PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Rencana Kotor


__ADS_3

"Namanya Julian? Ganteng juga," ucap pria gemulai begitu mereka pulang dari rumah Julian. "Aku juga mau kalau cowoknya setampan itu."


"Tidak boleh!" tolak pria itu. "Itu bagian saya dan Reynan. Kamu jangan mengincarnya."


"Astaga! Pelitnya!"


"Hahaha ... sorry, San. Aku sama Reynan udah lama ngincer itu orang. Ya, kata gosip sih Julian itu sama kayak kita. Maka itu, aku butuh pembuktiaan aja."


"Pembuktian yang bagaimana?" tanya pria gemulai yang duduk dijok belakang.


Sebelum pria itu menjawab, mereka terlebih dulu turun di depan warung bakso lalu memasuki warung tersebut. Mereka seakan tidak peduli kalau pandangan orang orang yang melihat dua orang itu dengan tatapan janggal.


Siapapun orangnya pasti akan bertanya tanya saat melihat pria yang lumayan tampan dengan badan terlihat tegap dan atletis, berjalan berdua dengan pria yang cara berjalan dan tingkahnya mirip wanita. Apa lagi pakaiannya. Meski terkesan laki laki, tapi pakaian yang dia kenakan adalah pakaian kaum wanita.


Kedua orang itu memang tidak menunjukkan kemesraan. Tapi keakrabannya cukup mengundang tanda tanya besar bagi siapapun yang melihatnya. Apa lagi jaman sekarang, pria belok itu makin berkembang dan bukan hanya pria gemulai saja yang mengalaminya.


"Tapi kayaknya, Julian cowok baik baik dan lurus deh, Han?" ucap pria gemulai begitu duduk di salah satu sudut warung bakso itu. Tentunya mereka sudah pesan dua mangkok bakso beserta es tehnya begitu mereka masuk tadi.


"Tapi banyak yang bilang kalau dia tuh belok. Dia bahkan nggak pernah terlihat jalan sama cewek," ucap pria gagah yang akrab di panggi Lehan.

__ADS_1


"Nggak pernah lihat jalan sama cewek, bukan berarti dia belok juga kali, Han. Mungkin dia memang lagi nggak ada niat pacaran," balas pria gemulai sembari sesekali mengecek ponselnya.


"Astaga! Kamu ini nggak percayaan banget, San. Dia bukannya enggak ada niat buat pacaran. Julian memang tidak pernah niat pacaran sama cewek. Kamu kenal Kamila, sepupuku kan? Betapa cantiknya sepupu aku itu. Eh Julian tolak mentah mentah," jelas Lehan dengan nada pelan karena takut ada yang mendengarkan.


Tanpa mereka berdua sadari, percakapan mereka memang didengar oleh dua orang yang ada di balik dinding anyaman bambu warung bakso itu. Warung bakso itu menang terdiri dari dua ruangan yang tengahnya dibatasi dengan anyaman bambu hitam. Dua orang yang sedang menikmati bakso itu kaget bukan main mendengar obrolan dua pria dibalik mereka.


"Cewek secantik Kamila ditolak?" tanya pria gemulai itu dengan wajah terlihat sangat terkejut sembari menambahkan saus dan sambal ke dalam mangkuk bakso pesanannya.


"Iya, gila nggak tuh!" jawab Lehan antusias. "Yang lebih parah lagi, Kamila dikatain cewek murah meriah oleh Julian."


"Hah! Astaga! Parah!"


"Owalah, jadi itu alasan kamu memesan siomay sama Julian?" Lehan terlihat mengangguk. "Emang kapan kamu dan Reynan mau menjebaknya?"


"Malam minggu besok. Sekalian perayaan ulang tahun Reynan."


"Lah terus siomaynya buat apa? Kan tadi kamu tadi pesan banyak? Bukankah kalian ngerayain ulang tahun berdua doang ya?"


"Ahahha ... soal siomay, gampang itu mah. Yang penting aku dan Reynan bisa enak enak menikmati tubuh Julian."

__ADS_1


"Hahaha ... dasar maniak."


Betapa kagetnya dua orang yang sedari tadi mendengar percakapan dua pria yang ada dibalik dinding bambu itu. Selain kaget, mereka juga merasa jijik dengan rencana pria belok itu untuk menjerat mangsanya. Dua orang itupun segera beranjak dari tempat duduk mereka, karena kebetulan bakso yang mereka makan telah habis.


"Astaga! Apa mereka sudah gila? Mereka kan laki laki?" seru salah satu dari orang itu dengan wajah yang menunjukkan rasa tidak percaya dengan apa yang baru dia dengar.


"Hahaha ... dunia bentar lagi kiamat kali, Fir," balas temen orang itu.


"Terus aku harus gimana? Apa aku ngasih tahu Julian aja?"


Teman orang itu geleng geleng. "Buat apa, Safira? Bukankah Julian juga nolak kamu? Kenapa kamu peduli?"


"Wajarlah kalau aku peduli, orang aku masih suka sama dia," ucap Safira membela diri.


"Aduh, Safira, Safira. Cinta boleh, bodoh jangan. Ingat juga saat Julian nolak kamu. Apa dia peduli dengan perasaan kamu? Nggak kan? Terus kamu mau datangi dia dan ngasih tahu semua rencana orang itu, apa Julian bakalan percaya? Orang Julian lihat kamu aja langsung melengos kayak orang nggak kenal!"


Safira mendadak lesu. Apa yang dikatakan temannya memang benar. Akhirnya mereka pun memilih pulang.


"Aku harus gimana?" gumam Safira dalam hatinya.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2