PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Kena Deh


__ADS_3

Ceklek!


"Wahh! Nggak dikunci, benar benar hari keberuntunganku! Hihihi ..."


Mirna nampak sangat kegirangan. Dia celingukan ke segala arah guna mengawasi keadaaan di sekitarnya. Kalau siang hari komplek perumahan itu memang cukup sepi. Tangannya perlahan membuka pintu rumah Julian. Ketika Mirna merasa keadaannya aman, wanita itu dengan gerak yang cukup cepat langsung masuk ke dalam rumah.


"Yes! Aman!" seru Mirna lirih. Matanya langsung mengedar ke segala sisi rumah. "Wah! Julian dimana ys? Apa dia di kamar?" gumamnya.


Mata Mirna sempat membelalak saat melihat empat ponsel merk mahal tergeletak di atas meja. "Gila! Ponselnya samaan, beda warna doang, sialan! Pasti ponsel terbaru itu! Julian beneran tajir," Mirna terkikik sendirian. dia pun mulai malangkah perlahan mencari keberadaan pria yang dia incar.


"Nyari apa, Mbak?"


Sebuah suara tiba tiba muncul di rumah tersebut, membuat langkah Mirna terhenti dengan tubuh menegang dan wajah yang sangat pias. Mirna memutar kepalanya dan matanya membelalak saat melihat dua pria berdiri di dekat dinding rumah Julian yang berlubang.


Mirna langsung memutar otak dengan cepat. Dia harus bisa mencari alasan yang tepat karena dua pria itu memandangnya dengan tatapan menyelidik. Tak lama kemudian, nampaknya Mirna menamukan ide yang sangat bagus sampai matanya terlihat berbinar. "Nyari Julian, tadi dia nyuruh aku kesini. Katanya suruh langsung masuk aja."


"Julian nyuruh kamu kesini?" dua pria yang sedang bekerja merenovasi rumah Julian langsung saling tatap tidak percaya. Sedangkan Mirna sangat yakin kalau dua pria itu pasti bakalan percaya. "Bukankah tadi ada istrinya Julian ya?"


"Mana aku tahu? Buktinya ini rumah sepi. Lagian Julian kan nggak mencintai mereka, Mas. Mereka itu menikah karena terpaksa. Pak. Julian itu cintanya sama aku," bohong Mirna dengan sangat lancar. Senyumnya sontak terkembang karena dia yakin dua pria itu pasti percaya dengan ucapannya yang terdenngar sangat meyakinkan.


"Kamu ngapain disini!"

__ADS_1


Sebuah suara lantang tiba tiba muncul dari pintu utama. Senyum Mirna langsung luntur saat itu juga, dan matanya membalalak begitu melihat istrinya Julian sudah berdiri depan pintu. Wajah Mirna langsung pias seketika.


"Heh! Apa yang kamu lakukan di rumah orang? Hah!" bentak Kamila lantang. Dia dan Namira langsung menghadang Mirna sedangkan Safira memilih duduk setelah meletakkan nampan berisi tiga bakso.


"Tadi dia bilang katanya dia disuruh Julian datang kesini, Mbak," adu salah satu tukang.


"Apa? Hahaha ... mana mungkin? Kamu mimpi!" teriak Namira.


"Loh? Nyatanya memang benar, tadi dia telfon aku, nyuruh aku datang kesini?" Mirna terpaksa melancarkan kebohongannya lagi. Dia tidak memiliki cara lain untuk menyelamatkan diri.


"Ada apa nih ribut ribut? Berisik banget!" suara Julian yang baru bangun tidur mendadak muncul, menambah ketegangan pada diri Mirna.


"Aku yang nyuruh?" Julian langsung terkejut mendengarnya. "Orang aku lagi tidur. Bagaimana caranya aku nyuruh kamu masuk, Mir?"


"Kamu jangan bohong deh, Jul! Kan kamu yang tadi telfon aku?" Mirna nekat memojokkan Julian.


"Jangan ngimpi deh, Mir. Bagaimana caranya aku telfon kamu? Nomer kamu aja aku nggak punya," jawab Julian sembari melangkah duduk di sofa. Melihat tiga mangkok bakso tersaji disana, dengan seenaknya Julian mengambil salah satunya.


Mata Safira langsung mendelik. "Mas, itu bakso punya aku!"


"Pesen lagi sana,aku lapar," balas Julian dengan cueknya. Safira sontak mendengus kesal.

__ADS_1


"Coba kalau kamu telfon balik Julian," tantang Kamila. Mirna sontak saja semakin panik. Dia gelagapan bingung mau jawab apa. Karena merasa terpojok, dia segera saja berontak mendorong tubuh Kamila agar minggir.


"Aduh! Sialan!" pekik Kamila.


Namira mencekal tangan Mirna. "Mau kemana kau hah! Kamu mau maling!"


Mirna semakin panik. Dengan sekuat tenaga dia menarik tangannnya hingga terlepas dan berhasil kabur.


"Woy! Berani nongol lagi, aku libas kamu!" teriak Kamila dengan lantang. Kedua wanita itu saling tos sambil tertawa puas penuh kemenangan. Sementara dua tukang itu hanya tersenyum tipis melihat dua istri Julian yang sangat galak, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya.


"Emang tadi kalian kemana sih? Kok bisa ada orang masuk?" tanya Julian dengan terengah engah karena kepedasan makan bakso bagian Safira.


"Kita keluar beli bakso. Karena nggak bawa duit ya, baksonya kita bawa kesini," jawab Kamila. "Bukankah itu baksonya Safira?"


"Iya tuh! Main ambil aja. Mampus, kepedesan!" Sungut Safira puas.


"Kayaknya seneng banget ya melihat suami menderita kayak gini?" gerutu Julian yang sudah sangat kepedesan. Tangannya menyambar botol aqua yang dibeli istrinya tadi saat beli bakso.


"Emang enak, makanya bilang dulu. Mampus kan kepedasan. Hahaha ..."


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2