
Wanita mana yang rela membiarkan sang suami bertemu dengan wanita di luaran sana? Pasti semua wanita tidak akan rela apapun alasannya itu, meski saat hendak pergi, sang suami pamit dan berkata apa adanya. Begitu juga dengan tiga wanita yang sekarang sedang gusar dan merasa kesal karena suami mereka akan berangkat menemui seorang wanita dengan alasan usaha.
Kamila, Safira dan Namira, tak bisa menyembunyikan perasaan kecewa dan cemburunya saat sang suami terlihat senang dan bersemangat akan bertemu dengan wanita yang mau menggunakan dagangannya untuk menu sebuah restoran. Bagi sang suami, ada rasa bangga jika hal itu benar benar terwujud. Untuk seorang pedagang kecil tentu Julian sangat senang mendapat kesempatan bagus seperti ini.
Namun, karena rasa bangga dan senang yang Julian rasakan, Julian tidak peka dengan wajah cemburu para istrinya. Julian tidak tahu kalau wanita bisa menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Yang Julian tahu, dirinya sudah mendapat ijin dari para istri untuk menemui wanita lain dengan alasan bisnis.
"Aku berangkat dulu ya? Kalau ada apa apa telfon aku," ucap Julian pada ketiga istrinya yang saat ini berada di teras depan rumah. Ketiganya tidak merespon apapun, hanya menatap sang suami yang sudah menaiki motornya dan bersiap untuk berangkat.
Beberapa detik kemudian, Julian benar benar pergi setelah mengucapkan salam. Para istri hanya terduduk pasrah, karena untuk mencegah Julian pergi pun percuma.
"Apa kita nggak sebaiknya ikuti aja Mas Jul? Nam, Mil. Perasaanku nggak enak nih," usul Safira begitu Julian hilang dari pandangan.
"Mau ngikutin bagaimana? Alamat rumahnya aja kita nggak tahu. Lagian kalau kita ngikutin Mas Jul, apa nanti dia nggak bakalan marah karena kita nggak percaya sama dia?" ucap Namira dengan kesal.
"Iya juga sih, tapi aku nggak tenang, Nam."
"Udah, kita berpikir positif aja. Semoga ini memang untuk kemajuan usaha Mas Jul. Kalau ke depannya ada yang janggal, kita tindak aja," ucap Kamila mencoba bersikap bijak.
"Tapi Mil, kalian masih ingat kan penampilan cewek yang pesan batagor itu bagaimana? Pakaiannya seksi banget. Sedangkan Mas Jul sekarang sudah sembuh dari serangan paniknya. Aku takut terjadi hal yang tidak diinginkan."
__ADS_1
"Makanya jangan terlalu sering baca novel perselingkuhan ya, Fir."
"Tapi kan hal itu bisa saja terjadi, Nam. Apa lagi keadaannya Mas Jul hanya bertemu berdua dengan wanita itu."
"Udahlah, mending kita berpikir positif aja, semoga apa yang kita takutkan nggak bakalan terjadi," ucap Kamila dengan suara agak meninggi. Dia juga merasakan kekesalan dan ketakutan yang sama dengan dua istri Julian yang lain.
Akhirnya ketiganya terdiam dengan pikiran yang sangat berkecamuk. Bersamaan dengan diamnya mereka, sebuah motor yang dikendarai dua pria datang dan berhenti di depan rumah Julian. Kening ketiga wanita yang ada disana sontak berkerut dan bertanya siapa dua orang itu. Namun saat helm mereka dilepas, ketiga istri Julian tahu siapa yang datang.
"Cari Julian ya, Mas?" tanya Safira begitu dua pria itu menghampiri mereka.
"Iya, Mbak. Juliannya ada?" tanya salah satu dari dua pria itu.
"Iya, kita kesini ada perlu, mau ngajakin Julian bikin laporan ke polisi. Biar masalahnya cepat kelar," jawab pria bernama Ferdi. "Julian pergi kemana emangnya, Mbak?"
"Ke kota, menemui seorang wanita. Ada kerja sama bisnis katanya."
Mendengar ucapan Safira, kening Budi dan Ferdi sontak berkerut dan saling tatap. "Bisnis apa, Mbak?"
"Katanya sih si cewek punya restoran gitu, dan dia pengin menggunakan menu batagor dari Julian untuk restorannya. Dengarnya sih gitu."
__ADS_1
Ferdi dan Budi tentu saja menjadi semakin penasaran. Perasaannya tiba tiba menjadi tak enak. "Kok Kalian bisa tahu kalau Julian mau menemui wanita untuk tujuan bisnis?" tanya Budi.
"Ya kan Mas Jul yang cerita, Mas."
"Tapi kok aneh. Kan yang mau pake batagor si wanitanya, kenapa malah Julian yang di suruh datang menemuinya? Harusnya kan pihak yang mengajak menemui Julian dulu?"
"Wanitanya sih emang pernah datang kesini, Mas. Tapi sekarang karena alasannya sibuk, si wanita itu meminta Julian yang datang ke rumahnya."
"Oh si wanita udah pernah kesini? Terus kenapa kalian tidak ikut? Harusnya salah satu diantara kalian ada yang ikut buat nemenin dan jadi saksi."
"Dilarang, katanya urusan bisnis harus bicara empat mata. Lagian Julian setuju aja gitu. Mungkin dia juga bakalan merasa repot dan serba salah. Ngajak satu istri nanti dikira nggak adil. Ngajak semuanya pasti ribet. Makanya, Julian setuju aja."
Ferdi dan Budi nampak menggut manggut. Namun entah kenapa perasaan dua pria itu juga merasa tidak enak. "Kalau wanita itu pernah datang ke sini, berarti kalian tahu dong nama dan ciri ciri wanita itu?"
"Ya tahu lah, Mas. Orang aku juga lihat. Kalau nggak salah namanya Lita."
"Apa!" Budi dan Ferdi memekik bersamaan.
...@@@@@...
__ADS_1