PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Kubu Yang Berbeda


__ADS_3

Di hari yang sama, tapi di rumah yang berbeda. Nampak tiga orang sedang menikmati sarapannya di dalam sebuah rumah yang sangat mewah. Tentu saja, adanya kegiatan di meja makan, pasti ada saja obrolan yang terjadi. Begitu juga dengan mereka saat ini.


"Gimana, Pah? Apa pengacara kita sudah memberi peringatan pada orang yang akan menyeretku ke jalur hukum?"


"Sudah, kenapa?"


"Gimana? Apa anaknya mau mundur?"


Pria paru baya dengan kumis tebal yang di panggil Papah langsung tersenyum sinis. "Dia akan tetap maju. Sepertinya musuh kamu punya nyali juga, Rey. Sampe pengacara sekelas Sumanto aja, dia tidak takut."


"Serius, Pah, Julian nggak mau mundur?" tanya sang anak memastikan.


"Ya serius. Sudah, kamu tenang aja, kamu pasti nggak bakalan kalah."


"Iya, Rey," sambung wanita yang ada di meja makan yang sama. "Kamu percaya kan saja urusanmu dengan pedagang batagor itu sama pengacara papahmu. Kamu tinggal tunggu aja hasilnya bagaimana. Yang pasti Mamah juga akan menuntutnya dengan kasus pencemaran nama baik jika dia terbukti salah."


Sang anak bernama Reynan itu langsung tersenyum senang. Dia sudah membayangkan kemenangan yang akan dia raih. Reynan sangat yakin, Julian tidak memiliki cukup bukti yang bisa digunakan untuk membuka aib dirinya.


"Kapan kamu akan mulai ternjun mengikuti usaha Papah, Rey?" pertanyaan dari sang papah sontak membuyarkan lamunan pemuda itu.


"Iya, Rey. Daripada kamu main main terus nggak gelas, mending kamu ikut kerja sama Papahmu. Kali ini Papahmu beruntung loh. Papahmu di percaya memimpin pembanguan proyek super Mall milik orang luar negeri," sang Mamah menimpali dengan sangat antusias.


"Yang benar, Mah?" tanya Reynan dengan wajah terlihat sedikit terkejut.


"Bener, kalau nggak salah namanya Mister Alonso, orang Italia ya, Pah. Dia seorang miliarder."

__ADS_1


"Wuihh! Papah keren. Bayarannya gede dong yah?"


"Gede banget. Makanya, kalau bisa kamu kerja bantuin papah."


"Iya deh, Mah. Nanti Reynan pikir pikir. Lagian kuliah Reynan juga belum selesai."


"Oh iya, kamu jadi kan mau kenalan sama anak temennya Papa?"


"Jadi, dong. Anaknya lumayan cantik kok."


"Ya udah, nanti papah kabarin waktunya."


"Oke."


Orang tua Reynan pun saling melempar senyum. Mereka senang karena Reynan anak yang baik dan penurut di mata mereka.


"Tuan tidak boleh marah marah seperti itu, nanti Tuan sakit lagi gimana? Yang ada, Tuan akan makin lama untuk ketemu istri dan anak Tuan," sang asisten menasehati dengan perasaan yang sedikit kesal melihat tingkah majikannya.


"Gimana aku nggak marah, Jhon? Orang anakku dihina begitu, masa iya aku harus senang. Kamu itu, ih," balas Alonso gemas.


"Tapi kan orang orang kita sedang bertindak, Tuan. Kita percayakan saja sama mereka. Aku yakin mereka akan melakukan yang terbaik."


"Harus itu!" seru Alonso. "Untuk anakku, mereka harus melakukan yang terbaik. Oh iya, jangan lupa juga, pakai pengacara yang paling hebat di negara itu. Kalau perlu sepuluh orang pengacara terhebat."


"Baiklah, baiklah. Nanti saya carikan," balas Jhon dengan suara yang lebih kalem.

__ADS_1


"Oh iya, Jhon. Selidiki juga apa yang dilakukan Ciripa."


"Ciripa?" tanya Jhon dengan kening berkerut. Alonso sontak saja mengangguk. "Berbuat ulah apa lagi dia?"


"Aku juga tidak tahu makanya aku nyuruh kamu untuk mengawasinya!" sungut Alonso kesal. Sedangkan sang asisten malah cengengesan tanpa dosa. "Sepertinya dia berani masuk ke kamarku."


"Apa? Bagaimana bisa?" Jhon semakin dibuat terkejut.


"Aku baru menebak saja sih. Soalnya Ciripa bilang, dia menemukan Julian juga," balas Alonso sembari melanjutkan ceritanya tentang percakapannya dengan wanita muda itu kemarin. "Entah dia bekerja sama dengan siapa."


"Hahhaha ..." John malah tergelak. "Dasar bocah bodoh. Apa dia minta sejumlah uang karena bersandiwara telah menemukan Tuan muda Julian?"


"Ya pasti lah. Kalau bukan uang, apa lagi yang dia mau. Ngenes banget."


"Hahaha ... dia juga semalam menemui saya minta uang, Tuan. Gila!"


"Astaga! Kamu kasih?"


"Ya aku kasih lah, orang dia ngajak tidur bareng pas saya lagi pengin, ya saya mau aja," Alonso ternganga mendengarnya, sedangkan John nampak santai mengatakannya hal itu.


"Gila kamu! Untung aku nggak kegoda sama itu bocah. Ternyata bekas kamu juga," Alonso langsung bergidig.


"Meskipun bekas, lubang wanita tetap makanan ternikmat bagi kaum laki laki, Tuan. Kalau nggak nikmat, mana ada seorang miliarder berani bayar mahal untuk lubang wanita, padahal lubang itu juga bekas. Cuma beda status doang, antara artis dan wanita biasa."


"Kamu nyindir aku?" sungut Alonso. Sedangkan John nampak masa bodoh. "Nggak usah pake sindir sindir segala. Mending kerjain tuh, tugas baru dari saya."

__ADS_1


"Yayaya ..."


...@@@@@@...


__ADS_2