PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Menengok Hadiah Bersama


__ADS_3

"Kebenaran tentang Reynan. Aku baru mengetahuinya tadi saat ada tamu di rumah."


"Oh, syukurlah kalau kamu sudah tahu kebenaranya," ucap Kamila agak lega. "Lalu apa yang akan kamu lakukan, Mas Jul? Apa kamu akan menceraikan kami setelah mengetahui kebenarannya?"


Julian sontak mendongak dan menatap tajam ke araha Kamila. "Kita baru saja menikah kemarin, kenapa malah membahas perceraian? Astaga! Kalian ini!"


"Tapi kan ..."


"Udah! Jangan banyak mikir macam macam! Di makan itu baksonya!" hardik Julian dan dia langsung keluar kamar, meninggalkan tiga istrinya yang melongo dengan sikapnya.


"Aku heran deh sama Julian, aneh tahu nggak?" tanya Safira sambil membuka isi kantung plastik dan mengambil satu bungkus bakso.


"Heran kenapa?" tanya Namira sambil mengikuti apa yang dilakukan Safira. Begitu juga dengan Kamila.


"Dia kan benci sama kita, tapi kenapa kalau ngomog soal cerai, dia langsung marah?"


"Iya juga ya?" ucap Namira. "Apa dia mau melampiaskan dendam sama kita?"


"Astaga! Dendam apaan?" tanya Kamila dengan suara sedikit lebi keras. "Gara gara kita ngejebak dia? Tadi kan dia bilang udah tahu yang sebenarnya."


"Bukan itu!" seru Namira gemas.


"Lalu?"

__ADS_1


"Apa kamu nggak sadar, dari awal, kan, dia memang benci sama kita. Kamu lupa?"


"Astaga! Hahaha ..." pekik Kamila dilanjut terbahak. "Iya yah? Kok aku lupa!"


"Apa mungkin Julian nantinya akan jatuh cinta sama kita? Kali aja dia kayak di novel online gitu, dari benci menjadi cinta," ucap Safira sedikit berharap.


"Hihihi ... kebanyakan baca novel kamu, Fir, jadi kebanyakan hallu," ledek Kamila. "Julian itu nyata, Safira! Jadi mana mungkin dia akan bucin sama kita."


"Ya kan kali aja ada keajaiban, mil."


"Hahhaa ... kebanyakan ngimpi gara gara novel kamu, hadeh!"


Entah kenapa tiga wanita yang harusnya bersaing memperjuangkan cinta mereka, kini malah terlihat akrab dan semakin dekat. Hanya karena mereka memiliki nasib yang sama, mereka dengan sendirinya menjadi begitu sangat dekat. Suara tawa mereka juga sesekali terdengar sampai keluar kamar, menjadikan siapapun yang mendengarnya ikut tersenyum, meski ada rasa heran juga.


"Sudah makan baksonya?"


Sang istri yang sudah selesi makan bakso pun menoleh. "Sudah, kenapa?"


"Ikut aku, kita ngecek hadiah rumah yang kita dapat," ajak Julian.


Sang istri mengangguk sambil mengiyakan, lalu dia melanjutkan langkah kakinya menuju dapur.


"Astaga! Sama istri kok dingin banget, nggak ada lembut lembutnya sama sekali," cibir Sifa yang sedari tadi memperhatikan Julian.

__ADS_1


"Dingin gimana? Biasa aja kali," balas Julian membela diri.


"Ya menurut kamu biasa aja. Menurut orang lain yang lihat, tentu nggak biasa aja. Masa sama istri ngak ada panggilan sama sekali. Adek kek, sayang kek, mamah kek. Ini malah lempeng aja kaya jalan tol," balas Sifa lagi. "Udah gitu sikap kamu juga kaku banget sama cewek."


"Diam kamu ah, bawel banget," hardik Julian sembari berdiri dan beranjak menuju ke depan rumah. Mendengar krtitikan Sifa entah kenapa menimbulkan rasa kesal dan malu secara bersamaan. Julian memiliih menunggu para istrinya di luar karena malas kalau diledekin Sang sepupu terus menerus.


"Ayo, Mas Jul. Jadi pergi nggak?" Julian lantas menoleh dan mengangguk.


Karena lokasi perumahannya sangat dekat, mereka cukup jalan kaki menuju lokasi. Lokasi rumah yang menjadi hadiah untuk pernikahan Julian letaknya tidak jauh dari lapangan yang tadi menjadi tempat berkelahinya para istri dan sekolah Asifa.


Sepanjang perjalanan, tidak ada pembicaraan yang serius antara Julian dan istrinya. Mereka saling diam karena merasa canggung dan malu berjalan bersama di siang hari. Di tambah lagi tatapan para tetangga, menambah rasa malu yang luar biasa.


"Ya ampun, Jul. Pengantin baru kok jalannya kayak kereta api, berbaris depan dan belakang. Mbok ya berdampingan loh, Jul," seru seorang ibu dari depan warung sembako.


Julian hanya menunjukan senyum canggungnya tanpa berniat membalas ucapan ibu itu. Bukan hanya satu orang yang meledek Julian, tapi ada beberapa orang hingga Julian dan para istri makin salah tingkah.


"Ini dia rumahnya, Mas Julian," ucap salah satu pegawai yang mengurusi perumahan di komplek itu. Julian dan tiga istrinya pun merasa takjub dengan rumah yang berdiri cukup mewah dihadapanya.


"Ini beneran dua rumah yang dijadikan hadiah untuk saya, Mbak?" tanya Julian sambil melangkah masuk menuju rumah yang menjadi miliknya.


"Iya benar, ada dua rumah, yang satu di sebelah rumah ini persis," jawab sang petugas dengan sangat sopan. "Kalau Mas Julian mau nambah satu atau duit rumah lagi juga silakan, Mas. Nanti saya tinggal bilang sama atasan saya."


"Hah!"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2