
Di sana, di samping sebuah rumah, pada bangunan kecil seperti warung, Julian sedang sibuk menggoreng batagor dagangannya. Dengan cekatan dia mengolesi tahu dengan adonan tepung tapioka yang sudah dicampur daging ikan tenggiri giling serta bumbu racikannya sendiri.
Bau ikan tenggiri juga semerbak dari siomay yang sudah siap jual dari dalam panci di sisi gerobag yang lain. Pukul sembilan pagi Julian sudah siap dengan barang dagangannya. Biasanya anak anak sekolah keluar istirahat sekitar pukul sembilan lebih lima belas lima menit. Tapi ada juga yang keluar untuk istirahat sekitar pukul sepuluh, tergantung peraturan sekolah masing masing.
Ada lima sekolah yang letaknya tak jauh dari rumah Julian. Bahkan tiga dintaranya berderet berdampingan di seberang jalan depan rumahnya. Satu SMK swasta, satu SMP swasta dan satu SMP negeri. Sedangkan dua sekolah lainnya agak jauh ke menuju perbatasan desa tapi masih satu wilayah yaitu SMA swasta dan MTs swasta.
Desa tempat tinggal Julian memang berada di pusat kecamatan, jadi desa itu termasuk tempat yang cukup ramai. Apa lagi jalan di depan rumahnya juga selalu riuh kendaraan yang lewat meski bukan jalan besar atau jalan utama antar kabupaten. Maka itu rumah Julian memang cukup strategis untuk membuka usaha.
Julian sendiri sesekali dibantu sang bibi saat berjualan. Sejak sang bibi melahirkan anak kembar, bibi memang berhenti total membantu sang paman jualan bumbu di pasar. Sedangkan Ibu Sukma, ibu kandung Julian juga sudah memliki lapak sendiri untuk berjualan aneka bumbu dan kerupuk. Sang ibu sebenarnya ingin anaknya meneruskan usahanya, tapi apa daya, Julian memilih usaha lain yang diminati. Sebagai ibu tentu saja sangat mendukungnya meski ada rasa kecewa sedikit.
Saat Julian sedang asyik menggoreng batagornya, di depan lapak jualannya berhenti sebuah motor. Julian menoleh ke arah motor motor tersebut dan melihat dua wanita yang dia kenal turun dari motor dan masuk ke dalam lapaknya.
"Mas Jul, beli batagornya dua bungkus lima ribuan dan siomaynya juga lima ribuan dua bungkus," seru salah satu wanita itu yang menjadi pacar Adi, sahabat Julian.
__ADS_1
Bentar ya, Nin," sahut Julian tanpa menoleh. Duduk dulu, Nin."
"Oke!" wanita bernama Nina lantas duduk bersama temannya yang sesekali melirik oe arah punggung Julian. Pria itu benar benar terlihat acuh, padahal dia juga kenal dengan wanita yang bersama Nina.
"Nam, gimana? Kamu jadi nerima cintanya Agus apa enggak?" tanya Nina pada temannya Namira.
"Entahlah, Na. Aku aja habis ditolak gara gara aku hanya penjual ayam potong. Takutnya nanti agus mengira kalau dia dianggap sebagai cowok pelarianku saja," jawab Namira. Bukan bermaksud untuk menyindir tapi memang keadaannya.
"Ya kan kamu bisa jalani dulu, Nam?" saran Nina.
"Nggak tahulah, Na. Agus pasti akan malu jsuatu saat nanti karena pekerjaanku," balas Namira sendu.
"Astaga, Nam. Emangnya ada yang salah dengan wanita penjual ayam potong? Kan halal."
__ADS_1
"Ya mau bagaimana lagi, Na. Nyatanya aku ditolak mentah mentah gara gara aku hanya penjual ayam potong. Pake dikatain cewek murah meriah lagi. Coba kalau aku tiba tiba jalan sama Agus, aku pasti akan makin di pandang buruk lagi oleh pria itilu."
Nina tersenyum kecut. Dia tahu betul siapa pria yang dimaksud Namira. Meski ucapannya tidak ada unsur kesengajaan, tapi nyatanya, itu cukup menyentil pria yang sedang mengemas siomay ke dalam plastik.
Pesanan Nina dan Namira pun selesai dibuat dan langsung diberikan ke orangnya. Julian benar benar sama sekali tidak menatap Namira sekilaspun. Hanya kepada Nina, Julian dengan entengnya mengeluarkan suara.
Begitu kedua wanita itu pergi, Julian terduduk dengan pandangan menerawang ke arah gedung sekolah di seberang jalan. Ucapan Namira memang cukup mengusiknya. Sekarang namanya kembali buruk dimata wanita. Julian dikira pria yang hanya memandang status. Mungkin itu juga yang dipikirkan Safira si penjual kerudung dan Kamila yang hanya pemilik konter.
Julian bangkit dari duduknya saat melihat ada dua orang datang dan memasuki lapaknya.
"Mas, aku batagor empat bungkus lima ribuan ya?" pesan orang itu dan Julian mengiyakan sembari melempar senyum ramahnya sebagai pedagang.
Dua orang itupun langsung kegirangan dalam hati karena mendapat senyum manis dari pria yang mereka puja diam diam. Tanpa Julian ketahui kalau dua orang itu ada niat lain selain mrmbeli dagangannya. Niat untuk membuat Julian jatuh ke dalam pelukan mereka berdua.
__ADS_1