PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Tetangga Tutup Mulut


__ADS_3

"Permisi."


"Iya, ada apa, Mas?"


"Apa benar ini rumahnya Julian Alonso Darwin?"


"Benar, saya Julian, ada perlu apa ya, Mas?"


"Saya cuma mau menyampaikan kalau Bapak Julian disuruh ke showroom mobil saya, untuk memilih mobil yang paling mahal sesuai selera Bapak."


"Apa!" pekik semua orang yang ada di sana termasuk Pak Rastam. "Maksud kamu, Julian mau hutang mobil yang paling mahal? Belagu amat! Ntar jadi miskin lagi, mobil bakalan dijual," cibir Rastam, membuat panas telinga Julian dan tiga istrinya.


"Bukan, Pak," ucap orang dari showroom mobil. "Ini hadiah buat Mas Julian."


Pak Rastam terkesiap dan merasa malu seketika. Namun rasa malu itu segera dia tepis dan kembali mencibir Julian. "Oh, cuma hadiah? Lagian Julian mana mampu beli mobil. Paling juga mobil yang harga 100 jutaan. Wajarlah, rata rata hadiah mobil harganya segitu. Beda kalau membeli sendiri kayak saya. Punya saya aja sampai lima ratus juta."


Benar benar devinisi pria tua yang menyebalkan. Kalau bukan orang tua yang harus dihormati, mungkin julian dan ketiga istrinya sudah menerjang pria bernama Rastam itu.


"Emang di showroom mobil tempat kerja Masnya, harga mobil yang paling mahal berapa?" tanya Kamila.


"Ada beberapa macam, Mbak. Mau yang tiga miliar, empat atau lima miliar, terserah Mas Julian mau yang mana?" Jawab pria itu ramah dan kalem.


"Apa!" Pak Rastam memekik lagi dengan suara yang paling kencang. "Manamungkin? Mana ada orang yang mau memberi hadiah mobil dengan harga selangit?" Pak Rastam benar benar dibuat syok mendengarnya.


Pria dari showroom malah tersenyum melihat tingkah pria tua itu. "Benar, Bapak. Itu harga mobil yang disarankan untuk hadiah Mas Julian, " ucapnya, lalu dia menatap ke arah Julian. "Atasan saya menyarankan, mobil yang cocok dengan Mas Julian yaitu mobil yang seperti ini," pria itu menunjukkan sebuah brosur kepada Julian. Pak Rastam yang masih penasaran juga meminta brosur tersebut.


"Keren banget mobilnya, Mas Jul," puji Safira sembari. "Tapi sayang, nggak muat untuk empat orang." Pegawai showroom sontak tersenyum lebar mendengarnya.

__ADS_1


"Yang itu harganya, Mas?" Namira yang bertanya.


Sepuluh miliar, Mbak."


"Astaga!"


Rastam yang sudah tak kuat dan tak mau menanggung malu, memilih segera pergi ke rumah anaknya. Mendengar Julian mau mendapatkan mobil seharga miliaran, tentu saja membuat panas orang yang merasa paling kaya di kampung itu. Dia pun masuk ke rumah Samsul dengan menggerutu.


"Bapak kenapa? Baru datang kok ngomel ngomel gitu?" tanya Samsul yang baru saja keluar dari kamar."


"Nggak apa apa, Widia mana? Bapak ada perlu," tanya Rastam sembari menghempaskan tubuhnya di atas kursi.


"Lagi jemput Naura sekolah. Bapak ada perlu?"


"Ya iyalah. Widia akan Bapak suruh untuk mempersiapkan acaranya Minra dengan Reynan."


"Ya baguslah. Punya besan orang ternama harus istimewa penyambutannya. Biar warga kampung ini pada tahu siapa kita."


"Yayaya, baiklah."


Dari pihak Julian sendiri sekarang sedang berunding bersama ketiga istrinya tentang penawaran yang baru saja datang. Dia tidak langsung memilih mobil yang ditawarkan karena dia harus membicarakannya dengan istrinya terlebih dahulu. Pegawai showroom pun mengerti dan dia memilih undur diri.


"Mau yang mana, Mas? Bagus bagus semua ini loh?"


"Semua mobil baru ya bagus, Fir. Nggak ada yang jelek. Gimana sih."


"Hahha ... kok kamu jadi kesel, Nam? Tertular Pak Rastam ya?"

__ADS_1


"Hih amit amit. Orang tua kok gitu amat ya?"


"Iya, dikira orang paling kaya raya mungkin. Makanya langsung kabur begitu dengar harga. Nggak kuat menahan malu."


"Bisa jadi itu. Mungkin, harga rumahnya Pak Rastam lebih murah daripada harga mobil Mas Jul, jadi dia jantungan, hahaha ..."


Julian hanya bisa ikut tersenyum lebar mendengar percakapan ketiga istrinya sembari memandangi foto foto mobil yang disarankan untuk hadiah, dan sepertinya Julian sudah menjatuhkan pilihannya. Di saat bersamaan, Julian kembali kedatangan tamu di rumah di rumahnya.


"Eh mas budi, Mas Ferdi, sini masuk," ucap Julian setelah tahu siapa tamu yang datang. Dua pria itu lantas masuk dan duduk di sofa yang ada di rumah itu. Sedangkan ketiga istri Julian memilih pergi ke rumah sebelah setelah salah satunya membuatkan kopi untuk para tamu.


"Tadi saya ke rumah sana, Jul. Eh Julian katanya sudah pindah," ucap Ferdi.


"Iya, Mas Ferdi, mulai hari ini aku tinggal disini."


"Bagus juga rumahnya, kelihatan nyaman banget."


"Ya sudah pasti nyaman dong, Fer. Istrinya aja ada tiga. Hahaha ..."


"Hehehee, Mas budi bisa aja," Julian menimpali sambil cengengesan. "Kira kira, ada kabar apa ini, Mas?"


"Tentu saja kabar bagus, Jul. Kamu kapan mau melaporkan kasusmu?"


"Ya penginnya sih secepatnya, Mas."


"Ya udah, mending secepatnya kita proses, Jul. Kasih pelajaran tuh sama musuh kamu."


"Tapi buktinya?"

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2