
"Ayah!" pekik Julian begitu dia menangkap sosok wajah yang masih sangat dia kenali. Sosok wajah yang dulu membuat hidupnya berwarna dan sosok yang sangat dia idolakan dan juga rindukan. Julian mematung dengan perasaan yang langsung bergemuruh. Entah dia harus merasa senang atau marah, yang pasti saat ini, Julian tidak bisa meluapkan ekspresi lain selain dari rasa terkejutnya.
"Hallo My Son!" sapa pria yang baru saja disebut ayah oleh Julian. Pria itu melangkah masuk dan memeluk sang anak dengan segala kerinduannya. Sedangkan Julian sendiri tubuhnya masih belum bergerak karena dilanda dilema.
"Kenapa kamu diam? Kamu tidak suka ayah kamu datang, boy?" Alonso kembali bertanya setelah melepas pelukannya dan menatap sang anak dengan tatapan sedikit kecewa.
"Dia masih syok, Mas. Mending kita duduk dulu," ucap Sukma mencairkan suasana. Dia mengajak anak dan suaminya duduk di sofa yang ada disana.
Ketiga istri Julian yang baru saja menyelesaikan makan mereka, bergegas menyusul suami ke rumah sebelah karena penasaran, siapa tamu yang datang. Ketiga wanita itu melongo bersamaan begitu melihat ada bule duduk bersama suami dan ibu mertua mereka. Ketiga istri Julian mendekat dengan penuh tanda tanya.
"Ini istri istri Julian, Mas," ucap Bu Sukma. Ketiga istri Julian mengulurkan tangan dan menjabat tangan Alonso secara bergantian dengan canggung. "Dia ayahnya Julian."
Rasa terkejut langsung terlihat jelas dari wajah ketiga wanita itu. Sekarang mereka yakin darimana asal ketampanan wajah suami mereka. Meski sudah berusia sangat matang, Alonso masih terlihat mempesona. Ketiga istri Julian menatap suami mereka yang sedari tadi terdiam.
"Mas Jul, kenapa? Kok diam?" ucap Safira sembari menepuk pundak suaminya.
Julian menatap istrinya. "Lah emang aku harus gimana? Lompat lompat gitu?"
"Ya nggak gitu juga kali, Mas," balas Kamila gemas. "Kan Mas Jul bisa tanya tanya yang lainnya. Masa diemin orang tua gitu?"
__ADS_1
"Udah nggak perlu ribut, mungkin Julian masih syok dengan kedatangan saya."
"Hah! Tuan sangat lancar memakai bahasa negara ini?" ketiga istri Julian nampak kaget.
Alonso sontak tersenyum. "Aku kan memang dari kecil hidup di negara ini. Dan jangan memangglku tuan. Panggil saja aku ayah seperti Julian."
"Emang ayah kapan datang? Kenapa ayah baru datang? Dari dulu kemana aja? Kenapa ayah nggak mencari kami?" sederet pertanyaan langsung terlontar dari mulut Julian. Semua pertanyaan yang Julian pendam, dia luapkan bersamaan saat itu juga.
Alonso kembali merekahkan senyumnya. Dia lantas menjawab semua pertanyaan Julian menjadi rangkaian cerita yang cukup panjang. Dari sanalah Julian baru mengetahui alasan orang tuanya berpisah. "Dari data rumah sakitlah, akhirnya ayah tahu kalau kalian tinggal di sini."
"Dari data rumah sakit?" tanya Namira. "Kok bisa?" pertanyaan Namira mewakili rasa penasaran dua istri Julian yang lainnya.
"Owalah, begitu ternyata. Kita baru tahu."
Julian dan ketiga istrinya merasa cukup puas dengan fakta yang baru saja mereka ketahui. Dari cerita itulah akhirnya suasana yang awalnya terasa beku dan canggung menjadi cair dan hangat. Tidak ada drama kemarahan atau tangisan dalam diri Julian. Biar bagaimanapun dia laki laki, jadi tidak perlu berlebihan dalam menanggapi pertemuan ini.
Hingga saat menjelang larut, kini hanya tinggal ayah dan anak saja yang tersisa di ruang tamu tersebut. Para wanita sengaja undur diri untuk memberi ruang yang cukup pada dua pria beda usia itu untuk berbicara dari hati ke hati. Mereka duduk di teras rumah dengan ditemani dua cangkir kopi.
"Kamu tumbuh menjadi anak yang baik, Son. Maafkan Ayah, karena tidak menemanimu disaat kalian sedang dalam masa kesulitan."
__ADS_1
"Semua sudah berlalu, Yah. Nggak perlu disesali lagi. Sekarang Ayah lihat kan kalau kami baik baik saja. Lagian apa yang telah terjadi, tidak sepenuhnya salah Ayah. Keadaanlah yang membuat semuanya menjadi runyam."
Senyum Alonso kembali terkembang. Ada rasa kagum dan bangga yang muncul bersamaan, melihat anaknya sudah bisa bersikap dewasa. "Mulai besok kamu jangan jualan batagor lagi."
Kening Julian sontak berkerut dan matanya langsung menatap ke arah sang ayah. "Kenapa, Yah?"
"Kamu akan Ayah jadikan pemimpin di perusahaan Ayah."
"Loh? Apa aku mampu?"
"Kan kamu bisa belajar. Jangan khawatir, ayah sudah menyiapkan segalanya buat kamu. Untuk urusan jualan, serahkan saja pada ketiga istri kamu untuk mengelolanya."
"Berarti aku harus ninggalin istri istri aku, Yah?"
"Ya nggak juga. Kamu mau ajak mereka ke Italia juga nggak apa apa. Tapi kamu akan belajar disini dulu. Lagian Ayah akan membangun superMall di sini. Nanti kamu yang jadi pimpinannya sekalian belajar."
"Tapi, Yah, aku sedang terlibat urusan hukum?"
"Jangan khawatir, kita akan beri pelajaran pada orang orang yang telah menghinamu."
__ADS_1
...@@@@@@...