
Brak!
"Eh copot! Eh copot! Eh copot! Yang bener dong, Mir, tutup pintunya! Bisa roboh rumahku nanti!" bentak seorang pria yang sempat terlonjak akibat ulah adiknya yang menutup pintu dengan kencang. "Kurang kerjaan banget."
"Ya elah, masa gara gara pintu, rumah sebagus ini bisa roboh, lebay banget sih, Mas," bantah sang adik tanpa rasa bersalah. "Lagian kalau roboh juga tinggal minta uang sama Bapak buat bangun rumah lagi."
"Enak banget kalau ngomong, emangnya nyari duit mudah apa," Sang kakak membela diri. "Ini tuh rumah cicilannya masih sangat lama, kalau rusak, Mas mu ini yang rugi."
"Makanya kayak Julian dong, Mas . Kontan. Jadi nggak pusing mikirin angsuran."
Mendengar sang adik yang terus melawan omongannya, membuat Samsul tersulut emosinya. Apalagi saat telinganya mendengar kalau dia dibandingkan dengan dengan tetangga barunya, emosi samsul semakin meninggi. Di saat samsul hendak meluapkan emosinya, sang istri terlihat keluar dari kamar.
"Kalian pada apa apaan sih? Bikin berisik aja, gangguin orang istirahat tahu!" hardik Widia, istri Samsul.
"Tuh si Mirna! Datang datang pake banting pintu segala," adu Samsul sengit.
"Abisnya aku kesel, istri istri Julian itu bikin sebal, baru jadi orang kaya aja belagu," cicit Mirna yang tak kalah kesal karena kejadian yang baru saja dia alami.
"Emang mereka ngapain kamu?" tanya Widia. Dengan emosi yang mengebu gebu, Mirna menceritakan segala yang baru saja terjadi pada diirinya.
__ADS_1
"Harusnya kan mereka tahu diri, ya? Mereka itu menikah karena terpaksa, dan sebentar lagi mereka bakalan dicerai. Eh malah maksa maksa Julian agar menolak aku," kata Mirna berapi api. "Pake ngatain aku calon pelakor lagi."
"Ya salah kamu juga sih? Udah tahu ada istrinya, nekad menemui dia," Widia malah menyalahlan adkk iparnya.
"Ya tadinya aku pikir itu Julian sendirian. Padahal kalau nggak ada istri istrinya, Julian pasti mau tuh sama aku. Tadi juga kelihatan banget kalau dia terpaksa menuruti istrinya," kilah Mirna dengan sangat percaya diri.
"Tapi Julian memang kaya raya sih," Samsul ikut berbicara setelah amarahnya reda. "Tadi pulang dari pasar, aku iseng tanya sama petugas pemasaran, katanya kios yang dibeli Julian kontan. Bayarnya aja nggak pake duit. Tapi pake kartu kayak atm itu."
"Kartu kredit? Wuih keren banget," puji Mirna.
"Nah makanya, Mir. Kamu harus berjuang lebih keras lagi buat dapatin Julian," Widia mengompori. "Mumpung belum banyak cewek yang tahu kalau Julian banyak duit."
"Tuh, kakakmu juga dukung. Apa lagi kamu tahu kan gosipnya Julian tuh banyak banget cewek yang suka, kamu jangan sampai kalah dengan mereka. Kamu harus gerak cepat," Widia kembali memanas manasi.
"Baiklah, kalian tenang saja. Urusan memikat hati pria itu sangat gampang. Aku yakin Julian akan secepatnya jadi milikku," ucap Mirna penuh dengan keyakinan.
Sememtara itu, pria yang menjadi bahan pembicaraan mereka, kini sedang asyik duduk bersama tiga istrinya di rumah baru. Pria itu masih sedikit malu dengan kemajuan yang baru saja dia tunjukan tanpa Julian sadari.
"Jadi sekarang kita naik pangkat nih, Mas?" ledek Kamila sembari senyum senyum ke arah suaminya dan istri yang lain.
__ADS_1
"Ya nggak apa apa kan? Kalau aku manggil Dek? Emang ada yang salah?" balas Julian tapi tatapan matanya malah memandang ke sembarang arah.
"Ya nggak salah sih, tapi masa matanya jelalatan ke mana mana? Kan yang dipanggil Dek ada dihadapan Mamas Julian," ucap Kamila dengan gaya menggoda.
Pria itu jelas terkejut karena para istri terang terangan sedang mengawasi gerak geriknya. Meski gugup, Julian mencoba menguatkan hati membalas tatapan para istri. Namun baru beberapa detik mata mereka saling pandang, Julian langsung memutuskan tatapannya karena tak kuasa ditatap para istri dengan tatapan meledek.
"Dahllah aku keluar dulu," ucap Julian lansung bangkit dari duduknya menuju pintu keluar. Sedangkan ketiga istrinya malah terbahak serentak melihat sikap salah tingkah Julian saat ini.
"Hahhaa ... suami kita lucu sekali," ucap Namira begitu Juliam hilang dari pandangan mereka.
"Hhaha ... benar," Kamila menimpali. "Baru kali ini lihat pria pemalunya akut banget."
"Aku juga heran," Safira ikut bersuara. "Eh tapi kalau Julian malu malu kayak gitu, apa mungkin dia berani melakukan malam pertama?"
"Malam pertama?" tanya Kamila, Safira mengangguk yakin. "Emang kalian sudah siap melakukan malam pertama sama laki laki yang tidak mencintai kalian?"
Deg!
...@@@@@@...
__ADS_1