimana mana? Cuma tadi sempat ngobrol dulu sam Mas Toni," jawab Julian yang kini bersandar di gerobag dagangannya.


"Ngobrolin apa? Mau beli mobil juga pakai kartu hitam itu?" terka Paman.


"Black card, Paman," Julian menegaskan.


"Ya sama aja artinya kartu hitam," balas Paman Seno tak mau kalah.


"Jangan dulu beli mobil lah, Jul. Takutnya orang beranggapan kita ngepet lagi," ucap Bu Sukma. "Orang kan lebih mudah berpikiran buruk."


"Iya, Bu. Aku tahu itu," balas Julian. "Aku masih mikirin hal lainnya. Ya udah Julian masuk dulu, gerah, pengin mandi."


Julian langsung beranjak masuk ke dalam rumahnya, tanpa menunggu ucapan dari sang Paman dan Ibunya. Saat langkah kakinya sampai di depan kamar, tak sengaja Julian mendengar obrolan ketiga istrinya yang langsung membuat emosinya memuncak.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2