PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Karma


__ADS_3

"Maksudnya apa, kamu melaporkan calon suami Mirna ke kantor polisi? Hah!"


Kening Julian sontak berkerut, tapi tak lama kemudian senyum Julian malah terkembang. "Jadi laporanku sudah di proses?"


"Maksud kamu apa? Hah! Kamu pikir orang tuanya Reynan akan diam saja? Ingat, Jul! Kamu bukan tandingan keluarga Reynan! Kamu cuma seonggok sampah yang bisa dia libas kapan saja."


"Loh, Pak Rastam ini aneh. Aku yang berurusan dengan Reynan, terus kenapa Pak Rastam yang marah? Kalau memamg Reynan tidak bersalah, ya udah minta hadapi saja. Reynan laki laki kan, Pak? Bukan ..." Balas Julian berusaha santai. Padahal hati dia juga bergemuruh. Ingin rasanya dia menghajar pria tua itu, tapi Julian memilih menahan diri. Biar bagaimanapun dia lebih mudah yang posisinya serba salah.


"Ya jelas tidak takutlah, cuma kamu nantinya jangan menyesal kalau kamu kalah dan justru kamu yang masuk penjara. Baru kaya sedikit aja belagu. Udah jelas jelas istrimu itu yang salah, laki laki kok lembek, mentang mentang anak haram jadi ..."


"SEKALI LAGI PAK RASTAM BILANG SAYA ANAK HARAM! JANGAN SALAHKAN SAYA KALAU BAPAK JUGA SAYA SERET KE PENJARA!" Julian langsung naik pitam. Siapapun yang melihat Julian berteriak penuh dengan rasa amarah, dibuat takjub saat ini. Ketiga istri Julian juga nampak panik dan berusaha menahan Julian agar bisa mengendalikan emosinya.


"Cih! Ngaca dulu. Kalau kamu bukan anak haram, lalu mana bapak kamu? Semua orang tahu, Jul. Sejak ibu kamu pindah ke kampung ini, dia nggak bawa suami. Di tanya suaminya mana, jawabannya nggak jelas."


"BRENGSEK!" amarah Julian semakin memuncak, dadanya kempang kempis dengan mata memerah. Dia hendak menerjang Pak Rastam tapi ditahan oleh ketiga istrinya dan juga beberapa tetangga.

__ADS_1


Pak Rastam juga diminta segera pergi oleh tetangga dan orang orang yang menyaksikan pertengkaran tersebut. Banyak pihak yang menyayangkan dengan sikap pria paruh baya itu. Mentang mentang dijuluki orang paling kaya sekampung, pria itu memang selalu seenaknya dalam bersikap.


Pak Rastam sendiri meninggalkan tempat itu dengan suara tawa penuh kemenangan. Dia merasa puas karena telah membuka aib dari anak yang menurutnya tidak tahu diri. Padahal dari awal Pak Rastam dan Julian tidak pernah terlibat konflik sama sekali. Semua yang terjadi diantara mereka karena aduan Mirna yang memutar balikan fakta.


"Sudah, Mas sabar. Nanti orang itu juga akan diam sendiri kalau tahu kebenarannya. Nggak perlu melawan orang seperti itu pake emosi," ucap Namira menasehati suaminya begitu mereka masuk ke dalam rumah atas nasehat beberapa warga.


"Gimana nggak emosi, Dek? Aku selalu dikatain anak haram, mana bisa aku terima begitu saja."


"Aku tahu, Mas. Semua orang juga nggak akan terima begitu saja kalau dihina. Tapi ya mau gimana lagi, mau membuktikan juga percuma kan? Yang ada dia akan semakin mencari celah untuk terus menghina Mas Jul."


Mendenngar dan mencerna ucapan ketiga istrinya tentu saja membuat Julian bisa lebih cepat tenang. Apa yang dikatakan mereka memang benar, melawan orang seperti Pak Rastam memang tidak perlu pakai emosi. Tinggal bersabar dan membiarkan waktu yang menjawabnya nanti.


"Sekarang aku jadi percaya kalau karma itu ada," Safira juga ikut membuka suara.


"Maksud kamu, Fir. Mas Jul kena karma gitu?" tanya Kamila.

__ADS_1


"Ya bukannya ngedoain sih. Tapi Mas Jul ingat nggak? Tanpa perasaan dulu ngatain kami kalau kami cewek murah meriah hanya gara gara kami bilang suka duluan?"


Deg!


Julian terkesiap mendengarnya. Tentu saja dia masih sangat ingat dengan perbuatannya yang seperti itu. Dulu dia juga menghina tiga wanita itu tanpa ada bukti yang jelas, dan sekarang Julian merasakan sendiri bagaimana sakit hatinya dituduh dan dihina tanpa adanya bukti.


"Kamu benar, Dek. Mungkin ini karma buat Mas," ucap Julian menatap ketiga istrinya. Sudah terlihat tidak ada emosi di matanya. Yang ada hanya wajah sendu seperti penuh penyesalan. "Ternyata sesakit ini ya, Dek, dihina dengan tuduhan palsu. Maaf."


Para istri Julian saling tatap sejenak. "Kami sudah maafin, Mas Jul, kok," balas Safira. "Walaupun aku sendiri masih ingat, bukan berarti aku nggak maafin Mas Jul. Itu hanya sebagai pembelajaran saja, kalau kita harus hati hati dalam bersikap."


Julian lantas tersenyum tipis. "Makasih, Dek. Mas sadar, semua tindakan kita ternyata akan berbalik pada kita sendiri, entah melalui orang yang sama atau orang berbeda. Sama seperti yang aku lakukan."


Ketiga istri Julian serentak menyunggingkan senyumnya.


...@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2