PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA

PERJAKA YANG (Hampir) TERNODA
Sekamar Berdua


__ADS_3

"Gitu lah, Jul, si Namira. Apa apa selalu untuk Adit," celetuk Ibu mertua.


"Ya nggak apa apa, Bu. Mumpung Namira belum punya anak," si kakak yang menjawab. "Mungkin sebentar lagi Namira juga bakalan punya anak. Ya Nam ya?"


Namira tidak langsung menjawab. Secara spontan, dia menatap suaminya. Ternyata Julian juga sedang melakukan hal yang sama. Saat mata mereka bertemu, keduanya langsung tertunduk dan tersipu malu.


"Loh kok pada malah pada malu malu gitu!" seru suami dari kakaknya Namira. "Jangan bilang kalau kalian belum ..."


"Apaan sih, Mas Yitno!" Namira langsung angkat suara memotong ucapan kakak iparnya.


"Loh, emang aku mau ngomong apa?" Kilah Yitno sambil tersenyum meledek ke arah Namira dan Julian sampai membuat keduanya salah tingkah. Namira hanya mendengus sedangkan anggota keluarga yang lain malah senyum senyum meledek, membuat Narima merasa kesal. Sedangkan Julian, meskipun dirinya juga merasa malu, tapi dia mampu ikut tersenyum meski merasa canggung.

__ADS_1


Setelah makan malam usai dan obrolan keluarga berakhir, kini semua orang sudah berada di kamarnya masing masing. Yang paling terakhir masuk kamar adalah anggota keluarga yang laki laki. Karena terlalu asyik dan seru, Julian, Bapak Mertua dan suami dari kakak iparnya, tanpa terasa berbincang sampai menjelang malam. Di saat waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tiga pria beda usia itu langsung membubarkan diri dari obrolan serunya.


Julian agak ragu saat memasuki kamar Namira. Apa lagi dia melihat Namira sudah terbaring menghadap langit langit dengan mata terpejam. Awalnya Julian terdiam di dekat pintu, tapi tak lama setelah itu, Julian memberanikan diri melangkah dan duduk di tepi kasur tanpa ranjang itu.


Julian benar benar terlihat kebingungan. Rasa paniknya secara perlahan langsung menyerang dirinya. Untungnya disaat itu juga, Julian teringat ucapan para istri kalau dirinya bisa melawan rasa panik itu. Dengan segala daya dan upaya yang dimiliki, Julian perlahan merebahkan tubuhnya di atas kasur yang sama dengan Namita.


Berhasil. Setidaknya Julian bisa sedikit tenang karena memunggungi Namira. Julian sengaja berbaring miring membelakangi sang istri untuk mengurangi rasa gugupnya. Namun tak lama setelah itu, tubuh Julian menegang saat dirinya merasa ada tangan yang mendarat dipinggangnya. Rasa panik Julian kembali hadir menghantuinya.


Julian melirik ke arah pinggang. Tangan Namira ada disana, seperti sedang memeluknya. Tangan Julian bergerak dan meraih tangan istrinya dengan gugup. Setelah itu dia berusaha menyingkirkan tangan Namira. Saat tangan itu terangkat, tubuh Namira malah bergeser dan menempel di tubuhnya dan tangan wanita itu malah melingkar erat di pinggang Julian, membuat Julian kembali menegang.


Hingga beberapa menit berlalu, mata Julian tak kunjung terpejam. Namun ada yang aneh, rasa panik yang menyerangnya berangsur angsur menghilang saat tak sengaja dia memikirkan hal yang indah indah, salah satunya memiliki seorang anak.

__ADS_1


Julian mencoba merubah posisinya menjadi telentang hingga wajahnya kini sangat dekat dengan wajah sang istri yang sudah terlelap. Dipandanginya wajah terpejam itu dengan seksama. Secara tak sadar, senyum Julian terkembang tipis. Dengan segala kekuatan yang ada tangan Julian bergerak dan jarinya menyentuh pipi Namira.


"Tiga istriku sangat cantik, harusnya aku bersyukur. Bukan panik kayak gini," gumam Julian dalam hati. Julian terus memandangi dan mengusap wajah istrinya hingga rasa kantuk datang menghampiri. Tak lama kemudian, Julian harus menyerah melawan rasa ngantuk yang menyerangnya. Dia pun terlelap.


Waktu terus bergerak maju, hingga saat subuh tiba, Namira pun terbangun dan dia perlahan membuka matanya. Betapa terkejutnya wanita itu saat mata terbuka, kepalanya berada di dada Julian dan dia memeluk sang suami.


"Apa ini mimpi?" gumamnya. Dia mencubit pipinya sendiri. "Bukan mimpi!"


Namira memandangi wajah sang suami yang matanya masih terpejam. "Astaga! Dalam tidurpun Julian tetap tampan, heran aku."


Namira senyum senyum sendiri memandangi wajah suaminya, sampai beberapa saat kemudian dia menemukan ide yang bagus. "Mumpung ada kesempatan!" ucapnya dalam hati.

__ADS_1


Namira perlahan memajukan kepalanya dan mengecup pipi Julian cukup lama. Setelah puas dia perlahan bangun dan keluar kamar meninggalkan sang suami. Tanpa Namira sadari, ada bibir yang tersenyum setelah mendapat kecupan pertamanya dari seorang wanita.


...@@@@@...


__ADS_2