PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Sebuah Keberuntungan


__ADS_3

"Wahh! Gede banget!" mata Namira langsung membelalak saat melihat sang suami melepas dua celananya dan isinya keluar dari sarangnya. "Itu beneran punya kamu, Mas?"


"Iya, Sayang. Kenapa?" balas Julian sembari senyum senyum. "Pegang aja, Sayang."


Tubuh Julian terbaring dengan posisi miring menghadap istrinya. Kepalanya dia tahan menggunakan tangan kirinya. Tubuh Namira bergeser ke bawah sedikit dan tangannya perlahan bergerak ke arah bawah perut sang suami dan menyentuh benda menegang milik suaminya.


"Ini asli punya kamu, Mas?" tanya Namira seakan tak percaya saat tangannya sudah menggenggam milik Julian yang sangat menegang.


"Ya asli, Sayang. Kan kamu sedang memegangnya."


"Tapi masa bisa segede ini? Mas Jul pake obat pembesar ya?"


"Hahahah ... ngapain pake obat kayak gitu? Itu asli, Sayang."


"Astaga! Panjangnya hampir sejengkal kurang sedikit banget, ini berarti sekitar dua puluh satu centi meter ya, Mas," ucap Namira yang makin merasa takjub saat dia mengukur milik Julian dari ujung jempol ke ujung jari kelingking. Julian langsung saja tersenyum lebar mendengar penuturannya.


"Udah siap dimasukin belum, Dek?" tanya Julian yang sudah tak tahan ingin menenggelamkan benda menegang ke dalam lubang yang penuh rasa nikmat. "Masukin sekarang ya?"


Namira hanya diam, tapi diamnya wanita itu diartikan setuju oleh sang suami. Julian pun kembali menyerang tubuh Namira dengan bibirnya. Dari bibir hingga ke perut, semua Julian kecup tanpa ada sisa sampai dia bersimpuh dihadapan kaki Namira yang membentang lebar.

__ADS_1


Sama seperti yang dilakukan kepada dua istrinya, tangan kiri Julian mengusap milik sang istri yang bulunya lumayan lebat, sedsngkan tangan kanannya mengusap batang miliknya dan menggesek gesekkan batang itu didepan pintu lubang sang istri.


"Sakitnya tahan ya, Sayang. Aku mau masukin," ucap Julian lembut. Sang istri hanya mengangguk dan wajahnya nampak tegang.


Sebenarnya Julian ada rasa tidak tega melihat raut wajah sang istri yang nampak tegang, tapi dia tidak ada pilihan lain karena cuma jalan inilah yang harus dia tempuh. Setelah cukup menggeseknya, Julian menempelkan ujung batangnya tepat pada titik yang dia yakini sebagai pintu masuk. Julian mulai mendorong batang itu masuk dengan pinggangnya.


"Aakkhh ..." rintihan kesakitan dengan suara agak tertahan, terdengar dari mulut Namira saat batang sang suami mulai memasuki lubangnya yang masih sangat sempit. Terlihat Julian agak kesusahan, tapi pria itu terus berusaha menerobos lubang sempit itu.


Hingga gerakan pinggang Julian terhenti saat dia merasa ada penghalang di dalam lubang istrinya. Julian kembali menatap istrinya yang memucat. Bahkan kedua tangan Namira mencengkram kain yang melapisi kasurnya dengan sangat kuat. Kembali Julian berusaha untuk menepis rasa kasihan. Pinggangnya bergerak perlahan lalu menyentak dengan kuat.


"Aaaakhh ..." suara Namira melengking. Wajahnya bertambah pucat. Julian mencabut miliknya dan ada darah di ujung batang kekarnya. Julian tersenyum dan membiarkan sang istri diam sejenak agar lebih tenang. Begitu Namira sudah lebih tenang, Julian kembali beraksi. Batang yang sudah bersih dari noda darah kembali dimasukkan secara perlahan.


"Sakit banget ya?" tanya Julian beberapa saat kemudian ketika miliknnya sudah masuk tanpa sisa ke dalam lubang istrinya dan dia mencondongkan tubuhnya sendiri menatap wajah sang istri lebih dekat. Namira hanya bisa mengangguk lemah. "Maaf ya, Sayang."


Julian sontak tersenyum lalu menempelkan bibirnya pada bibir sang istri. Pinggangnya kembali bergerak perlahan mendorong batang menyodok lubang. Sampai beberapa menit kemudian rintihan kesakitan Namira menghilang.


"Udah merasa enak?" Julian bertanya penuh kelembutan. Namira mengangguk dengan wajah tersipu dan Julian pun tersenyum senang.


Hingga waktu terus bergerak maju, sampailah mereka pada puncak dari permainan penuh rasa nikmat. Air cinta mereka melebur dan berbaur jadi satu. Keringat bercucuran serta nafas yang tersengal sengal. Namun dibalik itu semua, Julian dan Namira nampak begitu bahagia. Kini sepasang suami istri itu terbaring lelah dengan tubuh yang saling menempel.

__ADS_1


"Mas," panggil Namira membuka percakapan setelah mereka saling diam sejak permainan selesai.


"Hum? Apa, sayang?" Julian membalas dengan suara yang begitu lembut dan terdengar menentramkan.


"Gimana rasanya memasuki tiga lubang yang masih rapat?"


Kening Julian sontak berkerut, tapi tak lama setelah itu senyumnya terkembang. "Yang pasti sangat bahagia. Ada rasa bangga juga karena kalian tulus menyerahkan milik kalian. Kenapa, Sayang?"


"Nggak apa apa. Pengin tahu aja isi hati pria itu gimana saat mendapat lubang yang masih rapat lebih dari satu."


"Menurutku sih semua pria pasti senang, kalau nggak senang, mungkin nggak ada perselingkuhan."


"Mas Jul niat selingkuh juga?"


"Nggak lah, punya kalian aja udah suatu keberuntungan."


"Awas aja kalau selingkuh, batang Mas Jul aku potong jadi empat!"


"Ahahaha ... Udah, mending kita tidur yuk. Udah malam, Sayang."

__ADS_1


Namira mengiyakan. Malam ini cukup satu ronde dulu. Untuk malam berikutnya tergantung keadaan.


...@@@@@@...


__ADS_2