PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Setelah Menengok Rumah


__ADS_3

"Percuma lihat lihat, kamu nggak bakalan mampu beli rumah ini."


"Maksudnya, Mas?" tanya Namira dengan suara sedikit lebih kesal.


"Gitu aja masa nggak maksud, suami kamu tuh nggak bakalan mampu beli rumah disini. Berapa sih hasil dari jualan batagor dan siomay? Nggak bakalan cukup buat nyicil perbulannya."


Julian dan tiga istrinya sontak terkejut dengan ledekan yang mengandung hinaan dari pria yang dikenal Julian sebagai juragan sayur juga. Ketiga istri Julian hendak membalas dan mengatakan yang sebenarnya tapi mulut mereka terbungkam ketika Julian bertanya pada pria itu.


"Emang Mas Samsul tinggal disini juga?" tanya Julian dengan santainya. Sedangkan tiga istrinya justru malah gemas melihat Julian yang malah menanggapi orang itu.


"Iya, itu rumah aku. Cicilannya berat. Kamu nggak bakalan mampu. Apa lagi kamu memiliki tiga istri, nanti kamu malah jadi miskin," ejek pria yang dipanggil dengan nama Mas Samsul oleh Julian.


"Kalau aku ambil cicilan yang sepuluh tahun, perbulannya empat juta lebih lah. Baru mau setahun sih. Tapi aku yakin kalau aku itu mampu," jawab Samsul terdengar begitu angkuh.


"Aamiin, ya udah Mas Samsul. Kalau gitu kami mau pulang dulu," ucap Julian. Samsul hanya mengangguk dan menatap kepergian Julian sama istri istrinya. Dia lantas tersenyum sinis dan beranjak ke rumahnya.


"Tadi Mas Samsul ngobrol sama siapa di depan?" tanya seorang wanita yang kemungkinan adalah istri dari pria itu.


"Oh, si Julian, keponakannya Pak Seno," balas Samsul sambil duduk di sofa rumahnya. "Kesini kok cuma mau lihat lihat rumah saja, kayak nggak ada kerjaan."


"Yang jualan batagor depan sekolahan itu?" Tanya istri Samsul, dan sang suami hanya mengangguk. "Owalah. Hahaha ... mana mampu mereka beli rumah disini? Astaga!"


"Ya makanya, gaya banget pake lihat lihat rumah segala. Kayak nggak punya malu," cibir Samsul.

__ADS_1


"Ya kali aja, dia bakalan mau beli, Mas. Buktinya aja, dia dikasih ijin buat lihat lihat."


"Mana mungkin mampu, kita aja ambil cicilan paling murah segitu kan?"


"Hahaha ... benar juga. Lagian selain kita, orang orang sekitar sini nggak ada yang mampu beli rumah disini."


"Ya iyalah. Cuma keluarga kita yang mampu."


Dan yah, suami istri itupun makin larut dalam obrolan yang mengandung hinaan itu. Bukan hanya Julian yang menjadi bahan pembicaraan sepasang suami istri itu, tetangga rumah mereka juga menjadi bahan hinaan mereka.


Sedangkan tiga istri Julian sendiri ngomel ngomel terus sepanjang jalan pulang. Mereka sangat tidak terima dengan penghinaan yang baru mereka dapatkan. Sedangkan Julian sendiri tetap diam dalam langkahnya. Sesekali senyum tipisnya muncul saat mendengar ocehan para istri di belakang dirinya.


"Kalau orang tadi tahu, Julian tinggal di rumah itu karena gratis, bakalan kejang kejang itu orang," oceh Kamila dengan suara yang terdengar sangat kesal.


"Mas Jul, tadi itu orang mana sih?" tanya Safira dengan suara keras.


"Orang sini aja," jawab Julian singkat tanpa ekspresi.


"Owalah, pantas kenal Mas Jul. Gila! Omongannya pedas banget," seru Namira.


Karena jarak yang dekat, tanpa terasa, Julian dan ketiga istrinya telah sampai di rumaj mereka. Ke empatnya segera masuk.


"Gimana, Jul, rumahnya? Bagus?" tanga Paman Seno.

__ADS_1


"Ya baguslah, Paman. Namanya juga rumah mahal," jawab Julian sambil mendudukan dirinya di kursi dekat ibunya. Istri istri Julian yang tadinya hendak masuk ke kamar, tapi mengurungkan niat mereka, setelah ditegur dan diajak Bi Atikah untuk gabung dan ngobrol bersama keluarga Julian.


"Jadi kalian mau tinggal disana?" tanya Bu Sukma.


"Niatnya sih begitu, Bu. Biar rumah ini tidak terlalu sempit karena bertambahnya anggota keluarga baru," jawab Julian dengan alasan yang cukup masuk akal.


"Lagian kalau nggak di tempati nanti malah mubazir," Bi atikah menimpali. "Kamu tanya nggak Jul, rumah itu atas nama siapa?"


"Atas nama aku, Bi. Nanti surat suratnya diserahkan saat aku pindah kesana.".


"Kamu nggak tanya siapa yang membeli rumah itu?"


"Ya tanya, tapi yang tahu katanya atasan, pengusaha perumahan itu. Pegawainya nggak tahu sama sekali," jawab Julian. "Nanti, Ibu ikut tinggal di sana ya?"


"Nggak mau lah," tolak Bu Sukma. "Ibu tinggal di sini aja sama Dana dan Dini. Lagian di sana sepi."


"Ya bener, mending Ibumu disini aja," Paman Seno ikut menimpali. "Lagiankan jaraknya deket, jalan kaki juga sampai."


"Bener!" sambung Bi Atikah. "Biar pengantin baru saja yang tinggal di sana. Biar lancar malam pertamanya. Ibu kamu kan juga pengin nimang cucu."


Deg!


...@@@@@@...

__ADS_1


__ADS_2