
Lagi lagi Julian harus menanggung malu. Kecerobohannya yang tidak menutup pintu membuat dirinya seperti maling ketangkap basah saat sedang berciuman di dalam kamarnya. Apalagi posisinya Namira berada dipangkuan Julian, menambah tebal rasa malu yang menimpa pria itu.
Julian dan Namira langsung kembali ke posisi semula dengan pandangan entah mengarah ke mana. Keduanya hanya mampu senyum senyum tidak jelas tanpa berani saling tatap. Padahal hanya kepergok oleh anak kecil, tapi entah kenapa rasa malunya sampai ke ubun ubun. Setelah memergoki kakak sepupunya, bocah kecil itu malah pergi begitu saja.
"Gimana itu, Mas? Si kembar lihat, aduh! Malu banget aku," keluh Namira terlihat bingung tapi juga gemas.
"Ya gimana lagi, aku nggak tahu kalau bocah itu bakalan masuk," jawab Julian sambil mengggaruk bagian kakinya yang tidak gatal. Dia juga jadi salah tingkah sendiri.
"Lagian ngapain pintunya nggak di tutup sih?" Namira malah melayangkan protesnya. Entah kenapa, karena adegan nikmatnya terganggu, ada sedikit rasa kesal dalam diri wanita itu. Julian pun bangkit dan beranjak menutup pintu. "Ngapain pintunya ditutup, orang udah ketahuan. Pintunya dibuka sedikit aja biar nggak ada yang curiga."
Julian menurutinya. Dia makin serba salah. Julian hanya mampu menunjukkan senyum lebarnya sambil celingukan. Suara tawa Namira malah pecah melihat tingkah suaminya dan meratapi kesialan yang baru saja dia rasakan. Julian kembali duduk di kasur yang sama dengan Namira cuma kali ini di sisi yang lain.
"Bisa bisanya ketangkap basah ama bocil. Nanti pasti bakalan gempar satu rumah kalau bocil buka mulut," dumel Namira.
"Ya maaf," ucap Julian karena dia juga bingung mau ngomong apa.
"Kenapa Mas Jul malah minta maaf? Nggak ada yang salah. Kita aja yang lagi apes," balas Namira. "Tapi ada sisi baiknya sih."
"Sisi baiknya? Apa?" tanya Julian melempar pandangannya ke arah istrinya.
__ADS_1
"Masa Mas Jul nggak ngerasa perubahan pada diri sendiri?"
Julian tertegun, otaknya berjalan memikirkan ucapan pada diri sendiri. "Oh iya, aku nggak terlalu panik lagi yah?" hehehe ..." ucap Julian sembari cengengesan.
"Nah, itu dia sisi positifnya, Mas Jul mengalami kemajuan."
Disaat keduanya sedang asyik ngobrol, dari arah luar terdengar suara motor Julian datang. Tak lama setelah itu dua wanita yang mengendarai motor Julian pun segara masuk ke kamarnya.
"Kalian ngapain aja sih? Beli satu barang aja bisa lama banget," sungut Namira agak sedikit kesal. Sedangkan Julian hanya diam sembari menerima barang yang dia pesan dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Nih, Safira pake ngajak beli ayam geprek yang baru buka. Terpaksa deh ngantri," adu Kamila.
"Emang kalian ke pasar, bawa duit berapa?" Tanya Namira sembari membuka bungkus berisi ayam gebrek untuk dirinya. Sedangkan untuk Julian berada di tempat terpisah.
"Bawa uang dua ratus ribu," jawab Kamila sambil cengengesan.
"Astaga, kalian ini! Bawa uang segitu masa aku debiin satu porsi doang," protes Namira.
Julian hanya bisa tersenyum lebar menyaksikan perdebatan kecil ketiga istrinya. Dia lebih fokus menyelesaikan pekerjaannya dengan pikiran yang indah indah. Tak butuh waktu lama, kamar yang dipakai Julian pun sudah terlihat rapi dengan dua kasur berjejet tanpa ranjang.
__ADS_1
"Wah! Kamarnya jadi lebih luas!" seru Safira sambil merebahkan tubuhnya. Dua istri Julian pun mengikuti apa yang dilakukan Safira. Sedangkan Julian masih setia dengan senyumnya dan memilih duduk dipinggiran kasur. "Eh Mas jul bentar lagi kan kamar ini nggak dipakai, kok malah dirombak sih?"
"Ya nggak apa apa, nanti kan kamar ini bisa digunakan untuk Sifa atau si kembar. Kasurnya kita bawa ke rumah baru," jawab Julian sembari sesekali manatap layar ponsel yang dia pegang.
"Oh iya yah," ucap Safira. "Terus nanti kita posisi tidurnya gimana? Mas Jul di sebelah sini dan kita di sebelah sana gitu?"
Julian tertegun. Dia terdiam sembari memikirkan jawaban untuk pertanyaan Safira. Namun sebelum Julian menjawab, istri yang lain malah memberi masukan.
"Percuma kalau konsep tidurnya seperti itu, tapi saat tidur tetap terpisah," protes Kamila.
"Terus enaknya gimana? Jadi satu gitu? Kamu kan tahu kalau suami kita kayak gimana?" balas Safira.
"Kalau Mas Julian mau sembuh ya dia harus mau dong, tidur berdampingan dengan kita bertiga. Kalau terus terusan terpisah, gimana mau sembuhnya. Benar kan?" balas Kamila lantang.
"Ah iya, benar. Gimana Mas Jul? Mau kan tidur berdampingan sama kita?"
Deg!
...@@@@@@...
__ADS_1