PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Bersama Keluarga Namira


__ADS_3

"Gaya gayaan pakai bagi bagi duit, nanti juga, bentar lagi, duit itu akan diminta balik pas kepepet dengan alasan minjem" cibir Bibinya Namira.


Semua nampak terkejut. Bahkan keluarga Namira terlihat begitu kesal dengan ucapan adik dari ayahnya itu. Sedangkan Julian, meski tersinggung, dia tetap menunjukkan ekspresi tenangnya.


"Sok tahu si Bibi," bantah kakak Namira.


"Loh nyatanya gitu? Apa lagi suami Namira punya istri tiga, emang cukup memenuhi kebutuhannya hanya dengan jualan batagor?" Si Bibi makin menunjukkan ucapan menusuknya. "Dari situ aja udah bisa ditebak pasti mereka nanti akan bermasalah dengan ekonomi. Ujungnya ribut mulu."


"Kamu sih apa apaan ngomong kayak gitu, Mun?" si Bapak hendak mengeluarkan emosinya tapi ditahan oleh kakaknya Namira.


"Udah, Pak, biarian aja, sepuas Bibi mau ngomong apa?" cegah si kakak. "Itu ponsel kamu ponsel mahal kan? Gila! Siapa yang beli?" tanyanya sembari memegang ponsel baru milik sang adik.


"Suami lah yang beli, kemarin malah beli empat," balas Namira sembari sedikit pamer pada bibinya yang sedari menunjukan wajah ketusnya.


"Hah! Ponsel semahal ini langsung beli empat?" Kakak Namira memekik tak percaya.


"Semahal berapa sih? Paling mahal mahalnya ponsel satu dua juta," oceh si Bibi, masih mengeluarkan kejudesannya.


"Apa? Dua juta? Sembarangan Bibi kalau ngomong," bantah sang kakak. "Ponsel ini tuh harga satunya lima belas juta!" terangnya lantang.


"Apa? Lima belas juta?" Si bibi terperangah.


"Iya, kalau Julian beli empat ponsel berarti enam puluh juta ya, Jul?" Julian mengangguk pelan sembari tersenyum kikuk.


"Mana mungkin?" si Bibi tak percaya.

__ADS_1


"Tanya aja sama anak Bibi yang kerja di konter, pasti tahu harga ponsel ini," si Kakak terlihat puas membungkam mulut si Bibi.


"Kenapa beli ponsel mahal mahal sih, Jul?" kini bapak yang bertanya. Dia juga terkejut mendengar anak dan menantunya membeli ponsel semahal itu. Karena biasa hidup sederhana, mendengar ponsel harga semahal itu, cukup mengejutkan bagi mereka. Sedangkan si Bibi masih diam dengan wajah yang terlihat tidak bersahabat.


"Mumpung ada rejeki, Pak. Biar istri Julian pada seneng," jawab Julian pelan. Dirinya masih agak canggung berada dikeluarga Namira.


"Oh iya kami juga mau ngasih tahu," Namira ikut berbicara. "Dua minggu lagi, Bapak sama Ibu datang ya? Kami akan syukuran rumah baru."


"Syukuran rumah baru?" tanya Bapak kembali dibuat terkejut. Begitu juga dengan kakak, Bibi dan Ibu yang ada di ruang tengah tapi ikut mendengarkan obrolan di ruang tamu. "Kamu habis bangunan, Jul?"


"Enggak, Pak," Namira yang mejawab. "Mas Julian abis beli rumah di perumahan."


"Apa? Beli?" pekik Bapak.


"Diperumahan? Astaga! Paling utang," si Bibi kembali mencibir. "Gaya amat, pake utang perumahan segala."


"Siapa yang utang? Ih si Bibi sok tahu," bantah Namira gemas.


"Lah terus? Kontan lagi? Nggak mungkin!" sangkal si Bibi ngotot.


"Nyatanya emang beli kontan. Dua rumah sekaligus, di bayar TUNAI," balas Namira dengan penuh penekanan karena kesal dengan cibiran Bibinya.


Sang bibi langsung ternganga, begitu juga dengan Bapak, kakak dan juga ibu. Saat Bapak memastikan, Julian pun hanya menangguk.


"Ya ampun, ternyata aku memilki menantu yang kaya raya!" seru ibu mertua dengan membawa sepiring bakwan ditangannya. Sedangkan si Bibi terbungkam tak mengeluarkan hinaaanya. Si ibu langsung ngajak anak dan menantunya menyantap hidangan yang ada. Si Bibi memilih pergi dengan kesal.

__ADS_1


"Kalian nginap kan di sini?"


"Nginep semalam, Bu. Nggak apa apa kan?" Namira yang balas.


"Ya nggak apa apa, semalam aja juga ibu udah seneng."


Mereka lantas saling senyum dan kembali terlibat obrolan yang hangat. Si Bapak sesekali memperhatikan anak keduanya. Ada rasa bersalah di dalam hati pria itu kepada sang anak. Tapi melihat senyum bahagia terus terpancar di wajah Namira, membuat pria dua anak itu merasa beban dihatinya karena rasa bersalah, berkurang sangat banyak.


Sementara itu disebelah rumah Namira. Si Bibi nampak ngomel ngomel tidak jelas setelah pulang dari rumah kakakanya.


"Ibu kenapa? Pulang pulang kok mukanya cemberut gitu?" tanya anak gadis si Bibi.


"Tuh, si Namira, Pulang ke rumah cuma mau pamer doang," dumel si Bibi nampak sangat kesal.


"Emang Namira pulang?" tanya si anak, dan si Bibi mengiyakan. "Emang dia pamer apaan?"


"Pamer suaminya lah," balas si Bibi. "Ternyata suami Namira itu kaya raya!"


"Hah! Yang bener, Bu."


"Benerlah," si bibi lantas mencritakan apa saja yang dia tahu kepada anaknya.


"Wah! Sialan! Beruntung sekali Namira. Kalau kayak gitu, aku juga mau di poligami."


"Kalau kamu mau, kamu goda aja tuh suaminya Namira."

__ADS_1


"Wahh! Ide bagus tuh, Bu. Biar kita ketularan kaya. Hihihi ..."


...@@@@@@...


__ADS_2