PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Perubahan Rencana


__ADS_3

"Mas Jul, mending Mas Jul berbaring deh, nanti kita gantian cium bibirnya."


Usulan Safira tentu saja membuat Julian dan yang lainnya ternganga. "Nggak usah. Nggak enak sama Bibi," tolak Namira karena keingat tadi sempat ketahuan sama si kembar.


"Ah iya," Safira menepuk keningnya dan dia turun dari pangkuan Julian. "Kita kapan sih pindahnya? Biar enak gitu kalau kita mau ngapain aja."


"Kan nunggu rumah yang satunya siap, Dek," Julian pun bangkit. "Aku mau beres beres gerobag dulu," pamit Julian dan dia langsung pergi keluar kamar meninggalkan istrinya.


Begitu keluar kamar, Julian tidak menemukan Bibi dan si kembar. Julian berpikir mungkin mereka lagi keluar. Julian pun melanjutkan langkahnya menuju ke lapaknya. Karena rencananyya besok Julian mau jualan jadi dia merasa harus membersihkan dan merapikan tempat dirinya dalam mencari rejeki.


Meski dengan adanya kartu hitam, Julian tahu dirinya adalah orang kaya, tapi Julian tidak menggunakan kekayaanya itu untuk bermalas malasan. Lagian Julian sendiri juga belum yakin tentang asal usul uang yang ada dalam kartu hitam tersebut. Kalaupun itu berasal dari ayahnya, tapi kenapa ayahnya tidak datang untuk menemuinya? Apa mungkin ayahnya punya keluarga baru?


Di saat Julian mulai sibuk beres beres, para istri Julian datang dan berniat membantunya. Julian lantas menyerahkan lapaknya untuk dibersihkan kepada tiga istrinya dan dia malah duduk diatas motor sambil sesekali memperhatikan wajahnya di kaca spion.


"Jadi Mas Jul besok sudah mulai jualan?" tanya Safira yang memilih duduk di bangku yang ada di sana.


"Iya, kenapa?" balas Julian menatap istrinya.


"Terus aku gimana? Masih jualan di pasar aja apa gimana?"

__ADS_1


"Astaga! Kok aku bisa lupa!" pekik Julian. "Kita belum membahas usaha kalian lebih lanjut."


"Iya benar, Mas Jul, usaha kita juga harus kita bahas juga dong," protes Kamila.


"Ya maaf kalau aku lupa. Lagian kan kalian tahu, setelah menikah, satu minggu ini kita ngapain aja," balas Julian membela diri. "Setelah gerobag beres, kita ke rumah baru aja bahas usaha kalian, gimana?" ketiga istri Julian langsung setuju saja.


Tak lama kemudian urusan gerobag pun selesai dan kebetulan pas Julian mau ke rumah baru, Ibunya pulang dari pasar jadi dia dan ketiga istrinya bisa meninggalkan rumah dengan tenang karena Bibi ada yang bantuin menjaga si kembar.


"Sejak Julian menikah, kok aku malah jadi jarang ngobrol sama tuh anak ya? Tiga hari ini aja malah jarang sekali ketemu," keluh Bu Sukma kepada Bi Atikah.


"Ya begitulah anak anak kalau udah berkeluarga. Tapi sepertinya Julian sudah sangat menerima pernikahannya, Mbak. Dia kayak menikmati gitu memilki tiga istri," ucap Bi Atikah yang sedang menyetrika baju selagi si kembar sedang tidur siang.


"Nggak ada yang perlu di khawatirkan, Mbak. Lagian sepertinya Julian sudah sembuh dari rada paniknya deh, Mbak."


"Hah! Sudah sembuh? Yang benar?"


"Sepertinya sih begitu. Tadi Dana cerita, kalau dia melihat Mbak Namira duduk dipangkuan Mas Jul, gitu."


"Hah!"

__ADS_1


Bu Sukma nampak syok, sedangkan si Bibi malah senyum senyum. Julian sendiri sekarang sedang melihat kios bersama ketiga istrinya. Mereka berempat juga sedang merencanakan tempat usaha baru mereka.


"Ya udah kalian catat aja, apa yang kalian butuhkan, nanti kita cari sama sama," ucap Julian sambil melangkah keluar kios dan melangkah masuk menuju komplek rumahnya bersama para istri.


"Berarti mending Mas Jul jangan jualan dulu deh. Tuntaskan dulu usaha kita. Lagian renovasi rumah juga belum selesai," usul Namira.


"Iya, Mas Jul. Selesaikan dulu semua urusan, baru Mas Jul bisa fokus dagang," Kamila ikut bersuara, memberi dukungan pada Namira.


"Benar, lagian Mas Jul juga sedang tidak kekurangan uang ini kan?" Safira pun turut memberi dukungan.


"Astaga! Aku dikeroyok!" seru Julian. "Iya, iya, aku jualannya di undur."


Karena terlalu fokus mengobrol sepanjang perjalanan, Julian dan istrinya tidak menyadari kalau mereka menjadi pusat perhatian. Melihat ketiga istrinya nampak akur, banyak para pria menaruh rasa iri pada Julian. Banyak yang membayangkan ingin bernasib sama seperti Julian memiliki tiga istri yang akur satu sama lain.


Berbeda dengan tatapan para wanita muda, mereka iri karena mereka tidak berhasil menjadi bagian penting dari hidupnya Julian. Mereka juga ingin menjadi istri pria tampan itu. Sama halnya dengan seorang wanita yang menatap penuh benci kepada tiga wanita yang jadi istri Julian. Sorot matanya tajam dengan segala rasa iri dihatinya.


"Sekarang kalian boleh bahagia. Tapi nanti jika aku jadi istri ke empat Julian, akan aku tendang kalian satu persatu dari hidup Julian. Lihat aja!"


...@@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2