PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Empat Bapak Berbicara


__ADS_3

"Jadi bagaimana bapak bapak?" tanya Pak Rt setempat. "Kita ambil jalur hukum atau kita nikahkan mereka saja?"


Sontak saja ke empat anak manusia yang sedang disidang langsung membulatkan mata mereka. Bagaimana mungkin mereka dihadapkan pada pilihan yang cukup sulit. Terutama bagi tiga wanita yang memang mendapat fitnah dari pria yang sekarang duduk di sebelah Pak Rt setempat.


"Lebih baik aku milih jalur hukum saja, Pak," ucap Julian. "Di sini aku yang paling dirugikan, udah ditipu oleh pria itu, dan aku dinodai oleh komplotannya."


Reynan yang sedari tersenyum merasa menang, sontak saja keberatan dengan keputusan Julian. "Kalau menurutku mending dinikahkan saja, Pak. Kalau lewat jalur hukum, maka akan lama prosesnya dan bisa saja mereka lolos dari jeratan hukum."


Reynan memang sengaja berpendapat seperti itu. Dia tidak mungkin akan membiarkan masalah ini lewat jalur hukum. Jika disediliki maka semuanya pasti akan mudah terbongkar dan Reynan tidak mau semua rencananya terbongkar.


Sedangkan Lehan, dia memang sengaja tidak menunjukkan wajahnya. Dia memilih bersembunyi karena merasa malu dan takut jika berhadapan dengan Kamila.


"Benar kan para bapak dan para ibu? Bukankah lebih baik mereka dinikahkan biar tidak ada zina lagi? Daripada lewat jalur hukum, tempat tinggal kita malah akan terkena imbasnya. Bukankah dosa zina yang terkena imbasnya bisa banyak orang, iya, kan?" Reynan berusaha memprovokasi warga, dengan berkataan yang sok suci. Cara yang dia lakukan pun cukup berhasil, Para warga mulai mengeluarkan suaranya.


Para bapak dari para tersangka hanya terdiam. Mereka tentu saja sangat syok dengan apa yang menimpa putri mereka. Meski mereka percaya sama anak anak, tapi suara mereka kalah banyak dengan suara para warga daerah itu.


"Tidak!" teriak Julian lantang. "Aku tidak akan menikah dengan mereka. Disini aku yang menjadi korban. Aku ditelanjangi saat tak sadar, aku dinodai, aku diperkosa... akhh!" Julian tak melanjutkan kata katanya karena terlalu frustasi. Sedangkan yang mendengar ucapan Julian malah banyak yang terkekeh.

__ADS_1


"Astaga! Laki laki dikasih enak kok malah nggak terima."


"Dia laki laki normal nggak sih? Masa diberi enak enak oleh wanita cantik, malah mau nuntut?"


"Baru kali ini ada cowok diperkosa. Hahaha lucu!"


Berbagai komentar mewarnai jalannya persidangan. Ketiga wanita yang menjadi tersangka hanya bisa terdiam dengan wajah frustasi, bingung dan sedih. Semua bantahan sudah mereka keluarkan. Bahkan saat safira sudah berkata kalau dia punya saksi, tapi hal itu dapat dibantah karena bukti yang terjadi. Menghilangnya Lehan juga menjadikan posisi tiga wanita itu semakin lemah. Sekarang para wanita memasrahkan semuanya pada ayah mereka.


"Sebelum mengambil keputusan? Apa saya boleh berbicara sebentar dengan bapak bapak para wanita itu, Pak Rt?" Paman Seno perwakilan dari Julian mengeluarkan suaranya.


"Tentu saja," balas Pak Rt. "Kalau pihak dari wanita itu setuju, silakan kalian membicarakan jalan yang terbaik untuk anak anak."


Setelah dipikir pikir sejenak, akhirnya ketiga bapak itu setuju untuk berbicara dengan Paman Seno. Mereka berbicara diruang yang disediakan Pak Rt setempat. Tepatnya rumah warga yang dipinjam Pak Rt


"Sebelumnya saya mewakili keponakan saya untuk minta maaf jika perkataan keponakan saya mungkin terlalu kasar, tapi mungkin masalah ini, memang berawal dari kesalahan keponakan saya, Julian," Paman Seno langsung berbicara pada pada intinya setelah basa basi sejenak saat para orang tua berkumpul.


"Berawal dari keponakan Bapak? Memang apa yang terjadi?" tanya salah satu Ayah dari tiga wanita itu.

__ADS_1


"Begini ..." Paman Seno lantas menceritakan keadaan Julian yang sebenarnya dan juga perlakuan kasar yang Julian kepada para wanita yang telah dia tolak. Meski begitu Paman Seno tidak menyebutkann ucapan kasar dari mulut Julian juga. Takut malah para orang tua nanti tidak terima dan masalah semakin runyam.


"Astaga! Kok ada kelainan seperti itu?"


"Ya begitulah," jawab Paman Seno. "Dan aku juga curiga sama si pemilik rumah. Karena sebelum hal ini terjadi, si pemesan siomay itu beberapa kali main ke lapak Julian. Maka itu sepertinya kita harus kerja sama untuk melepas anak anak kita dari fitnah mereka karena disini kunci utamanya ada pada Julian."


"Bagaimana caranya? Anak anak kita nggak cukup bukti?"


"Begini, bagaimana kalau kita ..." Paman seno membari usulan yang menurutnya paling masuk akal.


Kening ketiga bapak nampak berkerut. Sepertinya mereka sedang mempertimbangkan usulan Paman Seno yang memang masuk akal.


"Baiklah, aku setuju," ucap Ayah Safira yang pertama kali, lalu di susul oleh ayah Kamila dan Namira.


"Terima kasih Bapak bapak, kalau begitu mari kita sampaikan keputusan kita."


"Mari!"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2