
"Apa mungkin dulu ibu juga pernah mengalami tidak diterima oleh suami ibu? Makanya ibu berpisah dengan Ayah? Sepertinya aku harus bertanya pada paman. Aku penarasan dengan masa lalu Ibu dan Ayahku."
Mengingat akan nasehat yang baru saja dia dengar dari wanita yang sangat berharga di hidupnya, membuat Julian berpikir kalau dia memang harus belajar mendekatkan diri pada tiga istrinya. Seburuk buruknya Julian pernah bersikap, dia juga tidak mau namanya semakin memburuk karena dituduh tidak menerima istri istrinya.
Julian bangkit dari kamarnya dan berjalan perlahan dengan hati yang sangat berdebar. Di ruang tengah dia melihat Dana dan Dini sedang asyik menonton kartun. Julian menggoda mereka sejenak. Sedangkan Ibunya si kembar, sedang membereskan kamarnya.
Begitu sang Bibi selesai beres beres, Julian meninggalkan adik sepupunya menuju ke kamar dimana para istri berada. Dengan mengumpulkan segala kekuatan dan keberanian yang ada, Julian membuka perlahan pintu kamar dan memasukinya.
Ketiga istri Julian yang berada di dalam kamar tentu saja kaget saat melihat suami mereka masuk ke dalam. Secara spontan mereka langsung bangkit dari berbaringnya dan duduk dengan perasaan yang tidak karuan.
"Mas Julian mau tidur?" tanya Safira. Diantara ketiga wanita itu memang Safiralah yang terlihat paling kalem. Meski kadang dia juga bar bar, tapi tak sebar bar Kamila dan Namira. "Kalau mau tidur, biar aku keluar dulu."
"Tidak usah," jawab Julian cepat meski terdengar sangat gugup. Mata Julian mengedar ke sekitar kamarnya lalu melihat karung berisi amplop hasil sumbangan tetangga dan teman, serta beberapa tumpuk kado hadiah pernikahan. "Itu kado kenapa tidak dibuka?"
"Itu kan milik kamu, Mas jul," ucap Kamila yang agak kaku memanggil Julian dengan kata Mas. Dia teringat dengan panggillan Sifa yang memangggil Julian dengan kata Mas Jul, jadi Kamila memutuskan untuk mengikuti Asifa memanggil Julian seperti itu.
"Siapa bilang?" bantah Julian agak kesal. "Itu kan kado pernikahan kita. Kalian ini, ighh."
__ADS_1
"Iya iya, maaf. Ya udah kita buka kadonya sekarang," balas Kamila cepat cepat sebelum Julian menunjukkan taringnya. Kamila dan Namira beranjak dengan rasa malas mengambil tumpukan kado yang ada di pojokan antara ranjang dengan lemari dan menaruhnya di lantai kamar dekat kasur tempat para istri berbaring.
Dengan ragu, Julian duduk di lantai menghadap tiga istrinya. Jika boleh jujur, Julian sebenarnya ingin segera kabur karena perasaannya sudah tidak karuan seperti mau pingsan. Bahkan keringat mulai bercucuran membasahi kaos yang dia kenakan. Tapi demi bisa merubah keadaan yang lebih baik, Julian berusaha keras menahan rasa gelisah dan panik yang sangat luar biasa menyerang dirinya.
"Mau ngitung amplopnya dulu atau buka kadonya , Mas Jul?" tanya Namira.
"Terserah," jawab Julian gugup dengan mata memandang ke segala arah.
"Baiklah," balas Namira sambil mengusap usap dadanya dan menoleh ke arah dua wanita yang lain. Kamila dan Safira sontak menahan tawanya melihat reaksi Namira. "Sabar sabar," ucap mereka lirih sekali.
"Mending amplop dulu deh, penasaran dapat berapa?" usul Kamila sambil menjatuhkan salah satu karung yang berisi penuh dengan amplop.
"Padahal persiapan nikah cuma dua minggu, aku aja setengah karung nggak penuh," ucap Kamila.
"Berarti masih mending aku dong yah?" Namira menimpali. "Aku ada setengah karung amplopnya."
"Ya wajarlah, kamu kan orang pasar," dumel Kamila.
__ADS_1
"Apaan, belum tentu, aku aja orang pasar dapat sedikit," balas Safira.
"Hahha ... karena kamu kurang gaul, Fir," seru Namira.
"Asem."
Julian yang sesekali melirik keseruan tiga istrinya diam diam menyunggingkan senyum setipis mungkin. Sedangkan ketiga wanita yang ada disana, seperti mengangap Julian tidak ada, karena suami mereka diam seribu bahasa sedari tadi. Hingga tanpa terasa isi amplop telah terbuka semua.
"Diperiksa lagi, kali aja ada yang ketinggalan satu lembar," titah Kamila.
"Udah semua," balas Safira sambil memasukkan amplop belas ke karung yang tadi.
Sekarang uang hasil sumbangan sudah tertata rapi di antara satu mereka semua. Uang pun sudah dihitung dan hasilnya benar benar sangat lumayan.
"Waah, banyak banget! Uangnya mau diapain nih, Mas Jul?" tanya Namira sambil melihat Julian sedang membagi uang dalam beberapa bagian yang berbeda beda
"Yang ini buat buat keluarga aku. Ini buat keluarga kalian, dan sisanya buat kalian."
__ADS_1
"Apa! Kita?"
...@@@@@...