
Di rumah Namira sendiri saat ini sedang terjadi ketegangan. Benar benar kejadian ini adalah kejadian luar biasa dan sangat tidak terduga yang dialami keluarga Namira. Bahkan mungkin di dunia ini baru satu satunya hal ini terjadi. Sungguh kejadian yang tidak bisa dipercaya oleh orang waras dimanapun berada.
Bagaimana mungkin ada seorang gadis yang meminta kepada saudaranya untuk dijadikan istri dari suami sang saudara. Jelas ini kejadian yang sangat langka. Bahkan ibu dari si gadis itu sangat mendukung, sampai membantu sang anak untuk mewujudkan keinginanannya.
Tentu saja, apa yang dilakukan wanita bernama Vita itu demi bisa ikut menikmati harta seperti yang dirasakan sepupunya. Mendengar nama Julian, suami dari sepupu Vita yang ternyata seorang sultan, langsung menimbulkan hasrat dalam diri Vita untuk menjadi bagian dari keluarga Julian. Bahkan wanita itu rela mengajukan diri untuk menjadi istri keempat, asal bisa ikut menikmati harta Julian.
"Tolonglah, Mas, bantu ngomong sama Julian agar mau menikah dengan Vita," rengek Munaroh, ibunya Vita kepada kakaknya.
"Nggak, nggak, ada! Nggak mau aku. Memalukan!" tolak Ayah mertua Julian dengan tegas.
"Ya ampun, Mas. Cuma ngomong doang. Masa nggak mau? Julian pasti maulah nikah sama Vita?" Bibi Mun tetap ngotot.
"Astaga, Mun! Kamu itu punya malu nggak sih? Bukankah dulu kamu terang terangan menghina menantuku? Kenapa sekarang kamu malah kayak pengemis?" ucap Ibu mertua dengan suara yang jelas sekali terdengar sangat kesal.
"Itu kan masa lalu, Bude," balas Vita membela ibunya.
"Justru karena itu masa lalu, harusnya kamu malu," geram kakaknya Namira. "Sebenarnya kamu punya malu nggak sih, Vit? Bisa bisanya minta dinikahin sama suami sepupu sendiri."
"Loh, apa salahnya, Mbak? Cuma minta dinikahin, nggak dijadiin selingkuhan. Julian juga pasti bakalan mau."
"Ya udah sana ngomong sendiri. Ngapain ngomong sama kita. Pakdemu nggak bakalan sudi ngomong sama Julian."
"Kalian ini, mentang mentang Namira dapat menantu kaya, malah jadi sombong. Nggak bantu suadara sendiri," sungut Bibi Mun.
__ADS_1
"Ya wajarlah kalau kita nggak mau. Orang permintaannya nggak masuk akal."
"Udah yok, Vit, kita pulang. Kita buktiin aja kalau kita bisa ngomong langsung sama Julian. Baru punya menantu kaya aja sudah lupa sama saudara yang lagi susah." Ibu dan anak itu langsung saja pergi dengan perasaan yang sangat kesal.
"Ya ampun, Pak. Adikmu itu kok ya makin parah aja sih?"
"Nggak tahulah, Bu. Bapak Juga nggak ngerti."
"Ya udah Bapak sama Ibu jangan terlalu mikirin. Kita pikirkan aja acara syukuran besok. Ingat, orang tua Julian akan datang dan mereka bukan orang sembarangan. Kita harus menyambutnya dengan baik."
"Nah, iya tuh benar."
Dan keluarga Namira mulai merancang apa saja yang akan mereka lakukan esok hari.
Hingga waktu terus bergulir, acara pesta di kediaman Julian pun berakhir. Kini, setelah selesai membereskan sisa sisa pesta, Julian dan ketiga istrinya sedang merebahkan badan mereka di kamar utama.
"Mas Jul malam ini mau nyodok nggak?" tanya Kamila disela sela santai mereka.
"Kayaknya libur dulu, Dek. Mas Capek."
"Hihihi ... belum jadi presdir, udah capek aja. Gimana nanti kalau udah menjabat jadi presdir," ucap Safira. Semua yang ada di kamar pun ikut tertawa kecil.
"Nggak kebayang deh nanti sibuknya kayak apa. Pasti nanti Mas bakalan jarang nyodok kalian karena terlalu capek."
__ADS_1
"Ya jangan terlalu capek. Kan ada asisten sama sekretaris. Oh iya, Mas. Mas Jul nanti kalau jadi presdir, nyari sekretaris dan asistennya yang cowok aja ya?"
"Kenapa emang, Dek?"
"Takut aja Mas selingkuh. Buat jaga jaga."
"Dih! Pasti gara gara novel tuh," cibir Namira.
"Ya kan jaga jaga, Nam. Emangnya kamu mau, suami kita kegoda sama sekretarisnya?"
"Hahaha ... benar juga sih. Iya, Mas, usulan Safira benar tuh."
"Baiklah. Demi ketenangan hati kalian, Mas nurut aja."
"Terus, Mas, kelanjutan kasus Reynan gimana?"
"Ya kemungkinan sih akan berlanjut ke jalur hukum. Soalnya orang tuanya Reynan tadi nggak datang, kan?"
"Iya, orang tuanya Mirna juga. Pada nggak punya nyali mereka."
"Nah, maka itu, jalur hukum akan Mas tempuh. Biar mereka jera."
"Baguslah. Jadi bisa tidur nyenyak."
__ADS_1
Obrolan penuh kehangatan pun terus berlanjut hingga rasa ngantuk menghampiri mereka dan satu persatu dari mereka mulai memejamkan mata. Suasana kamar pun seketika menjadi hening.
...@@@@@@...