PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Sedikit Perubahan


__ADS_3

Suasana Ramai dan seru benar benar terdengar menggema hingga keluar rumah. Seperti biasa, empat sekawan kalau sedang berkumpul pasti rumah menjadi semakin ramai. Empat pria yang keakrabannya makin berkurang karena kesibukan masing masing, terlihat tetap kompak setiap kali ada kesempatan berkumpul dan berbagi cerita.


Diantara ke empat pria muda itu, memang Julian yang paling tampan dan paling banyak penggemarnya. Namun meski Julian terlihat seperti pria idaman yang sempurna, nyatanya dia tetap manusia yang memiliki kekurangan. Bahkan kekurangan pada dirinya terlihat paling mencolok daripada tiga sahabatnya yang lain.


Beruntung, dia punya sahabat yang selalu membantu dia. Meski para sahabat juga suka membullynya, tapi Julian tahu itu bukan Bullyan untuk sengaja menyakitinya. Itu hanya candaan temannya.


Sama seperti detik ini, Julian menjadi bahan ledekan saat membahas soal malam pertama. Tapi dibalik ledekan itu, ada banyak nasehat yang terlontar untuk Julian dari tiga sahabatnya. Aneh memang, ketiga sahabatnya sendiri juga belum pernah merasakan malam pertama, tapi mereka malah memberi nasehat tentang malam pertama pada Julian.


Tanpa terasa kini petang mulai merayap. Dengan sangat terpaksa, empat pemuda itu berpisah dan kembali pada jalan hidup masing masing. Rumah mereka memang dekat satu sama lain, hanya beda Rt saja. Dengan jalan kaki, mereka sudah sampai ke rumah masing masing.


"Kok sepi, Fa? Orang orang pada kemana?" tanya Julian begitu sampai rumah.


"Kalau istri Mas Jul sih ikut Budhe ke masjid. Yang lain pada di kamar," jawab Sifa yang saat itu telah basah karena air wudlu.


Julian nampak manggut manggut dan ber-oh saja, lalu dia meneruskan langkahnya menuju kamar. Julian sedikit tertegun karena para istrinya sudah menyiapkan pakaian ganti di atas kasur. Julian segera meraih handuk dan bergegas ke ke kamar mandi.


Hingga beberapa puluh menit kemudian saat semuanya sedang berkumpul sambil menikmati santap malam.


"Kamu rencananya kapan mulai jualan, Jul?" tanya Bu Sukma.

__ADS_1


"Kapan ya, sebaiknya, Bu?" Julian malah balik bertanya.


"Seminggu setelah pernikahan aja, Jul," Paman Seno yang menjawab. "Nggak terlalu cepat dan nggak terlalu lama juga."


"Gitu ya? Baiklah," jawab Julian.


"Terus kalian? Kapan rencananya mau jualan lagi?" sekarang Bu Sukma bertanya pada tiga istri anaknya.


"Belum tahu, Bu," jawab Safira. "Mungkin aku juga seminggu lagi jualannya."


"Kalau aku malah bingung, aku soalnya jualannya di rumah," Kamila ikut bersuara.


"Iya bener. Aku juga takutnya gitu," Safira menyahuti.


Julian yang mendengarnya hanya bisa diam. Dia tidak bisa menimpali ucapan tiga istrinya. Dia sedikit terkejut dengan kejujuran yang baru saja dia dengar dari mulut para istri.


"Gimana baiknya, mending nanti kalian bicarakan saja sama suami kalian, ya?" Paman Seno mengeluarkan nasehatnya. "Biar bagaimanapun sekarang kalian sudah berkeluarga. Belajarlah saling terbuka satu sama lain agar tidak ada masalah kedepannya nanti."


"Baik, Paman."

__ADS_1


Obrolan itu terus berlanjut kemana mana. Suasana hangat benar benar terasa di dalam keluarga itu. Hingga tanpa terasa waktu sudah beranjak menuju malam. Kini Julian sudah dalam satu kamar bersama tiga wanita cantik yang telah sah menjadi istrinya.


"Bagaimana kalau kalian pindah tempat dagang aja?" usul Julian yang duduk di pojok kasur atas. Sedangkan istrinya duduk di kasur bawah.


"Pindah tempat kemana?" tanya Namira. "Susah loh nyari tempat buat jualan. Apa lagi kalau udah punya pelanggan."


"Untuk jualan kerudung sama konter, kita bisa sewa kios. Sedangkan untuk jualan ayam, bagaimana kalau berhenti saja," usul Julian.


"Lah sewa kios gimana? Pasti mahal, Mas jul?" ucap Kamila. "Kita mana nggak ada duit."


"Kalau jualan ayam berhenti, aku jualan apa dong?" Namira pun ikut protes.


"Kamu kan jualan ayamnya gantian sama orang tua kamu kan? Mending dilepas aja. Kamu bantuin aku jualan batagor. Untuk urusan sewa kios. Kan bisa pakai uang aku. Maksud aku mengambil keputusan seperti ini tuh biar kalian aman gitu, tenang."


"Iya sih aku ngerti, tapikan tetap sewa kios itu mahal. Belum tentu juga penghasilan kita bisa nutup uang sewa," ujar Kamila.


Julian nampak terdiam. Apa yang dikatakan istrinya ada benarnya juga. Tiba tiba dia memiliki ide. "Gimana kalau kalian jualan batagor dan siomay aja. Nanti kita buka cabang."


Ketiga istri Julian langsung saling pandang terus menatap ke arah suami mereka dengan benak yang penuh tanda tanya. Lalu salah satu dari mereka bersuara. "Kenapa kamu jadi perhatian sama kami, Mas Jul? Apa kamu sudah mulai ada hati sama kami?"

__ADS_1


...@@@@@@...


__ADS_2