PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Berulah Tiada Batas


__ADS_3

"Jul."


"Hum?"


"Kamu nggak ada niat buat nambah istri?"


Julian sontak menoleh ke arah tetangganya yang sedang cengengesan. Sudah Julian duga, tetangga bernama Samsul itu pasti datang karena ada maksud terselubung. Julian memilih diam dan kembali fokus dengan game diponselnya. Bagi Julian, tidak penting meladeni pertanyaan tetangganya itu.


Sedangkan Samsul merasa kesal karena pertanyannya diabaikan oleh Julian. Namun pria itu tidak berani menunjukkan kekesalannya karena dia tahu siapa Julian yang ada di hadapannya saat ini. Jika bukan karena Julian anak sultan, Samsul tidak mungkin mau beramah tamah dengan pemuda itu. Setelah Samsul tahu latar belakang keluarga Julian, Samsul merasa dia harus bisa akrab dengan pria beristri tiga tersebut. Apa lagi dia juga tahu, Mirna, ingin menjadi istri Julian juga. Sebagai kakak, tentu saja dia sangat mendukung kenginan adiknya.


"Jul," Samsul memanggil kembali.


"Hum?" jawaban yang sama, Julian lontarkan dengan mata terus menatap layar ponsel. Meski konstresinya sangat terganggu karena kehadiran Samsul, tapi Julian lebih memilih terus memainkan game daripada meladeni tamu yang tidak diharapkan kehadiranya.


"Kamu nggak ingin nambah istri?" pertanyaan yang sama kembali Samsul lontarkan.


"Nggak." jawab Julian singkat tanpa menoleh ke arah lawan bicara.

__ADS_1


"Kenapa?"


"Nggak Minat."


"Loh? Kamu kan sekarang kaya raya, masa nggak minat? Apa kamu dilarang oleh istri istri kamu untuk nikah lagi? Punya hak apa mereka? Harusnya suka suka kamu dong, Jul. Kan kamu yang kaya?" Samsul malah mencecar Julian beberapa pertanyaan dengan sangat antusias, hanya karena Julian menangapi pertanyaannya. Namun apa yang Samsul dapat, Julian kembali mengabaikannya. Julian malah asyik dengan game yang sedang dia mainkan.


Julian sendiri sangat malas menangapi pertanyaan pria itu. Dia sudah tahu tujuan Samsul itu apa. Jika diladenin malah semakin menjadi perdebatan. Julian tidak mau membuang waktu dan tenaga hanya untuk sesuatu tidak ada gunanya.


"Jul," Samsul kembali memanggil. Kali ini panggilannya dengan suara yang cukup tinggi. Sebenarnya Samsul sangat kesal karena ocehannya tidak ditanggapi Julian, tapi dia harus bisa menahan emosinya.


"Gimana pertanyaanku? Kok nggak dijawab?"


"Nggak ada niat nikah lagi, cukup jelas, bukan?"


"Alasannya apa? Kamu kan orang kaya? Masa takut sama istri. Kalau mereka melarang kamu menikah lagi, ya tinggal ceraikan aja mereka. Pasti istrimu nggak bakalan mau dicerai. Secara tahu kamu anak orang kaya."


Julian kembali terdiam. Lebih tepatnya dia sangat malas menanggapi ucapan orang itu. Julian kembali meneruskan main gamenya. Dia bahkan sambil teriak teriak segala. Sejujurnya dalam hati Julian sudah emosi dan ingin membalas ucapan Samsul, tapi Julian lebih memilih menahan emosinya dan mengalihkannya ke game.

__ADS_1


"Jul! Aku tuh lagi ngomong loh sama kamu. Nggak sopan banget sih, ada orang ngajak ngobrol malah diabaikan," Samsul mulai mengungkapkan kekesalannya karena diabaikan. "Ada orang ngajak ngobrol itu dihargai, bukan malah asyik sendiri main game."


"Ya udah sana, Mas Samsul pulang aja. Orang sedang asyik main game malah digangguin," Julian juga tak mau kalah mengungkapkkan kekesalannnya. Dia bahkan mengatakan hal itu tanpa menoleh.


Dada Samsul sontak saja bergemuruh. Nafasnya mendadak berhembus lebih cepat. Wajahnya memerah dengan tatapan mata yang cukup tajam ke arah Julian. Jelas sekali terlihat kalau dia semakin emosi mendengar ucapan Julian.


"Kamu itu benar benar nggak sopan ya, Jul! Mentang mentang orang kaya, ada orang datang baik baik malah di usir. Kamu mau? Nama kamu aku viralkan?"


"Ya silakan. Lagian mending main game daripada nanggapin omongan Mas Samsul yang nggak ada manfaatnya sama sekali. Nggak penting tahu nggak? Kenapa bukan Mas Samsul yang nikah lagi. Mas Samsul kan juga orang kaya, kenapa istrinya cuma satu? Takut sama istri Mas Samsul? Kalau takut ya cerai aja. Mas Samsul aja nggak berani, ngapain nyuruh orang lain nikah lagi? Ngaca kalau mau ngomong!" Julian benar benar meluapkan emosinya. Meski suaranya tidak lantang dan cukup halus, ucapan Julian mampu membuat Samsul ternganga.


Begitu Julian selesai meluapkan emosinya, pria beristri tiga itu langsung beranjak masuk ke dalam. Dia sangat yakin, Samsul pasti tidak terima dengan ucapannya, makanya daripada terjadi perdebatan, Julian memilih meninggalkan Samsul.


Muka Samsul benar benar merah padam sekarang. Emosinya langsung naik begitu Julian sudah tidak kelihatan di depan matanya. Tanpa pikir panjang, Samsul langsung berteriak teriak memaki Julian dengan perkataan kasar. Tentu saja perbuatan Samsul mengundang perhatian para warga sekitar. Melihat beberapa warga menyaksikan apa yang Samsul lakukan, pria itu malah memanfaatkan keadaan untuk mencari perhatian warga dengan menjelekkan nama Julian.


"Dengarkan saya, para warga! Siapa yang nggak marah kalau kita bertamu dengan niat baik tapi malah dibaikan? Apalagi Pake nyuruh nyuruh saya untuk nikah lagi, apa itu nggak kurang ajar namanya!"


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2