
"Astaga! Apa mereka belum pada pulang? Ini udah jam berapa? Ya ampun mereka pada kemana?" Julian terlihat makin frustasi. Dengan langkah gontai dia menjatuhkan tubuhnya di atas sofa. Pikirannya menerawang membayangkan wajah kecewanya para istri saat dia menghardiknya lewat telfon.
Sekitar lima belas menit, Julian terbaring di sofa. Begitu rasa lapar semakin menyeruak, dia bangkit dan beranjak menuju meja makan. Saat membuka tudung saji, Julian merasa terharu dan semakin menyesal. Di sana sudah ada oseng kikil cabe hijau, perkedel dan kerupuk. Menu yang tidak sama dengan saat sarapan.
Julian segera mengambil nasi dan menyantap hidangan istrinya dengan perasaan yang tidak bisa diungkapkan. Yang pasti dari semua rasa yang ada, dia hanya ingin segera minta maaf kepada tiga istrinya. Selesai menyantap hidangan yang ada, Julian memilih melaksanakan ibadah sore lalu pergi ke rumah lama, Julian berpikir mungkin istrinya pamit pada orang yang ada di sana.
"Loh, emangnya mereka pergi tidak pamit?" tanya Bu Sukma saat Julian sudah berada di rumah lama dan bertanya pada sang bibi. Julian pun menggeleng lemah. "Apa kalian sedang marahan?" Julian mengangguk lemah dengan tatapan mata tertuju pada si kembar.
"Pasti ucapan kamu keterlaluan ya, Jul? Sampai istrimu pergi?" tanya Bi Atikah. Julian hanya terdiam meski hatinya membenarkan kalau dirinya yang keterlaluan. "Marah boleh, tapi apa kamu nggak bisa menjaga mulutmu agar tidak menyakiti mereka?"
Julian masih terdiam dan memang itu yang bisa dia lakukan saat ini. Mau membela diri juga tidak akan berguna karena posisinya saat ini dia yang salah.
__ADS_1
"Berat loh, Jul, bagi seorang wanita yang harus ikut suaminya saat mereka menikah," ucap Bu Sukma. "Banyak wanita yang harus menahan diri dari segala keinginannya demi mengabdi pada sang suami. Saat di rumah sendiri, wanita bisa melakukan apa saja sesuai hatinya. Namun saat dia sudah bersama suaminya, dia harus menjadi wanita yang tangguh demi menyenangkan sang suami. Menyiapkan makanan, mencuci pakaian, beberes rumah. Jika hatinya masih disakiti, wanita itu pasti akan merasa menjadi istri yang tidak berguna."
Ucapan Bu Sukma cukup membuat hati Julian sedikit tersentil. Rasa bersalahnya terus menyeruak dan semakin meluas. Sedangkan Bu Sukma sendiri, kejadian yang menimpa anaknya mengingatkan dirinya saat masih hidup bersama sang suami. Betapa berat tekanan yang dia rasakan saat harus hidup bersama keluarga suaminya.
"Kamu sudah telfon ke rumah mereka masing masing? Kali aja mereka pada pulang ke rumah," ucap Bi atikah. Julian hanya menggeleng lemah. "Ya telfon dong? Apa kamu takut mertua kamu marah?"
Lagi lagi Julian tidak bereaksi. Nytanya ada rasa takut yang menyeruak jika para istri benar benar pulang ke rumahnya. Para mertua pasti sangat kecewa pada Julian jika para istri cerita alasan yang sebenarnya mereka pulang.
"Mumpung masih sore, mending kamu segera jemput istri kamu. Jangan biarkan masalah bertambah larut. Nggak baik," nasehat Bu Sukma.
Setelah mengalami perdebatan batin yang cukup alot, akhirnya Julian terlebih dahulu mendatangi rumah Safira yang jaraknya memang lebih dekat. Julian berharap di rumah Safira dia tidak sampai menginap karena harus menjemput dua istrinya yang lain.
__ADS_1
"Fir!" seru Umi dari depan pintu kamar anaknya. "Ada suami kamu."
"Iya, Mi," sahut Safira yang katanya sedang rebahan di dalam kamar. Beruntung ayah mertua tidak memarahi Julian saat menantunya datang untuk menjemput anaknya. Julian hanya diberi nasehat yang mungkin berguna untuk menantunya.
Setelah cukup lama ngobrol dan sebagainya, akhirnya Julian pamit karena harus menjemput istri yang lainnya. Sepanjang perjalanan, tidak ada kata yang terucap diantara Julian dan istrinya hingga mereka sampai rumah.
"Kamu tunggu sebentar di rumah ya, Dek. Aku mau jemput Kamila dan Namira dulu," pamit Julian. Safira hanya mengangguk pelan tanpa menatap wajah suaminya. Julian pun bergegas meninggalkan isrtrinya untuk menjemput istri yang lainnya.
Hingga malam menjelang, akhirnya Julian berhasil membawa pulang semua istrinya. Cukup melelahkan dan menegangkan, tapi untungnya tidak ada mertua yang ikut campur dalam permasalahan rumah tangga anaknya. Malah hampir semua mertua, memberi nasehat yang baik dan pastinya sangat berguna bagi pasangan yang usia pernikahannya belum genap sebulan itu.
Bingung dan canggung, itu yang Julian rasakan saat ini. Sejak istrinya kembali, belum ada pembicaraan yang serius dari hati ke hati. Julian yang sedang menyendiri di teras rumah terlihat sangat frustasi.
__ADS_1
"Padahal semua sudah ada di rumah, kenapa aku semakin bingung dan takut ya?"
...@@@@@...