PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Hukuman Moral


__ADS_3

"Sampai kapan lihatin tetangga terus sih, Mas? Kalau mau bergabung ya sana, bergabung aja."


"Nggak sudi, aku gabung sama mereka. Norak. Gitu aja dirayakan! Awas aja, aku pasti bisa membalas perbuatan Julian. Emangnya dia doang yang bisa bikin malu! Aku juga bisa!"


Sang istri dari pria yang baru saja mengumpat dengan penuh rasa amarah itu menghirup nafasnya dalam dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Wanita yang akrab di panggil widia duduk di kursi yang ada di sana sembari menatap suaminya lekat lekat.


Widia tahu betul apa yang dirasakan sang suami saat ini. Malu dan penuh dendam, itulah yang sedang terjadi pada suaminya yang bernama Samsul. Apa yang menimpa suaminya tadi pagi di rumah Julian memang sangat memalukan bagi sang suami.


Namun dari kejadian tadi pagi membuat Widia sadar kalau keluarga sang mertua yang salah. Mereka membenci Julian tanpa alasan yang jelas. Entah karena Mirna yang sudah bersandiwara, atau mungkin karena Rastam yang tidak terima Julian lebih kaya dari dirinya.


"Emang apa yang akan Mas Samsul lakukan? Bukankah Mas Samsul sendiri juga sudah tahu pengaruh ayahnya Julian seperti apa?" tanya Widia dengan lembut.

__ADS_1


Pria bernama Samsul itu menoleh dan menatap istrinya, lalu duduk di kursi yang ada di hadapannya. "Apapun itu, yang penting aku bisa mempermalukan Julian. Nggak peduli sekuat apapun ayahnya. Yang penting aku bisa membalas perbuatan bocah itu," balas Samsul penuh kebencian.


Widia kembali menghembus nafasnya pelan pelan. "Yakin tidak peduli? Tadi pagi aja aku udah ngomong loh. Biarkan Mirna yang usaha untuk mendekati Julian. Mas nggak perlu ikut ikutan, tapi Mas malah nekat. Mas tahu kan, apa yang terjadi sama Bapak? Apa Mas mau juga diseret oleh ayahnya Julian lewat jalur hukum?"


Samsul terkesiap. Ditatapnya lekat lekat wajah sang istri. Otaknya bekerja, mencerna apa yang dikatakan wanita yang telah tujuh tahun menemani hidupnya. Memang yang terjadi tadi pagi itu karena dirinya yang terlalu bersemangat ingin memilkiki adik ipar yang kaya raya tanpa peduli dengan perbuatannya di masa lalu pada orang yang sama.


"Mungkin karena niat Mirna yang tidak baik, kita sebagai keluarganya jadi kena imbasnya. Apa lagi dari awal kita mendukungnya. Padahal waktu Julian miskin, kita aja nggak ngusik hidup anak itu. Kita kayak nggak kenal. Tapi saat dia memiliki rumah itu, baru kita mengusiknya hanya karena kita takut kalau kita tersaingi akan kekayaan kita. Namun nyatanya, harta kita memang tidak ada apa apanya dibanding dengan harta yang Julian miliki. Dia bisa bikin superMall, nah kita? Cuma punya empat kios doang. Jadi ya sudah jelas terlihat kalau apa yang akan Mas Samsul lakukan, bakalan sia sia saja."


Widia yang melihat suaminya terdiam, nampak mengulas senyum tipis. Biar bagaimanapun dia cukup malu dengan apa yang dilakukan sang suami tadi pagi. Maka itu dia tidak ingin menambah rasa malunya jika sang suami terus mengusik hidup Julian. Widia sadar, dia juga punya keluarga yang cukup terpandang di kampung asalnya. Dia tidak mau membuat malu keluarganya gara gara ulah keluarga suaminya.


Sementara di tempat lain, orang yang memilki masalah dengan Julian, juga sedang merasa ketar ketir saat ini. Selain ancaman pidana yang membayangi, amarah para tetangga yang merasa telah dibohongi juga menjadi ketakutan sendiri bagi keluarga itu. Lehan bersama kedua orang tuanya nampak terduduk dan menahan malu atas apa yang terjadi saat ini.

__ADS_1


"Coba jelaskan, Pak Tarmidi, apa sebenarnya yang dilakukan Lehan pada Kamila?" ucap Pak Rt setempat. Dia mewakili isi hati warganya yang penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi dulu.


Beberapa warga memang baru tahu kalau yang salah itu Lehan, tapi mereka tidak tahu salahnya dimana. Yang mendengar pidato Alonso saat peresmian hanya mengatakan ketiga istri Julian tidak bersalah serta hanya korban fitnah dan kasusnya akan di proses secara hukum. Makanya, mereka cukup kaget mendengarnya, hingga terjadi sidang seperti ini.


"Kalau kalian memang tidak bersalah, tidak perlu takut. Bukankah sebelum jalur hukum ditempuh, kalian sangat yakin kalau suami Kamila yang akan kalah? Tapi kenapa jalan ceritanya jadi beda begini?"


"Benar," seorang warga menimpali. "Apa yang sedang kalian tutupi? Kalau kalian tidak bersalah, kalian nggak bakalan diam kayak gini."


"Iya, Pak Tarmidi, mending kalian ngaku aja. Apa kalian beneran akan tetap menempuh jalur hukum? Berarti kalian siap malu dong."


Lehan dan kedua orang tuanya masih saja bungkam. Mereka sungguh tidak ingin para tetangga mengetahui aib yang Lehan alami. Namun diamnya mereka menjadi sia sia saat terdengar sebuah suara yang membuat mereka terkejut.

__ADS_1


...@@@@@...


__ADS_2