PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Gara Gara Ranjang


__ADS_3

Sepasang pengantin baru benar benar dibuat malu malam ini. Entah karena ranjang kayunya yang sudah lapuk atau memang ganasnya perang bibir yang terjadi diatasnya, ranjang itu sampai tak kuasa menahan beban dari dua orang yang sebenarnya sudah mulai dirasuki hasrat yang berkobar dalam jiwa mereka. Karena sebuah kejadian yang tidak pernah disangka, hasrat yang hampir meraih puncak itu harus lenyap seketika karena ambruknya ranjang mereka.


Rasa malu itu makin bertambah saat suara ledekan dan tawa menggema dari mulut keluarga yang mendengarnya. Julian dan Kamila hanya duduk di ruang tamu dengan kepala menunduk sembari menunggu kamar yang sedang dibereskan oleh Bapak.


"Aku pikir tadi ada gempa ya, Mas," ucap Ilham, adik Kamila yang menginjak kelas tiga di sebuah Smp.


"Ya emang ada gempa, Ham. Gempanya khusus, jadi kamar Mbak Mila aja yang kena," balas Arif. Padahal kakak beradik itu duduknya di ruang tengah, tapi ngobrolnya terdengar sampai di ruang tamu. Otomatis Julian dan Kamila, mau tidak mau ikut mendengarnya.


"Gempa khusus? Kok bisa, Mas? Apa sebabnya?" tanya remaja itu nampak begitu penasaran.


"Ya bisa dong. Gempa khusus itu hanya terjadi pada saat saat tertentu aja. Sebabnya ya mungkin karena terlalu semangat dan ganas dalam genjatan senjata yang dilakukan."


"Oh gitu?" ucap Ilham sambil manggut manggut. "Mbak Mila! Emang tadi Mbak Mila ke kamar bawa senjata?"


Sontak saja semua yang mendengar pertanyaan Ilman langsung tergelak kecuali Julian dan Kamila. Mereka hanya mampu cengar cengir tanpa berani menatap ke semua orang.


"Yang bawa senjata ya, Mas Julian," celetuk Bapak sembari mengeluarkan kayu kayu bekas ranjang anaknya.


"Wahh! Mas Julian hebat!" puji Ilham. "Boleh lihat senjatanya nggak, Mas?"


"Hahaha ..." lagi lagi suara tawa menggema. "Mana boleh! Senjatanya Mas Julian ya hanya untuk menyerang istrinya."


"Lah, nanti Mbak Mila mati dong?"

__ADS_1


"Aduh Ilham! Udah sana tidur! Udah malam!" hardik ibu yang udah tidak tahan dengan segala pertanyaan yang dilontar anak bungsunya. Tentunya Ibu mertua kasihan sama menantunya karena sedari tadi diledekin terus.


"Ya ampun, Bu, aku kan pengin tahu," protes Ilham.


"Nggak usah protes! Udah malam, besok sekolah," Ibu mertua langsung pasang mode marahnya membuat remaja itu langsung lari menuju kamar.


"Ini kamarnya udah beres, Mil!" seru Bapak beberapa menit "Perangnya mau dilanjut ya silakan."


"Apaan sih, Bapak," gerutu Kamila. Sementara si Bapak malah terbahak sembari masuk ke dalam kamarnya, menyusul sang istri yang sudah berada di sana. Arif juga sudah berada di kamarnya sejak beberapa hari yang lalu. Tinggalah Kamila dan suaminya yang masih bertahan di ruang tamu.


"Mas Julian nggak ngantuk?" tanya Kamila memecah keheningan. "Mending kita masuk kamar. Udah malam."


Julian pun hanya mengangguk, lantas keduanya bangkit dari duduknnya dan beranjak menuju kamar mereka. Suara tawa mereka pecah meski tertahan begitu mereka sampai di dalam kamar.


"Maaf ya, Mas? Tidurnya jadi nggak pake ranjang," ucap Kamila sembari duduk di sisi kasur yang untuk sementara dialasi pakai tikar


"Tapi sepertinya rasa panik kamu udah hilang deh, Mas. Bahkan kamu tadi ganas banget sampai bibir aku kegigit," ucap Kamila sambil memegang bibirnya yang lecet.


"Loh, kok kamu nggak bilang?" ucap Julian merasa tak enak.


"Orang enak, ngapain mesti bilang sih, hehehe ..."


"Bisa aja kamu, Dek," balas Julian ikut tertawa juga. "Maaf ya, soalnya aku baru pertama kayak gitu, jadi ngggak tahu cara yang lembut."

__ADS_1


"Ya nggak apa apa, Mas. Nanti kita sama sama belajar. Yang penting, kamu bisa atasi dulu rasa panikmu itu."


"Baiklah, aku akan berusaha. Makasih ya, Dek."


"Jangan terlalu sering bilang makasih. Mending kita tidur, udah malam banget."


Julian pun menyetujuinya. Keduanya berbaring dengan posisi Kamila merebahkan kepalanya di dada bidang Julian. Tanpa banyak percakapan yang terjadi, mereka akhirnya terlelap.


Di tempat lain, di malam yang sama.


"Gimana ini, Rey? Julian mau mengusut masalah yang kemarin?" ucap Lehan terlihat panik.


"Kamu tenang saja, Julian nggak bakalan mampu melawan kita. Kalau perlu kita jatuhkan nama baiknya juga," ucap Reynan dengan tenang.


"Menjatuhkan namanya bagaimana? Wajarlah aku tidak tenang. Ini menyangkut aib kita."


"Hahha ... dia itu hanya pedakang batagor, dia dapat uang darimana untuk sewa pengacara? Udah nggak usah panik. Aku tahu apa yang harus aku lakukan untuk menjatuhkan nama Julian itu."


"Beneran?"


"Benar lah, kamu nggak usah khawatir."


"Baiklah.!"

__ADS_1


Dan dua pria itu kembali meneruskan hubungan yang salah.


...@@@@@...


__ADS_2