PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Saat Makan Bersama


__ADS_3

"Padahal semua sudah ada di rumah, kenapa aku semakin bingung dan takut ya?" Julian bergumam dalam hati. Dia menghirup dalam dalam nafasnya untuk menetralkan ruang dada yang terasa pengap dan bergemuruh. Lalu dia melihat waktu yang terpampang di layar ponsel. Di sana sudah menunjukkan pukul dua puluh tiga malam lebih. Julian menyadari, ternyata dia menyendiri dalam waktu yang cukup lama. Akhirnya dia pun memutuskan masuk ke dalam kamar.


Setelah mengunci pintu, dengan langkah gontai dia melangkah menuju kamar utama dimana ketiga istrinya berada. Namun begitu sampai di depan pintu, langkahnya sedikit melambat dan dengan ragu dia membuka pintu itu. Dilihatnya ketiga istri yang ternyata sudah terlelap. Ada senyum yang sempat terbesit dari bibirnya.


Melihat mata ketiga istrinya terpejam dan terasa damai, rasa sesal kembali menyeruak dalam hati Julian. Pria yang sebentar lagi akan menginjakkan kakinya di usia yang ke dua puluh lima tahun itu, masih tidak menyangka akan berlaku kasar pada wanita yang sudah mau menerima dia apa adanya. Mungkin masalahnya memang terlihat kecil, tapi efek yang ditimbulkan cukup besar dan menyakitkan hingga para istri nekat pada pulang.


Julian pun menutup pintu kamar dan keluar menuju kamar yang lain lalu berbaring disana. Di saat bimbang seperti itu, Lita masih saja menghubunginya. Rasa kesal dan amarahnya kembali bergejolak. Gara gara wanita itu, dia harus menyakiti hati ketiga istrinya. Julian pun bertekad akan membuat perhitungan dengan wanita itu. Seiring berjalannya waktu, Julian pun harus terbuai oleh rasa ngantuk yang menyerangnya dan tak lama kemudian mata Julian terlelap.


"Mas, bangun. Sudah subuh," sebuah suara lembut dan tepukan kecil di kakinya, membuat Julian terbangun dari tidurnya. Ternyata benar, suara adzan terdengar menggema. Mata Julian terbuka dan sang istri yang tadi membangunkannya sudah berlalu sejak Julian bereaksi. Julian menghembus kasar nafasnya lalu bangkit dan meregangkan otot tangannya, baru turun dari ranjang.


Ingin rasanya Julian menyapa salah satu istrinya yang sedang berada di dapur, namun rasa takut dan tak enak hati seakan menahannya. Dengan berat hati dia meneruskan langkahnya ke kamar utama. Di sana nampak kedua istrinya sedang berbincang sembari menunggu siang untuk belanja sayuran. Julian memilih melakukan kewajibanya terlebih dahulu. Biarlah nanti siang dia berbicara dengan istrinya.


Hingga waktu terus bergulir, bahkan saat istrinya sudah selesai menyiapkan hidangan untuk sarapan, belum ada pembicaraan terjadi diantara mereka. Julian masih bingung dan selalu berusaha mencari celah untuk bisa berbicara dan minta maaf.

__ADS_1


"Apa kalian akan terus mendiamkanku?" sebuah pertanyaan akhirnya berhasil Julian lontarkan saat mereka sedang duduk bersama di meja makan.


"Emang kami harus bagaimana, Mas?" tanya Safira dengan sikap yang lembut meski hatinya sebenarnya diliputi amarah sejak kejadian kemarin. "Bukankah ini kemauan Mas Jul?"


Juliam terkejut mendengarnya. Ditatapnya ketiga istrinya yang nampak tenang membalas tatapan pria itu. "Maaf," ucap Julian sembari menunduk. Bahkan dia berhenti meneruskan sarapannya.


"Sarapannya dihabiskan dulu, tidak perlu berpikir macam macam," entah bermaksud menyindir atau apa, tapi Julian sedikit tersentak dan langsung kembali memasukkan makanan ke mulutnya. Karena suasana hati yang sedang tidak baik baik saja, Julian merasakan tidak ada nikmat dalam hidangan yang dia makan.


"Ngomong apaan emang, Mas?" tanya Kamila dengan santainya sambil ngemil bakwan udang.


"Ya ngomong apaan kek, jangan diamin Mas kayak gini?"


"Loh, bukankah ini Mas Jul yang minta sejak kemarin, kami dilarang ikut campur urusan Mas Jul? Nggak salah kan kalau kami membebaskan Mas Jul mau ngapain saja," Namira ikut bersuara.

__ADS_1


"Ya bukan gini caranya, Dek," Julian nampak frustasi. "Kalau marah ya marah aja, ngomong, jangan kompak ngediamin Mas kayak gini. Mas tahu Mas salah, tapi setidaknya ajak Mas untuk bicara."


"Emang apa yang harus dibicarakan, Mas? Kan Mas sendiri yang bilang kalau kita seperti orang yang nggak percaya sama suami. Daripada kami dianggap tidak percaya pada suami ya sudah, kami membebaskan Mas mau ngapain aja. Apa salah?"


"Kalian tidak salah, tapi Mas. Mas yang salah karena tidak mempercayai kalian. Maaf. Harusnya Mas kemarin tidak langsung marah sama kalian."


"Aku ngerti, Mas. Mas Jul marah karena merasa keganggu kan?" Julian mengangguk pelan. "Maka itu kita memilih diam agar Mas Jul nggak keganggu. Sekarang Mas Jul silakan berbicara sama cewek manapun, kami akan diam. Nggak akan gangguin lagi. Mas Jul tenang aja."


"Kami sadar sih ya, cewek bernama Lita emang cantik, anggun, seksi. Idaman para cowok banget. Wajar jika Mas Jul sangat marah pada kami karena menganggu waktu bersama wanita itu. Maaf, jika kami tak sesempurna dia, Mas."


"Bukan seperti itu, Dek! Astaga!" rintih Julian dengan wajah sangat frustasi.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2