
"Kenapa Tuan senyum senyum sendiri? Apa Tuan sudah gila!"
Sebuah suara bernada ejekan terdengar menggema memenuhi ruangan serba putih. Seorang pria berusia empat puluh delapan tahun sontak menoleh ke sumber suara. Dari nada bicaranya jelas sekali kalau ejekan itu terlontar hanya untuk pria itu. Pria itu hanya mendengus lalu menyimpan ponselnya yang tadi sempat berbunyi karena ada pemberitahuan.
"Ada apa, Tuan? Apa ada hal yang sangat menyenangkan sedang terjadi? Sepertinya anda senang sekali?" tanya seorang pria yang tadi meledek pria yang sedari tadi terbaring di ranjangnya.
"Sepertinya putraku sangat menikmati hadiah pernikahan yang aku berikan," ucap pria yang terbaring itu. Wajah tuanya sungguh terlihat bahagia saat ini.
"Oh, karena Tuan muda Julian? Apa dia sudah menggunakan kartu milik anda?"
"Ya seperti itulah, itu adalah uang jajan dia yang aku kumpulkan selama bertahun tahun. Aku harap Julian bisa menggunakannya dengan bijak."
Pria bernama Jhon pun nampak manggut manggut. "Sepertinya Tuan Julian bisa melakukannya. Tapi kenapa anda malah menyembunyikan identitas anda? Harusnya anda memberi tahu siapa pengirim hadiah itu bukan?"
Ayah kandung Julian langsung tersenyum tipis. "Biarkan saja. Aku yakin, Sukma dan keluarganya pasti sudah berpikir kalau itu dari aku. Mereka tidak akan mungkin kabur lagi saat ini."
"Baiklah, terserah anda saja, Tuan. Yang penting pikiran anda senang agar anda cepat sehat dan menyusul istri dan anak anda."
"Itu adalah tujuann utamaku, Jhon."
__ADS_1
Dua pria tua yang usianya terpaut tiga tahun itupun larut dalam pembicaaan berbagai hal.
Sedangkan di tempat lain, keluarga Julian masih tak percaya dengan apa yang dilakukan pemuda itu. Mereka tidak menyangka Julian mendapat hadiah pernikahan yang tidak biasa bagi seukuran orang kampung.
"Aku pikir Blackcard cuma ada di dunia novel, ternyata memang ada kartunya," ucap Safira sambil menikmati hidangan laut yang mereka pesan. Ya, saat ini, Julian dan keluarganya sedang makan bersama disebuah restoran yang cukup mewah di ibu kota kabupaten tempat tinggal Julian.
"Kamu tahu kartu itu adalah kartu pembayaran tanpa batas dari siapa, Jul?" tanya Bibi Atikah.
"Dari Bank, Bi. Tadi sebelum aku ngajak pergi, aku kan ke Bank dulu. Aku pikir ini ATM, eh tahunya bukan," jawab Julian.
"Wah, kakakku sekarang jadi horang kayah. Berari tiap bulan aku dapat jatah nih," ucap Sifa dengan gaya sok imutnya.
"Enak aja, emang kamu siapa, minta jatah," tak sudi, wlee," balas Julian semberi menjulurkan lidah.
"Biarin," balas Julian tak mau kalah, lalu dia menoleh ke arah tiga wanita yang telah menjadi istrinya. "Kalian tidak ingin membeli sesuatu?"
Tiga wanita yang sedari tadi lebih banyak terdiam,langung saling pandang satu sama lain.
"Aku nggak tahu mau beli apa," jawab Kamila dengan wajah terlihat bingung.
__ADS_1
"Aku juga, belum ada rencana membeli sesuatu," Namira menimpali.
"Kalau aku sih pengin ganti ponsel, layar ponsel ku udah retak," jawab Safira dengan polosnya.
"Lebih baik untuk istri istri kamu, belanjanya besok aja. Saat kalian pergi bersama," usul Paman Seno. "Kalau sekarang waktunya nggak cukup. Kasian Dana Dini nanti."
"Benar," Bibu Atikah menimpali. "Kalian kan juga butuh waktu agar lebih dekat satu sama lain."
"Yang ada Mas Jul besok malah pingsan, hahaha ..." ejek Sifa sembari tertawa penuh kemengangan. Julian hanya mencebikan bibirnya tanpa berniat membalas ejekan adik sepupunya itu.
Sedangkan Bu Sukma sendiri lebih banyak diam dengan benak diselimuti rasa gelisah. Melihat sang anak mendapat hadiah yang sangat tak terduga, menjadikan hati Bu Sukma yakin kalau orang dari masa lalunya sudah berhasil menemukan keberadaanya. Mau tidak mau, Bu Sukma hanya menunggu waktu akan kedatangan ayah dari anaknya itu.
Setelah semuanya selesai, Julian dan keluarganya memilih pulang karena sudah cukup lelah. Sedangkan barang barang perabot yang Julian beli, kini sudah meluncur diantar oleh kurir menuju rumah barunya sesuai alamat yang ditujukan. Dengan di dampingi Satpam dan pegawai pemasaran yang sudah diberi kabar oleh Julian, kurir itu memasukan semua barang ke rumah julian. Kebetulan kunci rumah yang satunya memang dititipkan pada pegawai.
"Bukankah rumah itu yang kemarin dilihat oleh Julian ya, Mas?" ucap istri Samsul saat melihat dua truk nenurunkan barang perabotan di rumah Julian. Kurir itu ditemani petugas dan satpam yang jaga perumahan itu. "Apa Julian beneran beli rumah itu?"
Sang suami bernama Samsul lantas melongok dari jendela kaca rumahnya. "Nggak mungkinlah. Lihat tuh mobil pengirimnya dari toko apa. Masa Julian pindah rumah, barang perabotnya baru semua."
"Ah iya, benar. Nggak mungkin banget yah."
__ADS_1
"Ya iyalah nggak mungkin, uang dari mana dia," cibir Samsul.
...@@@@@@...