PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Predator Lawan Predator


__ADS_3

"Iya. Gini aja deh, mending Mas ngekos di tempat aku aja gimana? Tempatnya nyaman kok. Dia juga ngekos di tampatku."


"Mas boleh lihat lihat dulu, tempatnya dekat kok dari sini."


"Baiklah."


Dua pria itu langsung tersenyum miring. Sepertinya mereka berdua memang mendadak memiliki rencananya sesuatu. Atau mungkin sudah terbiasa melakukan hal itu. Dua pria yang memiliki hubungan terlarang itu sangat girang saat pria yang sedang mencari kost mau mengikuti saran mereka.


"Sepertinya rumahnya nyaman ya, mas," ucap pria pencari kost begitu mereka sampai di tempat tujuan.


"Menurutku sih nyaman, tapi kan selera orang beda beda, Mas," jawab si pemilik rumah. "Silakan lihat aja dulu. Aku akan buatkan minum."


Dua pria bernama Lehan dan Reynan lantas pergi menuju dapur meninggalkan sang tamu yang sedang diamati. Mereka berdua tampak begitu senang karena hari ini mereka akan mendapat mangsa yang sangat.


"Gila! Dia ganteng banget!" seru Lehan dengan suara pelan. Takut suaranya terdengar sampai keluar dapur. "Badannya busyet! Atletis banget!"


"Hahaha ... benar benar keberuntungan kita. Gimana kalau kita ngerjain dia sekarang? Mumpung ada kesempatan," ucap Reynan.

__ADS_1


"Obat tidur sama perangsangnya ada nggak?"


"Ada dong," Reynan langsung meraih dompet dan mengambil sesuatu lalu menunjukkannya pada pada Lehan.


"Keren! Udah, nggak pakai lama, kita lakukan saja." Tidak perlu berpikir banyak, Reynan langsung menjalankan rencananya. Tanpa mereka ketahui, tamu yang sedang bersamanya justru sedang mempersiapkan sesuatu yang akan membuat Lehan dan Reynan terkejut bukan main.


Sementara tak jauh dari rumah di mana Lehan dan Reynan berada, terlihat dua pria sedang tersenyum puas karena target mereka sudah masuk ke dalam perangkapnya. Dengan ditemani oleh kopi hitam dan pisang goreng, dua pria bernama Ferdi dan Budi ifu nampak sesekali memandang ke arah rumah target.


"Apa yang akan kita lakukan setelah mendapat bukti itu? Apa kita akan langsung menunjukkannya?" tanya Budi lalu menggigit pisang goreng yang tinggal separuh di tangannya.


"Nggak! Kita nunggu arahan bos kita. Biar nanti pengacara Julian yang bekerja," balas Ferdi.


"Hahaha ... maka itu, kita juga harus memanfaatkan pekerjaan kita ini sebaik baiknya. Mana lagi coba, ada pekerjaan seperti kita yang lakukan? Bisa ngopi, bisa ngapain aja tapi gaji gede. Belum bonusnya."


"Hahaha ...benar. Asal nggak berkhianat, segalanya bakalan lancar lancar aja ya?"


"Betul sekali."

__ADS_1


Kedua pria itu langsung terbahak bersama. Sedangkan di rumah target yang sedang mereka awasi, sepertinya orang suruhan kedua pria itu melaksanakan tugasnya dengan lancar. Karena matanya sudah tertutup oleh hasrat, Reynan dan Lehan tidak mengetahui kalau pria pencari kos itu adalah orang suruhan Budi dan Ferdi. Dia seorang pria bayaran profesional.


Di hari yang sama, Julian sendiri baru saja selesai mendaftarkan diri di tempat kursus mengemudi mobil yang ada di kota itu. Setelah itu, Julian pergi ke tempat pembuatan gerobag guna konsultasi tentang gerobag yang pastinya akan sangat dia butuhkan untuk usaha istrinya.


Begitu urusan gerobag selesai, Julian memilih kembali pulang ke rumah karena memang tidak ada tujuan lain lagi. Apa lagi dia berencana akan tidur di rumah Namira malam ini. Sepanjang perjalanan pulang, senyum Julian merekah begitu indah. Isi kepalanya sudah membayangkan malam panjang yang akan kembali dia rasakan dengan istri yang berbeda. Nikmatnya punya istri tiga ya seperti saat ini, bisa berganti ganti hubungan badan dengan mudah, ucap Julian dari dalam hatinya.


Tanpa terasa, waktu keberangkatan telah tiba. Setelah pamit kepada dua istri yang lain, Julian melajukan motornya menuju rumah Namira. Sedangkan Namira, duduk anteng di jok belakang sembar melingkarkan salah satu tangannya di pinggang sang suami.


Tak butuh waktu lama, keduanya kini telah sampai di tempat tujuan. Mereka di sambut baik oleh keluarga Namira. Namun tak jauh dari mereka, ada yang memandang tak suka dengan kedatangan Namira dan suaminya. Siapa lagi kalau bukan Bibi Munaroh dan anakya, si Vita.


Waktu memang berjalan terasa sangat cepat. Baru tadi sore, Julian dan Namira sampai. Kini malam telah menyapa mereka. Setelah puas berbincang dengan mertua sembari menikmati makan malam, Julian Dan Namira memilih langsung masuk ke dalam kamar. Padahal jam dinding baru menunjukkan pukul delapan malam lebih sedikit, tapi mereka lebih memilih istirahat di kamar dengan alasan lelah.


"Mas Jul lagi ngapain sih? Dari tadi kok di ajak ngobrol kayak nggak nyambung banget tanggapannya," protes Namira, karena Julian sedari tadi fokus menatap layar ponsel dengan memasang headset di telinga. Namira merasa heran karena tidak biasanya Julian bersikap seperti itu. Karena penasaran, Namira lantas mengintip layar ponsel suaminya. "Astaga! Malah fokus nonton film dewasa!"


"Hehehe ..." Julian cengengesan. "Buat persiapan malam pertama kita sebentar lagi, Dek."


"Apa! Sebentar lagi!"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2