
Begitu pagi datang, lagi lagi Julian harus menahan rasa malu karena keramas di waktu subuh. Sebenarnya keluarga Namira tidak memberi ledekan atau komentar yang aneh aneh, tapi entah kenapa, mandi keramas di pagi hari menghadirkan rasa malu bagi pria itu. Padahal waktu masih lajang, Julian juga terbiasa mandi saat subuh tiba walaupun jarang. Tapi untuk kali ini, perasaan malunya menyeruak begitu saja.
Sambil menunggu sarapan yang sedang dibuat oleh istri dan ibu mertuanya, Julian memilih bermain ponsel dan duduk di teras rumah. Biar bagaimanapun Julian juga ingin tahu keadaan sekitar rumah istrinya. Warga yang lewat depan rumah Namira, banyak yang menoleh dan menyapanya. Julian pun dengan sopan membalas sapaan mereka.
Sedangkan di samping rumah Namira, ada wanita yang nampak terkejut melihat Julian berada di teras rumah sang istri. Padahal Julian sedang tidak menatapnya, tapi wanita itu malah salah tingkah sendiri. Dengan centilnya, wanita yang baru saja mengeluarkan motornya, langsung kembali masuk ke dalam rumah.
"Kamu kenapa, Vit? Meliyuk liyuk kayak cacing kena air garam?" tanya wanita paru baya yang merasa heran dengan tingkah anaknya.
"Itu, Bu. Di depan ada suami Namira," jawab wanita bernama Vita itu dengan wajah yang berbinar.
"Suami Namira? Ngapain dia mau kesini?" sang Ibu makin merasa heran. Lalu dia mendaratkan pantatnya di kursi yang ada di ruang tengah rumahnya.
"Ngapain dia kesini? Orang dia di depan rumah Pakde," balas Vita sembari duduk di tempat yang sama dengan sang ibu.
"Oh ... emang kenapa? Ya biarin aja lah, bukan urusan kita."
"Tapi kan aku juga pengin dapat suami seperti dia, Bu. Tampan, kaya. Lihat tuh Namira, udah nggak jualan lagi, tiap kesini pasti ngasih jatah sama Bude dengan uang yang banyak. Apa ibu nggak pengin punya menantu seperti itu?"
"Siapa yang nggak kepengin punya menantu kaya, Vit? Ibu pasti kepenginlah. Makanya kamu coba nyari cowok yang kaya raya."
__ADS_1
"Ngapain nyari, kalau udah ada di depan mata."
"Di depan mata? Kamu sudah punya calon?"
Vita lantas tersenyum. "Aku pengin jadi istri ke empatnya Julian, Bu."
Si ibu langsung terperangah. "Astaga, Vit! Kamu masih mau mengejar dia?"
"Iya lah, Bu. Aku penginnya sama Julian yang udah jelas terjamin. Nggak apa apa jadi istri ke empatnya, yang penting aku bisa hidup enak kayak Namira."
"Juliannya mau nggak punya istri empat?"
"Tahu ah, terserah kamu gimana. Yang penting jangan sampai bapak kamu tahu. Bisa perang nanti."
"Siap, Bu. Kalau gitu aku mau keluar dulu. Mau pendekatan," ucap Vita sembari bangkit dari duduknya dan beranjak keluar rumah dengan hati senang dan senyum yang merekah indah. Namun sayang senyum itu langsung pudar saat melihat pria yang dia inginkan sedang duduk berdua dengan istrinya. "Menyebalkan! Dasar tukang pamer!"
Di pagi yang sama, namun di tempat yang berbeda, terlihat seorang pria baru saja bangun dari tidurnya. Pria itu bangkit dari kasurnya dan duduk di tepi kasur itu. Kepalanya menoleh dan senyum miringnya mengembang saat melihat dua orang masih terlelap di kasur yang sama. Pria itu berdiri, meraih pakaiannya dan mengenakannya.
Setelah semuanya selesai, pria itu perlahan keluar kamar dan meraih tas yang tergeletak di atas meja dan mengambil ponselnya. Dia langsung menghubungi seseorang, setelah mengatakan sesuatu, pria itu bergegas pergi dari rumah itu. Namun sebelum pergi, pria itu mengambil beberapa barangnya yang sengaja dia pasang untuk memantau perbuatan dua orang yang masih terlelap di dalam kamar.
__ADS_1
Beberapa menit setelah pria itu pergi, dua orang yang masih terlelap, satu persatu mulai sadar dari tidurnya. Saat mata salah satu dari mereka terbuka, orang itu langsung terkejut karena pria yang semalam bersama mereka sudah tidak ada disana.
"Rey, Reynan, bangun! Ini sih Gio udah nggak ada."
Orang yang dipanggil Reynan pun nampak terkejut dan dia langsung membuka matanya. "Loh kemana dia? Apa dia sudah bangun?"
"Ya pasti sudahlah."
"Coba, Han, kamu keluar, mungkin dia lagi ditoilet."
Pria bernama Lehan lantas bangkit dan beranjak keluar kamar. Lehan tercengang karena tidak menemukan orang yang semalam mengahabiskan waktu bersama. Lehan pun kembali ke kamar guna memberi laporan.
"Sepertinya Gio udah pergi, Rey. Tas dan motornya tidak ada, gimana ini? Mana kita sama sama nggak pake baju lagi," Lehan mendadak panik.
Sedangkan Reynan hanya tersenyum tipis lalu dia duduk di atas kasur. "Nggak perlu khawatir. Dia tidak punya bukti apa apa tentang kejadian semalam. Justru kita yang punya bukti buat ngancam dia. Tenang aja, Lehan."
"Oh iya, benar juga. Hahaha ..."
...@@@@@@...
__ADS_1