
"Tentu saja aku kesini tidak dengan tangan kosong, Tuan. Aku kesini membawa kabar yang bagus untuk anda."
"Ah ... kabar bagus apaan? Paling kabar biasa, nggak jauh jauh dari pekerjaan."
"Hahaha ... tentu bukan dong, tuan," Jhon menjeda ucapannya lalu dia menatap serius ke arah Tuannya. "Ini kabar tentang putra anda, Julian Alonso Darwin."
"Apa!" pekik pria tua bernama Alonso Darwin dengan wajah sangat terkejut. Matanya hampir tak berkedip menatap orang kepercayaannya. "Julian? Kamu sedang tidak bohong kan, Jhon?"
Wajar jika Alonso masih merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar. Sudah sering kali dia mendapat kabar tentang keberadaan anak dan istrinya, tapi hasilnya kosong. Bahkan tak jarang juga Alonso kena tipu demi menemukan anak dan istrinya.
Jhon kembali tersenyum. "Aku juga mendapatkannya secara tidak sengaja, Tuan. Tapi setelah aku selidiki, ternyata benar, dia adalah Julian Alonso Darwin, putra anda."
Hati Alonso sontak bergetar. Rasa haru, bahagia dan takut bercampur di dalam dadanya. "Darimana kamu dapat info seperti itu?"
"Anda pasti tidak menyangka, karena kelainan yang anda derita justru menjadi jejak dimana Julian dan Nyonya Sukma berada saat ini."
"Apa? Kelainanku? Kelainan yang ..." Alonso menghentikan ucapannya saat dia mengingat kelainan yang dia derita saat muda dulu. Matanya tiba tiba melebar. "Jadi Julian mengalaminya juga?"
Jhon langsung mengangguk dengan senyum yang terkembang. "Dia mengidap kelainan yang sama seperti anda, saat anda masih muda, Tuan. Ternyata Nyonya Sukma pernah memeriksakan kondisi Julian ke spikiater. Dari data itu lah saya tahu kalau orang yang mengidap kelainan yang sama dengan Tuan, pasti anak anda."
"Benarkah? Astaga! Dia pasti sangat menderita, Jhon." ucap Alonso dengan pikiran menerawang ke masa lalu.
__ADS_1
Dulu saat masih remaja dan beranjak dewasa, Alonso juga memiliki kelainan yang sama dengan Julian. Berbagai tuduhan dan pandangan buruk, Alonso terima. Bahkan orang tua Alonso juga ikut menghina dirinya karena di anggap pria yang gagal, hanya karena Alonso selalu malu dan panik jika berdekatan dengan lawan jenis yang suka kepadanya.
Karena tak terima dengan segala tuduhan orang orang di sekitarnya, Alonso terpaksa berbuat nekat. Dia memperkosa seorang gadis berkali kali hingga hamil, untuk membuktikan kalau dia adalah pria normal. Di saat gadis itu hamil, baru lah tanggapan miring tentang Alonso perlahan memudar.
Alonso juga bertanggung jawab atas kehamilan gadis itu dan bersedia menikahinya. Karena biar bagaimanapun, Alonso sembuh karena gadis itu. Hidup Alonso berubah seketika. Apa lagi saat anaknya lahir, makin lengkaplah kebahagiaan yang Alonso rasakan. Dari yang awalnya benci, gadis itu akhirnya jatuh cinta kepada Alonso. Begitu juga dengan Alonso.
Namun badai rumah tangga menerpa saat usia Julian mencapai angka lima tahun. Karena suatu keadaan yang sangat memberatkan, istri Alonso yaitu Sukma memilih kabur membawa Julian. Sejak saat itu, Alonso tidak berhenti mencari anak dan istrinya.
"Kalau begitu, kita berangkat sekarang, Jhon," titah Alonso dengan tidak sabar.
"Astaga! Tuan mau mati di tengah jalan?" protes Jhon.
"Kesehatan anda, Tuan. Nanti kalau sudah selesai semua pengobatannya, baru kita terbang. Kasihan nyonya sukma, sekalinya ketemu sama anda, harus merawat anda yang penyakitan."
Alonso langsung saja menepuk keningnya. "Astaga! Aku lupa, Jhon. Baiklah, aku akan menunggu sampai pengobatanku selesai, tapi kamu suruh orang buat ngawasin keadaan istri dan anakku."
"Beres! Sesuai dengan upah dan gajinya ya?"
"Sialan kau!"
Kedua pria yang umurnya tidak beda jauh lantas tertawa bahagia bersama. Jika Jhon tertawa karena malihat Tuannya bahagia, maka Alonso bahagia karena orang yang dia cari selama ini telah Alonso temukan. Sekarang, dia tinggal menunggu waktu sampai semua urusan kesehatan dan yang lainnya selesai.
__ADS_1
Di tempat lain, tepatnya di sebuah desa, Julian sedang duduk termenung menunggu pembeli. Barang dagangannya tinggal sedikit. Tinggal siomay beberapa biji dan juga batagornya yang tinggal seharga lima ribu saja.
"Mas, batagornya masih?" sebuah suara membuyarkan lamunan sang pedagang. Dia pun lantas menoleh. Senyum yang hendak dia kembangkan seketika batal setelah tahu siapa yang datang ke lapaknya. Julianpun langsug berpaling.
"Masih," jawab Julian datar dengan sikap menjadi sangat dingin. "Tinggal harga lima ribu."
Si pembeli menghela nafasnya dalam dalam lalu menghembuskannya secara kasar. "Nggak perlu sekaku itu. Aku datang dengan niat mau beli batagor, bukan untuk menyatakan cinta. Nggak usah khawatir."
Deg!
Hati Julian mencelos. "Berapa?" tanyanya.
"Semuanya aja," jawab si pembeli dengan wajah kesalnya.
Julian langsung melayaninya tanpa sepatah katapun. Matanya sempat melirik ke arah samping saat melihat tangan pembeli menaruh uang digerobaknya.
"Batagornya taruh situ aja, biar kita tidak bersentuhan. Takutnya kamu kena najis nanti karena bersentuhan dengan cewek murah meriah kayak aku."
Deg!
...@@@@@...
__ADS_1