PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Keanehan Bu Sukma


__ADS_3

Tanpa terasa waktu terus bergerak maju. Kini siang telah menjelang. Jika pada umumya pengantin baru saat ini lagi mesra mesranya di setiap waktu, berbeda dengan pengantin baru yang menikah karena sebuah keterpaksaan. Mereka tidak kelihatan romantis dan mesra sama sekali. Sepanjang pagi hingga menjelang siang, mereka sibuk sendiri sendiri.


Berhubung baru saja menjadi pengantin, otomatis Julian dan istrinya belum bisa menjalankan usaha mereka masing masing. Maka itu mereka hanya bisa bermain ponsel untuk membuang rasa jenuh mereka.


Apa lagi bagi ketiga wanita yang menjadi penghuni rumah baru di tempat Julian. Mereka makin bingung hendak melakukan aktifitas untuk membuang rasa jenuh. Mereka lebih banyak berdiam diri di kamar sambil bergosip dan bermain ponsel, karena memang sudah tidak ada pekerjaan yang harus mereka kerjakan.


"Jadi penganten baru gini amat ya? Hambar banget rasanya," ucap Namira sambil meletakan ponsel di atas lantai lalu dia menelentangkan badannya menatap langit langit kamar.


"Hahaha ..." Kamila malah tergelak. "Miris banget ya nasib kita. Padahal nikah sama orang yang kita sukai, tapi nggak ada bahagia sedikitpun."


"Iya, bener benar apes. Coba saja kemarin kita nggak perlu nolong Julian. Nggak bakalan apes kayak gini kita," balas Namira. "Niat nolongin, malah kita yang apes. Sekalinya ada saksi nggak bisa diandalkan."


"Orang kalau udah benci ya kayak gitu, tidak mau melihat mana yang benar dan mana yang salah," Safira pun ilut bersuara. "Temanku yang kemarin jadi saksi juga nggak nyangka bakalan jadi kayak gini. Julian benar benar nggak percaya sama kita."


"Niat pengin balas dendam yang elegan, eh malah terejebak pada pernikahan paksa. Makin bencilah Julian pada kita," balas Namira.

__ADS_1


"Makanya, kita harus cari wanita untuk menggantikan posisi kita sebagai istri Julian. Pokoknya yang sesuai dengan kriteria yang Julian inginkan," ucap Kamila.


"Nanti kalau Julian marah lagi gimana?" tanya Safira. "Semalam aja waktu kita bahas masalah ini, kalian lihat kan? Julian tidak terima."


"Ya kita harus usaha dulu lah. Aku sih yakin, setelah Julian kenal dengan wanita pegawai bank itu, Julian bakalan berubah pikiran," balas Kamila dengan yakinnya.


"Terserah kamu aja deh, aku ngikut aja."


"Aku juga."


Sedangkan Julian sendiri saat ini sedang melamun di lapak batagornya. Tidak berjualan membuat pria tampan berusia dua puluh empat tahun itu bingung karena tidak ada pekerjaan. Ingin rebahan di kamar, ada ketiga istrinya. Mau main, tiga sahabatnya sedang bekerja. Dia benar benar bingung saat ini.


'Kamu nggak bersama istri istrimu?" sebuah suara yang lumayan familiar membuat Julian tersadar dari lamunannya. Dia pun menoleh ke arah sumber suara.


"Malu, Bu," jawab Julian lemah.

__ADS_1


"Malu atau memang kamu nggak ada niat buat deketin mereka?" tebak Bu Sukma sembari duduk di salah satu kursi yang ada di sana.


"Bukannya nggak ada niat, Bu. Ibu kan tahu sendiri kalau aku bagaimana," protes Julian dengan suara agak meninggi tapi masih terdengar sopan, karena yang menjadi lawan bicaranya adalah wanita yang melahirkannya.


"Masa hanya karena kekurangan kamu, kamu melalaikan diri dari tugas sebagai suami? Meski ini pernikahan terpaksa, tapi akad yang kamu ucapkan itu suci. Maka kamu harus belajar untuk menerima istri kamu."


"Aku tahu, Bu," jawab Julian lemah. Tiba tiba dia melihat sang ibu meneteskan air matanya. "Ibu kenapa? Kok malah ibu yang nangis?"


Bu Sukma menghapus airmata yang terlanjur menetes. "Kamu tahu, Jul, wanita yang sudah menikah tapi tidak diterima atau tidak dianggap oleh suami atau keluarganya, pasti bakalan sakit hati banget. Maka itu, Ibu cuma berpesan belajarlah menerima keadaan istrimu. Apapun alasan dan keadaannya, jangan pernah membenci mereka."


Julian tertegun. Baru kali ini Julian melihat Ibunya memberi nasehat sambil menangis. Tanpa Julian ketahui kalau sang ibu saat ini sedang teringat masa lalunya. Masa dimana dia menikah dan hidup bersama sang suami yang telah memperkosanya hingga melahirkan seorang Juliann.


Karena tak kuasa menahan tangisnya, Bu Sukma langsung saja beranjak masuk ke kamarnya meninggalkan sang anak dalam keadaan penasaran yang sangat luar biasa. Berbagai pertanyaan pun muncul dalam benak pemuda itu.


"Apa mungkin dulu ibu juga pernah mengalami tidak diterima oleh suami ibu? Makanya ibu berpisah dengan Ayah? Sepertinya aku harus bertanya pada paman. Aku penarasan dengan masa lalu Ibu dan Ayahku."

__ADS_1


...@@@@@@@@...


__ADS_2