
"Dek."
"Hum? Apa, Mas?"
"Apa kamu mau membantuku?"
"Bantuin apa, Mas?"
"Ngetes aku masih gugup apa enggak."
"Caranya?"
"Bagaimana kalau kita ciuman?"
Mata Namira langsung membelalak. Ditatapnya pria yang sedang memandang ke arah lain. Pria itu nampak malu dan sepertinya sedang gugup.
Memang, butuh keberanian yang sangat besar bagi Julian mengatakan hal ini. Karena tekadnya untuk berubah sangat tinggi, Julian sampai memberanikan diri mengutarakan bantuan yang agak aneh. Biar bagaimanapun ketiga istrinya adalah motivasi bagi Julian untuk berubah.
"Ya coba aja kalau Mas Jul memang berani," Namira malah memberi tantangan. Meski terkejut, tapi Namira mengerti alasan dibalik ajakan suaminya.
Julian jelas merasa tertantang. Biar bagaimanapun dia laki laki. Ditatapnya wajah Namira dengan degup jantung yang berdetak lebih kencang dari biasanya. Julian pun menggeser duduknya perlahan mendekati sang istri hingga mereka berhadap hadapan.
__ADS_1
"Aku lihat video dulu ya? Karena aku nggak tahu caranya seorang laki laki yang menyerang duluan itu bagaimana?" pertanyaan polos yang keluar dari mulut Julian sontak saja membuat Namira langsung terkikik.
"Hihihi ... ada ada aja kamu, Mas! Ya udah sana lihat dulu," jawab Namira sembari menahan tawa.
Julian hanya bisa cengengesan sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia meraih ponselnya dan mencari video yang dia maksud. Setelah menonton beberapa video yang berisi cuplikan perang bibir, Julian sedikit mengerti tentang cara pria yang memberi ciuman terlebih dahulu.
"Kamu siap?" tanya Julian, Namira langsung mengangguk cepat. "Baiklah kita mulai."
Meski paniknya mulai menyerang, Julian terus mencoba bersikap tenang. Ditatapnya lekat lekat wajah sang istri. Kedua tangan Julian bergerak dan terangkat lalu menempel pad dua pipi istrinya. Setelahnya Julian mulai menggerakkan kepalanya secara perlahan.
Cup!
Julian berhasil menempelkan bibirnya. Sejenak Julian terdiam dengan dada yang berdetak kencang. Langkah selanjutnya Julian mulai menggerakkan bibirnya. Namira yang mengerti keadaanpun langsung mengimbangi permainan sang suami.
Meski gugup, Julian masih bisa memberikan senyumnya. "Lagi ya? mumpung yang lain belum pulang?" pinta Julian, Namira hanya mengangguk. Dia juga menikmati sentuhan bibir manis suaminya. Mendapat ijin dari sang istri, Julian langsung bergerak dan tidak menyia nyiakan waktu sama sekali. Dari yang awalnya duduk, posisi mereka menjadi terbaring dengan perang bibir yang semakin tak terkendali.
"Punya kamu tegang, Mas?" tanya Namira saat tanpa sengaja lututnya menyentuh sesuatu diantara kaki Julian yang tertutup celana pendek. Julian hanya mengangguk menahan malu. "Pengin mencoba yang lebih?" Julian langsung menggeleng. "Kenapa?"
Julian lantas bangkit dan duduk di tepi kasur. "Karena kalian masih ragu memiliki suami sepertiku."
Namira kembali dibuat terkejut. Dia juga langsung bangkit dan duduk disebelah sang suami. Tatapannya begitu lekat menatap Julian yang juga memandangnya. Dari tatapan Namira, Julian mengerti kalau wanita itu bertanya tanya.
__ADS_1
"Kalian masih ragu kalau aku tuh nggak menerima pernikahan ini. Karena aku tampan dan banyak uang, kalian takut aku akan membuang kalian jika aku sembuh nanti. Apa kalian memang tidak ingin menjalani pernikahan ini sampai ajal menjemput? Bahkan orang tua kalian saja berdoa dan berharap agar rumah tangga kita selalu berjalan dengan baik, meski mereka tahu aku memiliki tiga istri. Tapi kenapa kalian justru malah ragu?"
Namira terdiam. Dia menghirup nafasnya dalam dalam dan menghembusnya pelan pelan. Di raihnya tangan Julian dan digenggamnya erat erat. "Maaf jika ucapan kami menganggu pikiran dan mengecewakanmu. Kami hanya takut. Kamu tahu, yang menikah tanpa cinta saja bisa berpisah, apa lagi kita yang menikah tanpa cinta. Aku takut kamu ...."
"Tapi setidaknya biarkan aku belajar untuk mencintai kalian. Bukan membayangan tentang perpisahan. Kalian pernah bilang kalau kalian menyukaiku, ada rasa sama aku, lalu kemana rasa itu? Apa rasa itu bukan untukku lagi? Sehingga kalian selalu membayangkan sebuah perpisahan?"
"Tidak! Rasa itu masih ada. Kami masih sangat menyukai kamu makanya kami ingin kamu sembuh dari penyakitmu."
"Kalaupun rasa itu masih ada, biarkan aku belajar untuk membalasnya. Jangan ada pemikiran buruk tentang pernikahah kita. Biarkan aku belajar adil dan membahagiakan kalian."
Senyum Namira seketika merekah indah. Tentu saja dia akan memberikan apa yang Julian inginkan. Dia bergeser dan duduk dipangkuan Julian. Dua telapak tanganya menangkup pipi Julian dan dia menempelkan bibirnya sejenak. "Baiklah, aku akan memberimu waktu, Mas. Maaf jika ucapan kami menyingung perasaan kamu."
"Janji ya kalian harus memberi aku kesempatan?"
Namira mengangguk pasti. "Ya udah kita ciuman lagi ya?"
Kini Julian yang mengangguk senang. Selama masih ada kesempatan, mereka memanfaatkannya untuk melakukan perang bibir dengan sangat baik.
"Mas jul lagi ngapain sih? Kok Mbak Nami dipangku?"
Deg!
__ADS_1
Suara bocah seketika menghancurkan momen yang sangat indah.
...@@@@@@...