
"Mas,"
"Hum?"
"Coba kamu cium aku lagi?"
Julian sontak terkesiap. Wajah yang sesaat tadi sedang menunduk menahan malu, kini wajah itu menoleh ke arah sang istri dengan rasa terkejutnya.
"Jangan berpikir macam macam, dari gerakan tadi kamu menciumku, justru itu ada pertanda baik. Kamu bisa berpeluang untuk sembuh," ucap Safira lagi menyimpulkan hasil pemikirannya.
Bola mata Julian sontak berbutar. Pikirannya mencerna ucapan sang istri. "Tapi rasa panik itu masih ada. Lagian tadi aku nggak sengaja cium kamu. Aku juga nggak tahu caranya ciuman bibir kayak apa? Bukankah tadi hanya nempel doang?"
"Ya makanya dicoba," Safira mempertegas ucapannya. "Walaupun tidak pernah ciuman, tapi setidaknya kita pernah lihat orang ciuman kan? Atau kita nonton dulu video tutorialnya."
Julian sontak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sebagian hatinya seperti mengatakan kalau dia harus mau mencobanya, tapi sebagian hati yang lain seakan dicegah oleh rasa panik serta gugup yang terus mendera.
Tanpa menunggu persetujuan Julian, Safira langsung mengambil ponselnya dan memilih aplikasi pemutar video yang bernama plokploktube. Setelah memilih video yang cocok untuk belajar, tangan Safira bergeser sedikit agar Julian bisa ikut menyaksikan video tutorial cara berciuman yang baik dan benar. Mau tidak mau, Julian pun memilih ikut menontonnya.
__ADS_1
Karena cukup banyak video yang mereka tonton, hawa panas tiba tiba perlahan menyerang mereka. Sebab dari banyaknya video yang ditonton, kebanyakan menampilkan cuplikan yang menjurus ke arah adegan ranjang. Makin salah tingkahlah pasangan suami istri tersebut dibuatnya.
"Mau dicoba apa enggak?" tanya Safira agak tergagap. Dia bahkan tidak berani menatap sang suami karena malu dan bingung.
"Terserah kamu," jawab Julian tak kalah gugupnya. Hatinya berdebar tak karuan dengan tatapan yang mengedar ke segala penjuru ruangan.
"Ya sudah kita coba aja, kamu yang pilih videonya buat contoh," balas Safira sembari meletakkan ponsel di atas paha Julian dengan cepat.
Karena terlalu gugup Julian mengambil ponsel itu terus menaik turunkan layar ponsel dan memilih video secara acak. "Ini saja," tunjuk Julian sembari meletakan ponsel diatas kasur dengan memutar video yang dia pilih tanpa dilihat.
"Yakin video ini?" tanya Safira memastikan, Julian mengangguk dengan cepat. Safira yang sudah melepas kerudungnya sejak berada di kamar tadi, sontak menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Baiklah.
Julian terdiam dengan perasaan yang tidak karuan. Namun beberapa saat kemudian dirinya dibuat terkejut saat melihat istrinya bergerak ke arahnya dan mengangkat satu kaki hendak duduk dipangkuannya. "Kamu mau ngapain?" tanya Julian semakin merada gugup.
"Ya melakukan yang kayak di video," Safira menunjukkan video yang dipilih Julian. Betapa terkejutnya pria itu saat melihat yang video yang dia pilih.
"Serius ini pilihanku?" tanya Julian memastikan. Safira hanya mengangguk. Dia sendiri juga sangat gugup saat ini. "Tapi aku nggak harus lepas kaos kan?"
__ADS_1
"Ya terserah kamu, Mas. Nyamannya bagaimana," balas Safira. Padahal dia sendiri juga merasa tidak baik baik saja.
"Baiklah, mari kita coba," Julian akhirnya mengambil keputusan. Meski perasaannya seperti mau pingsan, tapi dia juga tidak mau mengecewakan usaha sang istri yang berusaha ingin menyembuhkan kelainan yang dideritanya.
Dengan membaca segala doa di dalam hati, kedua tangan Julian yang gemetar bergerak dan melingkar dipunggung istrinya, Safira sendiri melingkarkan tangan gemetarnya di leher sang suami. Mata mereka beradu, nafas mereka juga menderu. Perlahan tapi pasti Safira menggerakkan kepalanya. Kedua mata mereka perlahan terpejam dan tak butuh waktu lama, bibir Safira menempel pada bibir Julian dan mereka terdiam satu sama lain.
Hingga satu menit kemudian. "Kok bibir kamu diam, Mas?" protes Safira.
"Loh, aku kan nungguin bibir kamu yang bergerak duluan," balas Julain yang sempat kaget.
"Ya ampun, aku juga nungguin bibir kamu bergerak, Mas," balas Safira gemas. Dengan malu malu, mereka saling melempar senyum. "Ulang lagi ya?"
Julian mengangguk dengan cepat. Entah kenapa, rasa panik yang sedari tadi mendera, mendadak lenyap dan berubah jadi semangat karena adegan romantis yang sedang mereka lakukan. Secara tak sengaja Julian dan Safira menghirup udara dalam dalam, guna menetralisir rasa gugup yang bergemuruh di dada masing masing.
Tangan Julian masih melingkar di pinggang sang istri, begitu juga tangan Safira yang masih bertengger di leher suaminya. Dengan di awali segala doa sebagai penguat, Safira kembali mendekatkan bibirnya dan menempel pada bibir Julian. Untuk sesaat mereka terdiam, tapi tak lama setelah bersamaan, bibir keduanya serentak bergerak, dan ciuaman yang sesungguhnya berlangsung dengan sangat baik.
...@@@@@@...
__ADS_1