
Sementara itu di saat Julian sedang pergi dengan segala keperluannya, tiga istri Julian nampak sedang duduk bersama bersama keluarga Julian yang ada di rumah. Mereka juga asyik bermain sama si kembar Dana dan Dini yang sebentar lagi akan memasuki usia sekolah.
"Bagaimana kabar keluarga kalian?" tanya bu Sukma di sela sela pembicaraan mereka di ruang tengah kepada para menantunya yang memilih duduk di atas kasur lantai.
"Kalau Abah dan Umi sih Alhamdulillah baik, Bu," jawab Safira. Jawaban senada juga dilontarkan oleh dua istri Julian yang lainnya.
"Syukurlah, kalau orang tua kalian dalam keadaan baik," balas Bu Sukma sembari tersenyum senang. "Apa kalian tidak ingin mengunjungi rumah kalian?"
"Ya pengin sih, Bu," kini Kamila yang bersuara. "Tapi kata Mas Jul, nggak boleh pulang sendirian. Takutnya ada kejadian yang tidak enak."
"Ya memang benar," Bi Atikah menimpali. "Kallian harus pulang bersama suami kalian. Tapi susah juga ya? Julian harus dibagi tiga, hahaha ..."
"Mungkin paling nanti di atur, Bi," jawab Namira. Gantian hari gitu."
"Hahaha ... pake dijadwal segala. Lucu juga ya?" Bi Atikah tertawa nyaring.
"Oh iya, Paman, apa aku boleh tanya?" tanya Namira.
Paman Seno yang sedari tadi sedang fokus nonton televisi sontak saja menoleh ke arah Kamila. "tanya Apa?"
__ADS_1
"Apa alasana Paman memilih menikahkan kami saat itu? Bukankah Paman Seno tahu Julian memiliki kekurangan?"
Kening Seno langsung berkerut, lalu dia bangkit dari rebahannnya dan duduk menghadap ketiga istri Julian. "Jadi kalian sudah tahu soal kelemahan Julian?"
"Sudah, Paman," Namira yang menjawab. "Semalam dia yang cerita sendiri."
Paman Seno nampak manggut manggut, lalu dia menatap kakak perempuannya sejenak sebelum menjawab pertanyaan Namira. Tatapan mata kedua kakak beradik itu seakan memberi kode untuk menceritakan sesuatu. Setelah itu dia kembali menatap para istri Julian.
"Kemungkinan, apa yang dialami Julian adalah bawaan dari Bapaknya. Dulu Bapaknya Julian menikahi Ibu julian juga dipaksa kayak kalian, tapi setelah menikah Bapaknya Julian malah bisa sembuh. Maka itu aku memilih menikahan Julian daripada memilih jalur hukum."
Ketiga wanita yang menjadi istri Julian saling pandang sejenak, lalu mereka kembali menatap Paman Seno. "Jadi dengan kata lain kami diperalat untuk kesembuhan Julian?" ucap Kamila, dan hal itu sangat mengejutkan Paman Seno dan yang lainnya.
"Maaf jika aku lancang," Namira pun ikut bersuara. "Jujur kami kecewa. Kami yang tidak ada niat jahat sedikitpun malah harus menanggung hal semacam ini. Lantas bagaimana jika orang tua kami tahu?"
"Orang tua kalian sudah tahu," ucap Paman pelan tapi cukup mengejutkan ketiga wanita itu.
"Apa! Bagaimana bisa?"
"Maaf, mungkin tindakan Paman terlalu menyakiti kalian. Tapi kalian masih ingat kan saat persidangan kalian, aku berbicara dengan ayah kalian?" Ketiga istri Julian mengangguk serentak. "Di situlah, aku menceritakan keadaan Julian, dan ayah kalian bersedia membantu Paman untuk menyembuhkan Julian."
__ADS_1
Namira, Kamila dan Safira langsung terbungkam. Mereka sangat tidak menyangka, akan ada drama seperti ini dalam perjalananan pernikahan mereka.
"Paman minta maaf, ini murni kesalahan Paman. Paman benar benar tidak mempertimbangkan perasaan kalian saat itu. Maaf banget," ucap Paman Seno penuh sesal.
Tiga wanita itu tetap diam, tak lama setelahnya mereka satu persatu undur diri menuju kamar mereka. Bu Sukma hanya bisa membisu dengan perasaan yang tidak karuan. Dia juga pernah berada di posisi seperti wanita itu meski jalan awalnya beda.
"Sekarang kita harus bagaimana, Pak?" tanya Bi Atikah.
"Bagaimana apanya, Bu. Pernikahan sudah terlanjur terjadi," ucap Paman Seno yang masih terlihat menyesal dengan keputusannnya.
Di saat yang sama, motor Julian terdengar memasuki halaman rumahnya. Dengan wajah terlihat ceria, Julian bergegas turun dari motornya dan langsung masuk ke dalam rumah dengan menenteng godie bag berisi ponsel untuk para istirnya.
"Darimana, Jul?" tanya Bu Sukma begitu Julian berada di ruang tengah.
"Jalan jalan, Bu," jawab Julian tanpa menyadari keadaan yang tidak biasa di wajah sang Ibu, Paman dan Bibinya. Mungkin karena terlalu senang, Julian tidak menyadari hal itu. Dia langsung saja melangkah menuju kamarnya berharap para istirnya senang dengan apa yang Julian beli untuk mereka.
Namun betapa terkejutnya Julian begitu sampai kamar melihat keadaan ketiga istrinya. "Kalian kenapa? Kok nangis?"
...@@@@@...
__ADS_1