
"Makasih ya, Dek."
"Dek? Kok berubah lagi?"
Kening Julian sontak berkerut. "Emang kenapa? Ada yang salah?"
Safira langsung melepas pelukannya dan memutar tubuh polosnya memunggungi sang suami. "Tadi pas sedang berhubungan badan, manggilnya sayang sayang. Mesra gitu. Eh sudah selesai, manggilnya Dek lagi," protesnya dengan suara terdengar kesal.
Julian ternganga mendengar istrinya protes dengan kesal. Dia langsung menepuk keningnya sendiri karena merasa telah berbuat bodoh. Dengan rasa bersalah yang langsung bersemayam di hatinya, Julian menggeser tubuhnya dan memeluk sang istri dari belakang.
"Maaf. Mungkin karena terbawa suasana, jadi keliru nyebutnya," Julian mencoba mencari alasan yang tepat.
"Berarti manggil sayangnya kalau sedang berhubungan badan doang?" Safira makin ketus dalam bertanya, membuat Julian gelagapan dan makin bingung mencari alasan yang tepat.
"Bukan begitu, Sayang. Astaga! Jangan salah paham dong," Julian merasa sedikit frustasi.
"Lah, salah paham gimana? Orang dugaanku bener kan? Pas dapat enak aja manggilnya sayang, giliran udah nggak, langsung berubah," Safira makin mengintimidasi.
Julian semakin ternganga. Astaga! Bukan begitu, Sayang. Kamu kan tahu, aku lagi belajar. Kalau salah sebut ya wajar, kan? Orang tadi sebelum malam pertama kan masih manggil dek, jadi wajar kan kalau aku salah nyebut."
Safira sontak tersenyum senang mendengarnya. Dia memilih diam, tak menyanggah ucapan suaminya lagi. Begitu sang istri terdiam, Julian nampak merasa lega. Alasannya ternyata bisa diterima oleh sang istri.
"Hadap sini dong, Yang? Masa aku dipunggungi," kini gantian Julian yang melayangkan protesnya.
"Loh, emang kenapa? Kan sama aja meluk?" tolak Safira sembari senyum senyum tiada henti.
__ADS_1
Julian mendengus kesal. Otaknya berpikir mencari alasan agar istinya mau menghadap ke arahnya. Tak perlu berpikir lama, Julian langsung memberanikan diri. Tangan Julian yang sedang memeluk perut istrinya bergeser sedikit hingga jarinya menyentuh bukit kembar sang istrinya. Safira sempat kaget saat tangan kekar Julian memegang benda kenyal di dadanya.
"Mas, Jul!" pekik Safira. "Nakal banget, ish. Kaget tahu," dumel Safira tapi membiarkan sang suami memencet mencet bukit kembarnya. Tadi saat awal hendak malam pertama, Julian juga sudah memainkannya dengan tangan dan mulutnya. Jadi kali ini, Safira pasrah saja.
"Ya makanya hadap sini dong, Yang," rengek Julian. "Biar bukit kembar kamu nempel di dadaku. Hangat tahu."
"Bukankah meluk dari belakang itu juga hangat yah? Malah bisa sambil megang megang kayak gini."
Mata Julian memicing, tapi tak lama kemudian dia tersenyum. "Iya deh iya," Julian mengalah. "Lubangnya masih sakit nggak, Yang?"
"Ya masih lah, Mas. Kayak pegel gitu."
"Aku pijitin boleh nggak?"
"Hehehe ..." Julian malah terkekeh, lalu dia melepaskan bukit kembar istrinya dan bergerak menuju bawah perut Safira. Setelah jari jarinya mendarat pada gundukan daging terbelah yang ditumnbuhi bulu tipis, jari jari itu langsung memijat lubang nikmat dengan lembut. Untuk sesaat mereka salinb diam. Pijatan jari Julian di lubang nikmat istrinya benar benar menghadirkan rasa nyaman.
"Mas."
"Hum? Apa, Sayang?"
"Nanti kalau Kamila dan Namira protes gimana? Aku takut mereka kecewa karena aku malam pertama terlebih dahulu."
Julian menhentikan gerakan jarinya. Membahas istri yang lain, Julian memang harus bersikap adil. "Ya sudah, nanti aku saja yang bilang sama mereka. Semoga mereka mau mengerti."
Mendengar jawaban dari suaminya, Safira sedikit lega, lalu dia berbalik badan menghadap suaminya. Safira memeluk suaminya dengan erat dan menenggelamkan kepalanya di dada bidang sang suami. Senyum Julian terpancar, dan dia juga membalas pelukan istrinya.
__ADS_1
"Lagian, lebih enak malam pertama disini sih, Dek. Daripada di rumah baru."
"Kok bisa? Enaknya gimana?"
"Kan Kamila dan Namira jauh. Coba kalau deket, yang ada aku nggak enak sama mereka. Nanti disaat kita sedang bercinta, mereka malah nganggur dan hanya mendengarnya saja. Terus di saat kita mesra mesraan gini, otomatis mereka bisa saja iri dan cemburu. Jadi mending kayak gini. Mereka nggak tahu dan pasti mereka mengerti karena kita di rumah siapa."
"Benar juga ya, Mas. Berarti besok kalau kamu nginep di rumah Namira atau Kamila, kamu bisa bercinta lagi ya, Mas?"
"Ya kalau mereka sudah siap ya bisa saja aku bercinta lagi. Aku kan harus adil juga, Sayang."
"Iya, aku mengerti, Mas Jul. Aku juga berusaha untuk ikhlas kok. Biar bagaimanapun Mas Jul kan bukan selingkuh."
"Makasih, ya, Sayang, atas pengertiannya. Aku juga sebisa mungkin akan berusaha adil sama kalian."
"Hehehe ..."
"Loh? Kok ketawa? Ada yang lucu?"
"Nggak. Aku merasa senang aja. Akhirnya aku menjadi istri dari pria yang aku cintai."
Julian lantas tersenyum lebar. "Makasih ya, Sayang. Mau bersabar menghadapi kekuranganku."
Dua anak manusia itu saling mengencangkan pelukannya dengan rasa yang amat sangat bahagia.
...@@@@@...
__ADS_1