PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Sebelum Kenyatan Terungkap


__ADS_3

"Gimana penampilan Papah, udah rapi belum, Mah?" tanya seorang pria yang sedari tadi sudah beberapa kali melontarkan pertanyaan yang sama pada istrinya. Anak dan istri pria itu hanya bisa menggeleng pada pemimpin rumah tangga tersebut yang sedang mengalami rasa panik karena pekerjaannya.


"Pah, Papah nyadar nggak sih? Papah udah berapa kali bertanya seperti itu ke mamah?" sang anak yang gemas dengan tingkah ayahnya langsung saja melontarkan pertanyaan yang dia pendam sejak beberapa saat yang lalu.


Sang papah yang dilempar pertanyaan seperti itu langsung tersenyum lebar. Dia tersadar dari kekonyolannya sendiri. Pria itu lantas duduk di sebelah istrinya. "Hehehe ... maklumlah, Rey, papah grogi. Baru kali ini Papah akan bertemu klien dari seorang miliarder. Jarang banget kan Papah dapat kesempatan seperti itu?"


Anak muda yang bernama Reynan lantas tersenyum tipis. Tangannya meraih toples berisi kacang bawang dan memangkunya lalu dia menikmati isi dari toples itu. "Tentu saja Reynan ngerti, Pah. Semoga aja dari pertemuan ini jalan Papah nyari duit makin mudah. Biar orang orang tahu kalau keluarga kita adalah benar benar keluarga yang diperhitungkan kualitasnya."


"Nah bener itu, Rey. Biar orang yang mau berurusan dengan kita mikir mikir dulu. Kayak si Julian itu," si Mamah ikut bersuara. "Nanti siang jadi kan mediasianya? Mamah udah nggak sabar pengin lihat anak itu malu dan menyesal."


"Jadi, Mah, Papah nanti nggak lupa, kan? Sama acara mediasi itu?"


"Tentu saja tidak, Rey. Papah juga udah nggak sabar pengin menyeret Julian ke penjara karena sudah berani mencemarkan nama baik kita."


"Baguslah. Aku juga sudah nggak sabar," ucap Rernan dengan sangat yakin kalau dia sudah pasti akan menang, karena Reynan sangat yakin kalau Julian tidak memiliki apapun. "Tapi, Pah, kasus ini kok kayaknya cepet banget ditangani ya? Belum apa apa sudah disuruh mediasi saja."

__ADS_1


"Yang pasti itu karena Papah lah, Rey," ucap Suryo. "Meskipun Papah nggak minta, tapi para penegak hukum disini tahu siapa Papah. Mereka pasti sengaja memproses kasus kamu lebih cepat karena mereka menghormati Papah."


Reynan mengangguk beberapa kali. Menurut Reynan, alasan ayahnya sangat masuk akal. Suryo memang salah satu orang yang sangat dihormati oleh para pejabat dan kalangan atas di kabupaten itu. Tanpa mereka tahu, kalau yang mengatur semua itu adalah ayah dari anak yang akan keluarga Suryo hadapi.


"Maaf, Pak. Di luar ada Pak Rastam," ucap seorang asisten rumah tangga di tengah tengah obrolan keluarga tersebut.


"Suruh nunggu sejenak, Bi. Sebentar lagi saya akan keluar."


"Baik, Pak," ucap si Bibi dan dia bergegas keluar untuk menyampaikan pesan dari majikannya.


"Yah. Katanya dia pengin ngembangin usahanya, makanya Papah ajak dia untuk ikut," terang Suryo. "Ya sudah, Papah berangkat dulu ya? Takut orang Italia itu menunggu."


"Oke, moga sukses, Pah."


Setelah pamit kepada anak dan istrinya, Suryo bergegas keluar rumah menemui temannya dan lansung masuk mobil lalu tancap gas menuju ke lokasi pertemuan yang berada di sebuah hotel.

__ADS_1


Tak butuh waktu lama, Suryo dan Rastam kini sudah berada di tempat tujuan. Sebagai tokoh utama dari pembangunan proyek supermall itu, Suryo langsung menunjukan aura sombongnya pada tamu yang mengikuti acara tersebut. Apa lagi dari sepuluh tamu yang diundang, memang Nama Suryolah yang paling unggul disana.


Setelah menunggu cukup lama, akhirnya orang yang Suryo tunggu, hadir dalam acara pertemuan itu. Orang Italia yang sering disebut Suryo kini sudah berdiri bersama sang asisten diantara para tamu undangan.


"Aura miliarder memang beda ya? Aku aja yang paling kaya di kabupaten ini, seperti nggak ada apa apanya," gumam Suryo mengagumi wibawanya pria Italia tersebut.


"Terima kasih atas kedatangan kalian semua. Perkenalkan, saya Jhontra Volta, asisten dari Tuan Alonso Darwin selaku orang yang mengundang kalian datang kesini," dengan panjang lebar, Jhon memberi sambutan untuk mengawali acara pertemuan tersebut.


Semua tamu undangan cukup dibuat takjub dengan dua orang itu. Meski dalam pertemuan tersebut Alonso jarang sekali mengeluarkan suaranya. Mereka tidak menyangka kalau dua orang itu sangat fasih dalam menggunakan bahasa negara ini. Selain itu, setiap Alonso mengeluarkan suaranya, membuat siapapun yang ada di sana merinding karena aura yang dipancarkan Alonso.


Selama pertemuan tersebut, yang dilakukan Suryo tentu saja adalah cari muka. Selain itu Rastam yang jelas sekali bukan tamu undangan juga ikutan mengambil celah untuk bersuara dengan pejuh percaya diri. Dua orang itu dengan sangat percaya dirinya mengajak Alonso untuk bertemu kembali dan berbicara empat mata begitu acara pertemuan selesai Tentu Alonso jelas tahu siapa dua orang itu.


"Baiklah, nanti biar asisten saya yang mengatur jadwalnya."


Suryo dan Rastam tentu saja sangat girang mendapat kesempatan seperti itu. Tanpa mereka sadari ada sesuatu yang Alonso rencanakan untuk mereka berdua.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2