PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Ke Rumah Mertua


__ADS_3

"Kalian pada mau kemana?"


"Mau ke rumah Namira, Bu,"


"Sekarang?"


"Iya, Bu," jawab Julian. "Nitip Safira dan Kamila ya, Bu?"


"Baiklah, hati hati."


Julian dan Namira mengiyakan nasehat ibunya, lalu mereka mengucap salam begitu mereka melangkah menuju motor Julian. Pemuda itu sebenarnya begitu panik saat harus berboncengan dengan istrinya, tapi Julian harus teringat pesan ketiga istrinya saat mereka sedang mengundi giliran tadi, untuk memutuskan siapa yang terlebih dahulu pulang ke rumah.


Sebelum berangkat, para istri mencoba memberi saran kalau Julian disuruh mencoba mengalihkan pikirannya saat berdekatan dengan para istrinya. Kata sang istri, Julian disuruh mencoba menganggap dirinya sedang berdekatan dengan Sifa. Jika diperhatikan Julian terlihat baik baik saja jika berdekatan dengan Sepupunya itu.


Julian kali ini benar benar mencobanya. Dia menganggap Namira adalah orang lain yang dia tidak kenal. Julian berusaha keras mengalihkan pemikirannya yang pasti sangat mempengaruhi rasa paniknya. Ternyata cara itu sedikit berhasil, Julian mampu mengatasi sedikit rasa paniknya berboncengan motor dengan Namira.


"Kalian tidak apa apa, ditinggal Julian pergi ke rumah Namira?" tanya Bu Sukma begitu Julian menghilang dari pandangannya.


"Tidak apa apa, Bu," balas Safira yang juga ikut mengantar kepergian suami dan istri yang lainnya.


"Kalian masih muda, tapi kalian setegar itu mempunyai satu suami. Maafin Ibu ya?" ucap Bu Sukma yang ikut merasa bersalah pada menantunya.


"Astaga, Bu. Kenapa ibu minta maaf? Ibu tidak salah. Mungkin ini sudah takdir kita, Bu," balas Kamila.

__ADS_1


"Ibu doakan semoga kalian hanya menemukan kebahagian selamanya."


"Aamiin, ya udah kita masuk yuk, Bu. Kita ngobrol di dalam," ajak Kamila. Ketiga wanita itu lantas masuk dengan perasaan yang sedikit lebih tenang.


Sedangkan perasaan Julian saat ini sedang tidak baik baik saja. Ada rasa gelisah yang mengganggu ketenangan pria itu. Namun begitu, dia masih berusaha keras menahan rasa gelisahnya.


Sedangkan di jok belakang, Namira juga mencari akal untuk membantu kegelisahaan suaminya. Dengan mengajak Julian bercerita, Namira sedikit berhasil mengalihkan fokus Julian kepada kekurangannya. Hingga tak lama kemudian mereka pun sampai di tempat tujuann setelah menempuh jarak tempuh lima belas menit.


"Eh ada pengantin baru!" seru seorang wanita yang saat itu sedang menjemur pakaian. "Kirain tamu siapa, Nam?"


Narima pun tersenyum. Begitu motor terparkir, wanita itu langsung turun dari motornya. "Ibu sama Bapak ada, Mbak?" tanya Namira setelah memberi salam dan menyalami kakak perempuanya. Julian juga melakukan hal yang sama dan mereka langsung disuruh duduk.


"Eh ada tamu!" seru seoang wanita paruh baya saat keluar dari kamarnya.


"Ibu sehat?" tanya Namira sembari menjabat tangan Ibunya.


"Ya Alhamdulillah, Bu," jawab Narima.


Tak lama setelah itu Bapak Namira juga datang dari arah luar setelah di panggil oleh kakak Namira. Mereka pun saling berjabat tangan dan bertukar kabar.


"Astaga, nak Julian? Ngapain bawa beginian segala?" ucap si Ibu saat menerima bingkisan dari anaknya.


"Nggak apa apa, Bu. Mumpung ada rejeki," balas Julian ramah.

__ADS_1


"Makasih ya?" balas si ibu lalu dia pamit mau membuatkan hidangan untuk anak dan menantunya. Sedangkan di ruang tamu, Juliaan dan Namira ngobrol bersama Bapak dan kakaknya.


"Jadi kalian belum mulai dagang?" tanya Bapak disela sela obrolannya.


"Belum, Pak. Rencananya sih nanti kalau sudah seminggu pernikahan kami," jawab Julian.


"Tapi Namira kayaknya nggak akan jualan ayam lagi, Pak," sambung Namira.


"Loh kenapa?" tanya Bapak terlihat terkejut.


"Saya nggak tega Pak, lihat wanita jam tiga pagi udah ada di pasar. Mending Namira bantu saya dagang, pak," jawab Julian terdengar agak terbata karena takut kalau keputusanya salah.


"Loh ya bagus itu, Bapak sih setuju aja," Julian merasa lega mendengar jawaban ayah mertuanya.


"Ponsel kamu baru, Nam?" tanya sang kakak yang ternyata memperhatikan ponsel ditangann sang adik.


"Oh iya," Namira seperti orang kaget. Dia langsung merogoh tasnya dan mengeluarkan isinya. "Adit sekolah ya, Mbak? Ini nanti ponsel bekas aku dipakai Adit aja, terus ini buat ibu dan Bapak," ucap Namirs sembari menyerahkan ponsel dan amplop.


"Ya ampun! Kalian lagi banyak duit?" seru sang kakak.


"Siapa yang lagi banyak duit?" tiba tiba seorang wanita muncul dari arah luar. "Eh ada pengantin baru?" ucap orang itu dengan tatapan terlihat sinis.


"Julian dan Namira yang lagi banyak duit, Bi," jawab sang kakak, nada bicaranya terdengar kesal melihat orang yang baru saja masuk.

__ADS_1


"Gaya gayaan pakai bagi bagi duit, nanti juga bentar lagi duit itu akan diminta balik pas kepepet dengan alasan minjem" cibir Bibinya Namira.


...@@@@@...


__ADS_2