PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Kejujuran Julian


__ADS_3

Sejak pulang dari kota, Namira, Kamila dan Safira merebahkan badan mereka di dalam kamar. Pergi seharian ternyata cukup membuat mereka merasa kelelahan. Apa lagi barang yang dibeli mereka juga cukup banyak, oleh sebab itu mereka terlihat sangat capek karena muter muter keliling mencari barang di toko yang sangat luas dan besar. Tepatnya seperti Mall tapi khusus barang barang perabotan rumah dan aksesorisnya.


"Enak yah punya Blackcard, bisa beli apa saja, uang nggak bakalan habis," ucap Namira disela sela obrolan ketiga wanita itu.


"Beruntung banget Julian, dapat hadiah seperti itu, kita boleh minjam nggak yah buat belanja?" Safira menimpali penuh harap.


"Hahhaa ... mana mungkin," Kamila membantah ucapan Safira. "Dia siapa, kita siapa?"


"Lah, kita kan istri Julian," balas Safira sembari menoleh ke arah Kamila.


"Kita menang istri Julian," balas Kamila sembari memiringkan badannya dan menopang kepalanya dengan tangan membalas pandangan Safira. "Tapi kita dianggap istri saat di luar kamar. Kalau di dalam kamar, ya kita kayak orang asing."


"Iya juga ya?" Cetus Safira. Kemudian dia kembali merebahkan tubuhnya menghadap langit langit kamar. "Sekarang Julian lebih terlihat seperti orang yang kaya raya. Sedangkan aku hanya keluarga miskin dimatanya. Mungkin sebentar lagi aku akan dicerai oleh Julian dan tidak lama lagi aku akan jadi janda."

__ADS_1


"Benar, kita akan sama sama jadi janda sebentar lagi. Julian akan segera menemukan wanita yang kaya raya dan sederajat dengan dia," Namira menimpali.


"Kalau Julian menceraikan kita, kira kira kita masih laku nggak ya?" Kamila bertanya tanya.


Tanpa mereka sadari, obrolan mereka di dengar oleh seseorang dari balik pintu kamar yang sedikit terbuka itu. Dialah Julian. Dia tidak menyangka ketiga wanita yang ada di dalam kamar itu masih salah persepsi atas sikapnya dulu. Tentu saja Julian menjadi emosi, lagi lagi para istri menyangkut pautkan keadaan dirinya dengan harta.


"Terusin saja bicara tentang perceraian," ucap Julian sembari membuka pintu dan melangkah masuk ke dalam kamar. Kedatangan dan ucapan Julian tentu membuat ketiga istrinya terperanjat. Mereka bahkan sampai bangkit dan duduk di atas kasur dengan wajah mendadak panik dan terkejut.


Julian berdiri tanpa menatap para istrinya. "Apa memang aku seburuk itu dimata kalian? Sampai kalian selalu mengaitkannya dengan kesalahanku di masa lalu pada kalian? Bahkan kalian seolah memandang remeh sebuah akad nikah, sampai kalian sudah memikirkan perceraian kita," Julian lantas melangkah dan duduk di tepi ranjang dan menunduk.


Julian menghirup nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan untuk mengurangi gemuruh di dadanya. "Aku tidak pernah mengukur wanita dari kaya atau miskinnya, tidak. Aku hanya manusia yang memilki kekurangan. Aku akan merasa malu, panik dan sangat gelisah jika ada wanita yang menyatakan perasaanya sama aku. Itu sebabnya aku dulu bersikap sangat kasar sama kalian, bukan karena aku matre atau apa."


Wajah terkejut langsung terlihat jelas dari wajah para istri. Mereka kembali saling pandang dengan tatapan penuh tanya dan rasa penasaran serta rasa tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka dengar.

__ADS_1


"Aku bahkan pernah di bawa ke ahli spikiater untuk mananyakan tentang kondisi jiwaku. Aku sudah seperti orang gila. Aku sendiri bingung dengan keadaanku. Mungkin dimata kalian, aku pria yang sempurna. Tampan, berbadan bagus, punya usaha sendiri. Tapi aku hanya manusia yang memiliki kekurangan, dan kekuranganku berbeda dengan pria pada umumnya."


"Jadi? Apa kerena itu, kamu selama ini tidak pernah pacaran?" tanya Namira.


Julian mengangguk lemah. "Aku juga pria yang punya hati. Ingin juga merasakan dekat dengan wanita. Tapi aku belum bisa. Bahkan setiap kali aku bersama kalian di dalam kamar, aku mati matian melawan rasa gelisahku."


"Oh ... pantes!" seru Safira. "Aku perhatikan Mas Jul selalu gemetar dan gugup kalau sedang di dalam kamar. Jadi itu sebabnya, aku jadi tahu."


"Ya maaf kalau selama ini aku salah persepsi dengan sikap kamu, Mas Jul," ucap Kamila. "Menurutku sih wajar kalau kami berpikiran buruk sama kamu, mungkin karena kita tidak saling kenal. Sekalinya kenal, sikap kamu ke kita kayak gitu. Ya wajar kan orang orang akan berpikiran buruk tentang kamu."


"Benar!" seru Namira. "Bahkan sampai kamu dijebak Reynan dan Lehan, aku yakin itu semua karena kamu yang terlihat tidak pernah deket dengan cewek."


"Lalu, apa ada cara? Agar kamu bisa sembuh dari kekuranganmu itu?" tanya Safira. "Mungkin saja kita bisa bantu."

__ADS_1


Julian hanya menggeleng lemah, membuat ketiga istrinya menjadi bingung.


...@@@@@...


__ADS_2