PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Sedikit Perdebatan


__ADS_3

"Siapa yang mikir kayak gitu?" ucap Juian tak terima.


"Kita lah, siapa lagi. Bukannya kita asal ngomong, sebenarnya masih banyak orang yang ngomong kalau kamu itu lebih suka wanita kaya. Apa kamu mau, aku kenalkan wanita kaya raya yang sesuai selera kamu?"


Julian sontak menoleh dan menatap tajam ketiga wanita yang baru dia nikahi. Dadanya kembang kempis tanda kalau dia sedang menahan emosi dan juga gelisah. "Kalau nggak tahu tentang diriku, nggak usah sok tahu!" hardik Julian.


Ketiga wanita itu bukannya takut, tapi malah bergerak menatap mendekati suami mereka. Mata Julian membelalak. Dia mematung dengan wajah yang terlihat semakin panik.


"Kalau kamu nggak tahu tentang kami, nggak usah sok nuduh yang nggak bener!" Kamila membalas ucapan Julian dengan penuh penekanan, lalu mereka kompak keluar kamar meninggalkan suami mereka.


Julian baru bisa bernafas lega saat para istri keluar meski amarahnya masih ada sisa. Dia langsung melepas pakaiannya dan menyisakan boxer serta kaos tipis tanpa lengan di tubuhnya. Julian tertegun saat hendak mengambil handuk ternyata handuk beserta kaos, baju koko, sarung, celana pendek dan underwear sudah disiapkan di atas meja kecil dekat lemari.


Julian terduduk ditepi ranjang, menatap tumpukan baju ganti yang telah disiapkan istrinya. Hatinya sedikit mencelos, meski dia telah bersikap kasar, para wanita malah sudah menunaikan tugasnya sebagai istri. Julian pun mengambil handuk, kaos serta underwear, lalu dia keluar kamar menuju kamar mandi.


Di depan kamar mandi, Julian kembali bertemu dengan ketiga istrinya yang baru selesai wudlu. Seperti biasa, Julian nampak acuh meski ada rasa sedikit kagum dengan para istrinya.


"Minggir! Wanita murah meriah mau tobat!" hardik Namira ketus. Julian yang mematung pun langsung bergeser sedikit.


"Pakaian kotornya taruh ember merah, Mas," ucap Safira yang terdengar lebih kalem, dan ketiganya langsung masuk ke dalam untuk menunaikan ibadah, karena memang suara adzan sudah menggema dari berbagai masjid dan mushola. Julian menghembus pelan nafasnya menatap kepergian istirnya, lalu dia masuk ke dalam kamar mandi.

__ADS_1


Hingga waktu maghrib pun berlalu, Julian beserta ketiga istrinya kini sedang duduk bersama menikmati makan dengan keluarga Julian. Dari semua yang ada di sana, hanya Julian yang mendadak menjadi pria pendiam. Dia hanya fokus menyimak obrolan orang di sekitarnya sambil menikmmati hidangan yang ada.


"Semoga kalian betah ya tingga disini," ucap Bu Sukma dengan senyum penuh rasa hangat.


"Aamiin, Bu. Semoga saja," jawab Kamila lembut dan sopan.


"Setelah menikah, apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Bi Atikah.


"Belum ada rencana sih, Bi. Kita aja belum ngobrol sama Julian. Terlalu mendadak soalnya," balas Namira sopan.


"Iya, lebih baik memang kalian bicarakan terlebih dahulu," ucap Paman Seno, dan dia langsung menatap sang keponakan. "Ngomong baik baik ya, Jul. Demi kelancaran rumah tangga kalian."


Seusai makan bersama dan ngobrol dalam waktu yang cukup lama, akhirnya semua yang ada di rumah Julian, masuk ke dalam kamarnya satu persatu. Lagi lagi rasa panik menyelimuti Julian saat beranjak ke kamarnya hingga sekarang berada di dalam kamar.


"Kenapa kalian pada tidur di bawah?" tanya Julian yang memang masuk ke dalam kamar paling terakhir dan sempat terkejut melihat tiga istrinya berada di kasur bawah.


"Emang kamu mau, tidur satu ranjang dengan wanita murah meriah?" ucap Namira.


"Terserah kalian lah," balas Julian ketus, lalu dia naik ke atas ranjang lewat sisi yang lain, dan langsung membaringkan tubuhnya.

__ADS_1


"Ada yang mau dibicarakan tidak? Mumpung belum tidur?" tanya Kamila dengan suara sedikit lebih keras.


"Terserah kalian, kalau belum ngantuk ya silakan," balas Julian tanpa merubah posisi tidurnya.


Kamila lantas bangkit dari terbaringnya dan duduk menatap punggung sang suami. "Kamu silakan membenci kami sepuas kamu jika sedang berada di dalam kamar. Tapi jika diluar kamar, lakukanlah layaknya suami istri yang berbahagia."


Namira dan Safira pun ikut bangkit dan duduk di tempat yang sama dengan Kamila.


"Soal nafkah, kamu jangan khawatir, kita tidak akan menuntut apapun dari kamu," ucap Namira.


Julian memutar badan menghadap para istrinya. "Kalian mau menjatuhkan harga diriku sebagai suami? Nafkah akan tetap aku berikan, walau tidak banyak."


"Ya terserah kamu, Mas, enaknya gimana,kami tidak akan menuntut apapun kok," ucap Safira.


"Kalau kamu mau, aku akan kenalin sama anaknya Pak Lurah di desaku,dia kerja di bank nasional."


Mata Julian membelalak. "Maksudnya apa kalian bertindak kayak gitu? Kalian mau mempermainkan pernikahan?"


...@@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2