PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Peringatan Dari Sang Istri


__ADS_3

"Gimana, Mas? Mereka udah pada tidur?"


"Aman."


Sepasang suami istri itu langsung saling melempar senyum. Julian kembali mengungkung tubuh sang istri setelah tadi ke kamar sebelah sejenak melihat dua istri lainnya. Julian langsung menyerang Namira dengan kecupan bertubi tubi. Kini Julian juga sudah mulai berani menjelajahkan bibir dan tangannya ke setiap inci tubuh istrinya.


Tangan Julian bergerak lembut melepas satu persatu kain yang menempel pada tubuh sang istri. Sedangkan Julian sendiri sarungnya sudah terlepas sejak masih duduk di sofa. Sekarang, Julian tinggal melepas baju koko dan kaos tipis tanpa lengan di dalamnya serta melepas segitiga bermudanya.


Hanya belajar satu malam saat bersama Safira, sekarang Julian sudah terlihat mahir dalam mengeksplor tubuh wanita. Dengan sangat rakus, mulut Julian melahap satu persatu bukit kembar milik istrinya. Tangannya pun tak mau kalah, dan tempat paling lama Julian sentuh adalah lubang milik istrinya.


"Mas, masukin, jangan kelamaan," rengek Namira dengan suara terbata dan agak berat.


"Iya, sayang."


Julian langsung memposisikan dirinya dihadadapan gundukan daging berbulu rimbun milik istrinya. Julian melakukan persiapan yang sama saat miliknya hendak memasuki gundukan daging nikmat tersebutnya.


"Aaakhh ..." suara Namira melengking cukup panjang meski tidak kencang saat benda milik suaminya mulai menyeruak masuk secara perlahan.


"Masih sakit ya, Sayang?" tanya Julian lembut begitu batangnya sudah tertanam semua dan dia mendiamkannya.


"Masih, tapi nggak sesakit kayak kemarin," balas Namira pelan. Ada rasa lega dalam hati Julian. Bibirya kembali menempel pada pada bibir istrinya. Sembari melakukan perang bibir, perlahan tapi pasti pinggang Julian bergoyang dan penyodokan pun di mulai.


Hingga beberapa menit berlalu.


"Mas," panggil Namira saat keduanya telah selesai menuntaskan hasratnya. Layaknya pasangan yang telah memadu kasih. Kepala wanita berbaring di dada sang pria adalah hal yang biasa terjadi. Begitu juga yang sedang dilakukan pasangan suami istri tersebut.

__ADS_1


"Apa, Sayang?"


"Mas jangan sampai loh, masukin batang Mas jul ke lubang wanita lain."


"Ya enggak lah, Sayang. Mas aja udah memliki tiga lubang yang halal. Ngapain Mas mencari kepuasan dari wanita lain."


"Ya takut aja. Soalnya punya Mas gede. Diluaran sana tuh banyak wanita yang doyan ama yang gede kayak punya kamu, Mas. Kayak tadi tuh si suadaranya Kamila, sumpah aku pengin banget ngerujak wajah dia."


"Emangnya dia ngapain?"


"Lihatin kamu terus lah. Bikin kesel. Udah tahu ada istrinya."


"Hahaha ... yang penting kan suaminya nggak ke goda, Sayang. Udah, jangan terlalu berpikiran buruk. Mas nggak mau, hubungan kita jadi buruk hanya gara gara pemikiran kita yang penuh prasangka."


"Nggak ada yang perlu ditakutkan, Sayang. Kalau kamu takut, berarti kamu nggak percaya sama suamimu."


"Hehhe ... iya iya."


"Ya udah mending sekarang kita pakai baju terus pindah ke kamar sebelah yuk."


Namira mengiyakan. Malam ini kembali berakhir cukup dengan satu ronde karena mereka cukup lelah dengan kegiatan persiapan syukuran tadi siang. Mereka lantas beranjak menuju kamar dimana Kamila dan Safira sudah terlelap.


Sedangkan di tempat lain, dimana tempat itu memilki perbedaan waktu dengan tempat Julian berada, sang ayah justru sedang mempersiapkan diri hendak terbang menemui anak dan istrinya beberapa hari lagi bersama sang asisten dan keluarganya. Alonso sengaja mengajak keluarga Jhon karena bagi dia, keluarga Jhon adalah keluarganya juga. Setelah benar benar dinyatakan sehat, Alonso langsung saja mengatur jadwal secepat mungkin untuk terbang ke negara istrinya.


"Tuan," sapa seorang pelayan.

__ADS_1


"Iya, ada apa Corazon."


"Di luar ada Nona Ciripa, katanya ingin bertemu."


"Ngapain lagi dia kemari?"


"Tidak tahu, Tuan. Katanya pengin memberi kejutan. Dia datang bersama seorang pria."


"Kejutan?" kening Alonso sontak berkerut, dan sang asisten rumah tangga mengangguk. "Baiklah, suruh dia tunggu di luar."


"Baik, Tuan."


Corazon segera beranjak untuk melaksanakan tugasnya, sedangkan Alonso kembali fokus mengecek data yang berisi persiapan tentang segala sesuatu yang dia butuhkan selama nanti Alonso berada bersama istrinya. Namun, karena penasaran dengan kejutan yang akan diberikan Ciripa, Alonso pun akhirnya bangkit dari tempat duduk dan beranjak meninggalkan ruang kerjanya.


"Hai Om!" seru Ciripa dengan wajah sumringah, menyambut kedatangan sang tuan rumah. Sedangkan Alonso sendiri menatap wanita itu dengan tatapan datar. Di sebelahnya duduk seorang anak muda yang sedang manatap Alonso dengan tatapan yang sukar diartikan.


"Ada apa kamu kemari?" tanya Alonso langsung pada intinya.


"Ya ampun, Om. Ya jenguk Om lah. Tadi ke rumah sakit, katanya Om sudah pulang, jadi aku langsung ke sini deh," ucap Ciripa dengah wajah ceria sambil berpindah tempat duduk di kursi sebelah Alonso. "Aku tuh kesini mau ngasih kejutan untuk Om."


"Kejutan? Kejutan apa?" ucap Alonso terlihat biasa saja. Sesekali matanya melirik ke arah anak muda yang sedari tadi menatapnya.


"Om tahu nggak dia siapa?" tanya Ciripa sambil menunjuk ke arah anak muda itu. Alonso hanya mengangkat kedua bahunya sebagai jawaban. "Dia itu, Julian, putra Om Alonso."


...@@@@...

__ADS_1


__ADS_2